Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Covid-19 di Myanmar Melonjak, Relawan Bawah Tanah Ambil Peran

Sistem kesehatan di Myanmar melemah setelah kudeta militer karena banyak petugas kesehatan bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil untuk menentang junta.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 19 Juli 2021  |  12:45 WIB
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main

Bisnis.com, JAKARTA - Para sukarelawan di bidang kesehatan yang begerak di bawah tanah berperan penting dalam penanganan pandemi Covid-19 di Myanmar yang saat ini masih dipimpin oleh junta militer.

Aksi sukarela di antara warga Myanmar itu terjadi di tengah peningkatan kasus positif Covid-19 varian Delta dan juga kasus kematian akibat wabah tersebut.

Dilansir Channel News Asia, data Kementerian Kesehatan Myanmar menunjukkan kasus kematian akibat Covid-19 mencapai rekor, 233 orang pada Sabtu (17/7/2021). Namun, petugas medis dan layanan pemakaman mengatakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi, dan krematorium kelebihan beban.

Total korban tewas resmi telah meningkat lebih dari 40 persen pada bulan ini menjadi 4.769 dengan penyebaran varian Delta yang juga melonjak di sejumlah negara lain, di Asia Tenggara.

Salah satu sukarelawan Phoe Thar mengaku telah bekerja selama seminggu. Mahasiswa berusia 21 tahun itu mesti keluar pada subuh untuk mengumpulkan tabung oksigen dari rumah-rumah penderita Covid-19 di Mandalay, kota kedua Myanmar. 

Dia dan rekan-rekan sukarelawan berbaris di luar pusat pengisian oksigen untuk mengisi dan mendistribusikan kembali tabung tersebut kepada para pasien di negara yang sistem kesehatannya sebagian besar telah runtuh sejak kudeta 1 Februari 2021.

Didanai oleh para donatur via media sosial, Phoe Thar dan timnya adalah bagian dari upaya akar rumput yang berkembang yang melewati pihak berwenang dan menggemakan cara rakyat Myanmar menanggapi krisis selama beberapa dekade pemerintahan militer sebelumnya.

"Karena jumlah orang yang membutuhkan tangki oksigen sangat besar, ini merupakan tantangan besar bagi kami," kata Phoe Thar.

Otoritas kesehatan atau juru bicara junta untuk mengomentari wabah dan tanggapan publik. Seorang juru bicara junta mengatakan pekan lalu ada kesulitan dalam memerangi wabah dan mendesak orang untuk bekerja sama dengan pemerintah.

Surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah mengatakan menteri kesehatan, Thet Khaing Win, mengadakan pertemuan pada hari Sabtu "untuk mempercepat momentum" dalam menangani Covid-19 - termasuk melalui peningkatan pasokan oksigen.

Para pengkritik junta mengatakan banyak nyawa telah hilang karena pembatasan yang diberlakukan pada beberapa pemasok oksigen swasta atas nama penghentian penimbunan.

Sistem kesehatan di Myanmar sudah termasuk yang terlemah di kawasan itu kandas setelah kudeta karena banyak petugas kesehatan bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil untuk menentang junta. Vaksinasi, pengujian, dan tindakan pencegahan Covid-19 semuanya terhenti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

myanmar Covid-19

Sumber : Channel News Asia

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top