Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PPATK Dorong RUU Perampasan Aset Segera Disahkan, Ini Alasannya

Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset Terkait Dengan Tindak Pidana masih mandeg dan belum ada kelanjutannya.
Seorang Jurnalis mengambil gambar ruang Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) yang disegel oleh KPK di kantor pemerintahan Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/1/2022). Ruangan tersebut disegel untuk penyelidikan kasus terduga korupsi Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Seorang Jurnalis mengambil gambar ruang Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) yang disegel oleh KPK di kantor pemerintahan Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/1/2022). Ruangan tersebut disegel untuk penyelidikan kasus terduga korupsi Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya perampasan aset dalam kasus tindak pidana korupsi masih sulit dilakukan karena Indonesia belum memiliki payung hukum yang cukup. Rancangan Undang-Undang atau RUU Perampasan Aset Terkait Dengan Tindak Pidana masih mandeg dan belum ada kelanjutannya.

Analis Hukum Senior Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ferti Srikandi Sumathi mengatakan bahwa landasan hukum diperlukan dalam perampasan aset karena ada hasil tindak pidana yang sulit dibuktikan dalam penguasaan tersangka hingga tersangka meninggal.

"Jika tersangka meninggal ini menjadi sulit, akhirnya seringkali asset recovery menjadi status quo sehingga tidak dapat ditindak dengan proses perampasan aset oleh negara. Ini jadi urgensi perlu adanya regulasi nasional mengenai non-conviction base," kata Ferti dalam sebuah webinar side event C20, dikutip dari YouTube Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Selasa (8/3/2022).

Menurutnya, kendala dalam perampasan aset dapat diselesaikan jika RUU Perampasan Aset telah disahkan.

Adapun, RUU Perampasan Aset sudah diinsiasi PPATK sejak 2008 dengan mengadopsi ketentuan dalam The United Nations Convention Againts Corruption (UNCAC) dan konsep nonconviction Based Forfeiture dari negara-negara commonlaw.

Lebih lanjut, Ferti menyampaikan bahwa tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana asal dengan risiko tertinggi untuk dilakukan pencucian uang yakni dengan skor 9 atau maksimal.

"Nilainya sangat sempurna, dari tingkat ancamaan, kerentanannya juga tinggi dan jika terjadi pencucian uang dampaknya juga tinggi sehingga korupsi harus jadi atensi bagi Indonesia agar relokasi dari sumber daya, kebijakan, komitmen harus berujung pada pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi," ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper