Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bamsoet Ketemu Ahok, Minta Ubah Skema Pemberian Subsidi Energi

Bamsoet mendorong pemerintah mempertimbangkan usulan Ahok terkait perubahan skema pemberian subsidi energi.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 19 April 2022  |  15:31 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. - Antara
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua MPR Bambang Soesatyo bertemu dengan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat mengunjungi Pertamina Integrated Enterprise Command Center (PIECC).

Dia mendorong pemerintah mempertimbangkan usulan mantan Gubernur DKI Jakarta itu terkait perubahan skema pemberian subsidi energi.

Ahok mengusulkan pola subsidi dari yang selama ini berbasis pada komoditas dan bersifat terbuka diubah menjadi yang diberikan secara langsung kepada orang yang tidak mampu. Ini juga telah diterapkan pada pemberian subsidi minyak goreng.

Bamsoet mengatakan bahwa harga jual BBM seperti Pertamax dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) selama ini jauh di bawah harga keekonomian.

Saat ini dipasaran, harga minyak RON 92 seperti Pertamax berada di kisaran Rp16.000. Pertamina menjualnya dengan harga di antara Rp12.500 sampai Rp13.000.

Ini membuat kalangan mampu mengalihkan bahan bakarnya dari Pertamax ke Pertalite yang disubsidi sekitar Rp4.500 per liter oleh pemerintah. Sementara untuk Solar, pemerintah memberikan subsidi hingga Rp 7.800 per liter.

Di saat yang sama, tambah Bamsoet, Kementerian ESDM melaporkan pemerintah harus bersiap mengeluarkan Rp320 triliun untuk subsidi kompensasi BBM dan LPG. Ini karena tren minyak mentah dunia yang terus naik.

“Penikmat subsidi tersebut, tidak seluruhnya berasal dari kalangan tidak mampu. Ditambah masih masifnya jual beli solar bersubsidi yang dilakukan industri. Menjadikan subsidi energi untuk BBM ataupun LPG tidak tepat sasaran,” katanya saat kunjungan dikutip melalui keterangan pers, Selasa ?19/4/2022).

Bamsoet menjelaskan bahwa jika subsidi tersebut diberikan langsung ke masyarakat tidak mampu yang menurut laporan BPS jumlah penduduk miskin per September 2021 sekitar 26,5 juta orang, akan memberikan efek ekonomi berganda/multiplier effect economy yang besar bagi peningkatan konsumsi rumah tangga.

Apalagi Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan mencatat sekitar 40 persen penduduk termiskin menikmati 36,4 persen dari alokasi subsidi energi. Sedangkan 40 persen penduduk terkaya malah menikmati hampir 40 persennya.

“BPS melaporkan pada September 2021, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 136,32 juta unit. Terdiri dari 115,29 juta sepeda motor, 15,8 juta mobil penumpang, 5,01 juta truk, dan 233,42 ribu bus. Tidak heran jika subsidi energi BBM terus menerus membengkak setiap tahunnya,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina ahok Bambang Soesatyo
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top