Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ibu Kota Negara Nusantara, Ahok Kandidat Kepala Otorita?

Nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sempat disebut Presiden Jokowi sebagai salah satu kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara pada Oktober tahun lalu.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Januari 2022  |  06:47 WIB
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama. - Antara
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah telah memutuskan nama ibu kota negara di Kalimantan Timur adalah Nusantara. Nama Nusantara dipilih karena dinilai mewakili sejarah peradaban bangsa Indonesia yang cukup panjang.

"Saya baru mendapatkan konfirmasi dan perintah langsung dari Bapak Presiden yaitu pada hari Jumat. Jadi sekarang hari Senin, hari Jumat lalu, dan beliau mengatakan ibu kota negara ini namanya Nusantara," jelas Suharso pada rapat panja di gedung DPR RI, Senin (17/1/2022).

Awalnya, kata Suharso, nama dari IKN ingin dimasukkan saat penulisan Surat Presiden atau Surpres RUU IKN, yang diserahkan ke parlemen September tahun lalu. Suharso mengatakan alasan pemilihan Nusantara yaitu karena sudah dikenal sejak dulu dan sudah dikenal di lingkup internasional.

"Nusantara sudah dikenal sejak dulu, dan ikonik di internasional, mudah dan menggambarkan kenusantaraan kita semua, Republik Indonesia. Saya kira kita semua setuju dengan istilah Nusantara itu," ungkapnya.

Selain nama, jauh-jauh hari, pemerintah sejatinya juga telah menyiapkan desain awal pembangunan ibu kota baru yang nantinya dipimpin oleh gubernur yang diseleksi oleh Kepala Otorita Ibu Kota Negara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyinggung beberapa nama calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) antara lain Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Bambang Brodjonegoro, Tumiyana, hingga Azwar Anas.

"Namanya kandidat memang banyak. Satu, pak Bambang Brodjonegoro, dua pak Ahok, tiga pak Tumiyana, empat pak Azwar Anas. Cukup," ujar Jokowi, Oktober lalu.

Sekadar informasi, Kepala Otorita merupakan sebuah jabatan setingkat menteri yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan ibu kota baru dan menjadi hak prerogatif presiden untuk menentukan orang yang menduduki jabatan tersebut.

Profil Kandidat Kepala Otorita

Adapun, dari keempat calon kepala otorita tersebut. Berikut rekam jejak, prestasi, dan kontroversi dari masing-masing calon:

  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Sebelum menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo (Joko Widodo), pria yang dikenal dengan sebutan Ahok adalah Bupati Belitung Timur yang menjabat sejak Agustus 2005—Desember 2006.

Selanjutnya, Ahok menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta dan pada 14 November 2014 Ahok bersama Djarot Saiful Hidayat terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Pada Pilkada 2017, dirinya mencalonkan kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta, tetapi berdasarkan hasil Pilkada 2017 dia dikalahkan Anies Baswedan dan gagal menjadi petahana.

Tidak hanya itu, karier politik BTP harus meredup karena tersandung kasus penistaan agama. Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara karena kasus tersebut Pada 9 Mei 2017. Sebelumnya, pada Selasa, 27 September 2016, Ahok pidato di hadapan warga Kabupaten Kepulauan Seribu. Adapun, saat ini dirinya menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina.

  • Bambang Brodjonegoro

Bicara mengenai ibu kota baru, bisa dibilang tak lepas dari sosok Bambang. Dirinya memiliki peran penting dalam rencana pemindahan ibu kota baru terutama saat menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas.

Saat di Bappenas, Bambang kerap bali bicara mengenai pentingnya pemindahan ibu kota. Dalam beberapa kesempatan ia mengatakan pemindahan ibu kota sebagai salah satu upaya untuk memeratakan ekonomi. Sehingga, kegiatan ekonomi tidak hanya di Jawa.

Bambang Brodjonegoro adalah salah satu akademikus di Indonesia yang mempunyai karier politik cemerlang. Tercatat, dia pernah menduduki tiga jabatan menteri, yaitu Menteri Keuangan (2014-206), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (2016-2019), dan Menteri Riset dan Teknologi (2019-2021).

Sebagai akademikus, dia tercatat sempat menjadi salah satu guru besar dalam bidang ekonomi yang berusia muda dan pernah meraih penghargaan Madhuri and Jagdish N Sheth International Alumni Award for Exceptional Achievement 2020 dari University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC). 

  • Abdullah Azwar Anas

Abdullah Azwar Anas adalah mantan Bupati Banyuwangi selama dua periode. Adapun pada 2018-2019 dirinya ditetapkan sebagai kabupaten terinovatif oleh Kementerian Dalam Negeri. Banyuwangi juga menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang meraih nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP).

Untuk diketahui, Anas menempuh pendidikan S1 di Universitas Indonesia Fakutas Sastra (1994-1999) dan S1 IKIP Jakarta Fakultas Teknologi Pendidikan (1992-1998). Dirinya menempuh pendidikan S2 di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2002-2005.

Sebelum menjadi bupati, Anas tercatat pernah menjadi anggota MPR (1997-1999) saat itu ia adalah anggota MPR termuda yang dilantik, yaitu saat ia berusia 24 tahun dan anggota DPR (2004-2009).

Azwar Anas salah satu tokoh muda Nahdatul Ulama di Banyuwangi dan dikenal bupati yang membawa kemajuan bagi daerah tersebut, khususnya dalam bidang kebudayaan dan pariwisata. Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Banyuwangi pernah dinobatkan sebagai kabupaten terinovatif versi Kementerian Dalam Negeri.

Namun citra Azwar Anas sempat tercoreng saat dirinya hendak maju di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Penyebabnya, di media sosial beredar foto mesum mirip dirinya. Alhasilm dia memutuskan mundur dan batal menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur.

  • Tumiyana

Rekam jejak Tumiyana sendiri sebenarnya tak terikat langsung dengan pemerintahan. Namun, pria yang kini menjabat Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) itu banyak berkecimpung di perusahaan pelat merah, khususnya konstruksi.

Bagi orang-orang yang berkutat di bidang konstruksi, nama Tumiyana sudah tidak asing. Dirinya merupakan pengusaha asal Indonesia dan pernah menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk , Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan juga Komisaris PT Kereta Cepat Indonesia China.

Mengutip laman WIKA, Tumiyana menjadi Direktur Utama WIKA pada 24 April 2018 dan bertahan hingga saat ini. Pria kelahiran Klaten 10 Februari 1965 sebelumnya merupakan Direktur Utama PT PP Tbk.

Sebelum menjadi orang nomor satu di PT PP, Tumiyana menjabat sebagai Direktur Keuangan. Selain terkenal di kalangan BUMN, Tumiyana dikenal memiliki usaha peternakan dan pertanian yang juga sukses. 

Tumiyana meraih gelar magister manajemen di IPWI. Lalu, gelar sarjananya dirinya dapat dari Universitas Borobudur.

Lebih lanjut, di WIKA Tumiyana saat ini memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Salah satu proyek besar yang dikebut penyelesaian proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. WIKA merupakan anggota konsorsium bersama dengan beberapa perusahaan pelat merah lainnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nusantara ibu kota negara
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top