Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini 4 Momen Penting Indonesia di COP 26, dari Pidato Jokowi hingga Rencana Bill Gates

Indonesia menjadi salah satu negara Asia yang aktif dalam konferensi tersebut. Bisnis.com merangkum momen tersebut.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 08 November 2021  |  14:37 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato pada KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26, di Glasgow, Senin (1/11/2021) - BPMI Setpres - Laily Rachev.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato pada KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26, di Glasgow, Senin (1/11/2021) - BPMI Setpres - Laily Rachev.

Bisnis.com, JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perubahan iklim Conference of the Parties ke-26 atau COP 26 baru saja selesai dilangsungkan di Glasglow, Skotlandia, akhir Oktober lalu.

Indonesia menjadi salah satu negara Asia yang aktif dalam konferensi tersebut. Presiden Jokowi bahkan memberikan pidatonya dalam World Leaders Summit on Forest and Land Use.

Berbagi panggung dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Jokowi menegaskan perihal penyediaan pendanaan iklim dari negara maju bagi upaya mitigasi perubahan iklim.

Tidak hanya itu, di sela-sela konferensi, ada beberapa kesepakatan yang dijalan. Berikut ini rangkuman momen penting Indonesia di COP26:

1. Pidato Jokowi

Dalam sesi World Leaders Summit on Forest and Land Use, Jokowi dengan tegas menyampaikan komitmen dan konsistensi Indonesia untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Jokowi juga memaparkan kinerja Indonesia dalam hal tersebut.

"Indonesia juga telah memulai rehabilitasi hutan mangrove seluas 600.000 hektare di 2024, terluas di dunia. Indonesia juga telah merehabilitasi 3 juta lahan kritis antara tahun 2010 sampai 2019. Sektor yang semula menyumbang 60 persen emisi Indonesia akan mencapai carbon net sink, selambatnya tahun 2030," ujarnya dalam pidatonya.

Di sektor energi, Indonesia tengah membangun ekosistem mobil listrik, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Asia Tenggara, pemanfaatan energi baru terbarukan termasuk biofuel, serta pengembangan industri berbasis clean energy termasuk pembangunan kawasan industri hijau terbesar di dunia, di Kalimantan Utara.

Dalam pidatonya, Presiden juga menekankan bahwa Indonesia merupakan negara besar sehingga upaya mengatasi perubahan iklim juga membutuhkan dukungan dan kontribusi dari internasional, dari negara-negara maju.

"Penyediaan pendanaan iklim dengan pendanaan negara maju merupakan game changer dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang. Indonesia akan dapat berkontribusi lebih cepat bagi net zero emissions dunia," ujarnya.

2. Komitmen Bill Gates

Sementara itu, COP26 juga menyisakan kisah pertemuan antara para menteri ekonomi Indonesia - yang terdiri dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri BUMN Erick Thohir.

Dikutip dari laman Instagram Erick Thohir, kedua pihak berdiskusi mengenai isu perubahan iklim dan membahas minat Gates Foundation untuk bekerja sama dengan Biofarma dalam alih teknologi pengembangan vaksin mRNA.

"Rencana Biofarma sebagai Holding Farmasi BUMN untuk memproduksi vaksin Covid-19 mRNA pun kian mendekati kenyataan," urainya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/11/2021).

Menurutnya, usaha Indonesia untuk melakukan pengembangan vaksin di dalam negeri terus dipercepat.

Terlebih, teknologi vaksinologi yang semakin berkembang membuka peluang terciptanya jenis vaksin baru, vaksin nucleic acid, atau vaksin mRNA yang akan menjadi solusi mengatasi pandemi karena kemudahan produksi dalam jumlah besar dan berbagai kelebihan lain yang tidak dimiliki vaksin tradisional.

3. Pertemuan Pertama Jokowi dan Biden

Di tengah acara COP26, Presiden Jokowi menyempatkan diri bertemu Presiden AS Joe Biden di Scottish Event Campus (SEC), Glasgow, Skotlandia, Senin (1/11/2021).

Setidaknya ada empat hal yang dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut. Pertama, Indonesia menghargai kerja sama bidang kesehatan selama pandemi kedua negara.

"Mulai dari penerimaan stok vaksin melalui mekanisme 'dose-sharing', ventilator, obat-obatan teurapeutik, hingga alat kesehatan lainnya," kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan Indonesia tertarik untuk menjadi bagian dari rantai pasok global di bidang kesehatan melalui pembangunan industri kesehatan Indonesia.

Kedua, Presiden Jokowi menyampaikan pentingnya untuk memperkuat kerja sama ekonomi, terutama dalam pengembangan ekonomi hijau. Menurut Presiden, Indonesia dapat menjadi mitra kerja sama ekonomi yang andal.

Ketiga, terkait perubahan iklim, Presiden kembali menekankan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi karbon. Dalam sektor energi, Presiden Jokowi menyebut telah mencanangkan transformasi Indonesia menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau.

Presiden Jokowi mengajak Amerika Serikat untuk melakukan investasi energi baru dan terbarukan, termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai lithium.

"Saya harapkan dukungan AS melalui investasi yang mempercepat transisi energi, khususnya teknologi rendah karbon," imbuhnya.

Keempat, mengenai Presidensi Group of Twenty (G20) Indonesia, Presiden Jokowi sangat menghargai dukungan Amerika Serikat terhadap Presidensi Indonesia yang mengambil tema "Recover Together, Recover Stronger". Inklusivitas akan menjadi kunci Presidensi Indonesia tahun depan.

Pada masa presidensi, Indonesia ingin mendorong kerja sama konkret di sejumlah sektor utama, seperti memastikan transisi digital yang inklusif bagi pertumbuhan dan pembangunan, mendorong investasi, dan alih teknologi rendah karbon yang terjangkau, serta keuangan inklusif khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM), perempuan, dan kelompok rentan.

"Kita harus jadikan G20 relevan tidak saja bagi anggotanya, tapi juga bagi dunia, utamanya negara berkembang," ungkap Presiden.

Selain itu, kedua Kepala Negara juga melakukan tukar pikiran mengenai berbagai isu internasional, antara lain demokrasi, persoalan Myanmar, dan Afghanistan. Pertemuan kedua kepala negara tersebut berlangsung hangat dan bersahabat selama satu jam.

4. Exxon dan Pertamina

Perusahaan migas asal AS ExxonMobil dan PT Pertamina (Persero) menyepakati sebuah kerja sama setelah menggelar pertemuan di sela-sela perhelatan COP26 di Glasgow, Skotlandia.

ExxonMobil dan Pertamina meneken kerja sama pengembangan teknologi carbon capture and utilization and storage (CCUS) yang disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil I Menteri BUMN Pahala N. Mansury, dan Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Penandatanganan kerja sama Pertamina dan ExxonMobil Kembangkan Teknologi Rendah Emisi

Dalam kerja sama itu, Pertamina akan mengembangkan penerapan teknologi rendah karbon untuk mencapai net-zero emission dalam mempromosikan global climate goals.

Teknologi CCS diaplikasikan melalui penerapan proses injeksi CO2 ke dalam lapisan subsurface untuk diterapkan pada depleted reservoir di wilayah kerja Pertamina, serta mengkaji potensi skema hubs and cluster.

Pertamina dan ExxonMobil juga akan mengkaji data technical subsurface yang diperlukan untuk penilaian subsurface formation sebagai tempat menyimpan CO2 dan karakteristik di lokasi tertentu di Indonesia.

Kemudian, keduanya juga akan mengkaji data infrastruktur, termasuk data pipa, fasilitas, dan sumur untuk mengevaluasi penggunaan ulang infrastruktur yang ada untuk transportasi.

Aplikasi teknologi tersebut juga dapat diterapkan pada produksi blue hydrogen yang dikombinasikan dengan teknologi CCS. Aplikasi lainnya yang akan dikaji adalah CCUS, yaitu pemanfaatan CO2 yang akan diubah menjadi produk bernilai tambah dan penerapannya dilakukan di industri hulu dan hilir migas.

5. Komitmen Inggris

residen Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, di sela-sela pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26, di Scottish Event Campus, Glasgow, Skotlandia, pada Senin, 1 November 2021. Sebelumnya, kedua pemimpin negara telah melakukan pembicaraan melalui telepon pada 25 Oktober 2021 yang lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi dan PM Johnson sepakat untuk meningkatkan kerja sama bilateral kedua negara, terutama di bidang ekonomi. Presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia akan fokus pada kerja sama di bidang ekonomi hijau.

“Saya ingin memfokuskan hubungan kita pada kerja sama ekonomi hijau. Investasi hijau dan teknologi yang terjangkau adalah kunci transisi ekonomi,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, di sela-sela pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26, di Glasgow, Skotlandia.

Sementara itu, PM Johnson menyampaikan ketertarikan Inggris untuk melakukan investasi di Indonesia dengan prioritas untuk mendukung transisi ekonomi Indonesia. Kepada Presiden Jokowi, PM Johnson bahkan menyatakan pentingnya dukungan berupa investasi hijau, dukungan multilateral development banks, dan teknologi hijau yang terjangkau.

Oleh karena itu, Inggris, lanjut PM Johnson, akan mempersiapkan kredit ekspor yang dapat digunakan untuk mendukung kerja sama transisi ekonomi dengan Indonesia. Pertemuan bilateral kedua pemimpin negara tersebut akan ditindaklanjuti dengan pertemuan teknis guna membuat daftar kerja sama yang diprioritaskan serta model pendanaannya.

Komitmen PM Johnson ini sejalan dengan komitmen para investor seperti terlihat dalam CEOs Forum yang berlangsung pagi tadi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi pertamina bill gates Joe Biden COP26
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top