Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obyek Wisata Jembatan Kaca di China Pecah, Ahli Buka Suara

Obyek wisata jembatan kaca kini banyak ditemui di banyak belahan dunia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Mei 2021  |  06:57 WIB
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA — Angin kencang 150 kilometer per jam dilaporkan telah menyebabkan lantai jembatan kaca di kawasan wisata di luar Kota Longjing, China, ambrol sehingga mengakibatkan seorang turis pria terjebak hingga bergantungan pada handrail di ketinggian hampir 100 meter.

Bukan hanya di China, obyek wisata jembatan kaca kini banyak ditemui di banyak belahan dunia. Dari Tower Bridge di London, Inggris, sampai Grand Canyon Skywalk di Arizona, Amerika Serikat.

Peristiwa di Longjing menimbulkan pertanyaan, amankah jembatan-jembatan yang sengaja dibangun untuk menguji adrenalin wisatawan tersebut?

Ahli material di Sheffield Hallam University Paul Bingham mengatakan dirinya tidak memiliki keraguan untuk berjalan di atas sebuah jembatan kaca. Asalkan, dia menambahkan, tidak ada angin kencang yang bertiup hingga 150 kilometer per jam seperti yang terjadi di Longjing.

"Para desainer dan arsitek harus sangat hati-hati sebelum memutuskan menggunakan material kaca, tapi saya kira orang-orang tak perlu cemas," katanya dilansir dari Tempo.co, Kamis (13/5/2021).

Bingham menerangkan, kaca memiliki dua kelemahan sebagai material sebuah bangunan. Pertama, kaca padat tapi mudah pecah atau retak sehingga kalau sudah retak kekuatannya jauh merosot.

Kedua, kaca tidak memiliki kristal jadi sekali permukaannya retak akan sulit untuk menghentikannya.

Ada sejumlah teknik untuk menciptakan kaca yang ekstrem kuat. Salah satunya adalah kaca masa kini kerap dilapisi material lain, seperti polimer. Syaratnya, polimer yang dikembangkan harus memiliki indeks refkrasi cahaya yang sama dengan kaca itu.

Indeks refraksi yang sama penting saat cahaya datang menembus kaca itu. Lapisan polimer menjadi tidak malah mengganggu cahaya itu dan pelapisan menjadi tidak terlihat.

Kaca pada jembatan, lanjut dia, cenderung dilapisi polimer di bagian luar dan antar lapisan-lapisan kaca. Ada dua keuntungan yakni membuat kaca lebih kuat dan ketika retak atau pecah juga tidak akan menghasilkan pecahan yang tajam.

"Ini seperti mencoba mengisi sebuah mesin cuci dengan lebih banyak pakaian sekalipun sudah penuh," kata Bingham.

Runtuhnya lantai jembatan kaca secara teori bisa karena cacat pada kaca yang membuatnya retak atau membuat retakan menyebar. Akan tetapi, itu diragukannya karena dia yakin setiap jembatan kaca sudah dipastikan keamanannya.

Bingham lebih percaya dalam kasus Jembatan Longjin, angin kencang menciptakan tekanan yang terlalu besar yang bisa ditahan oleh kaca ketika orang-orang berada di atasnya. Di China, obyek wisata jembatan kaca memang dipenuhi wisatawan sejak negara itu menyatakan mampu mengendalikan penularan Covid-19.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata china jembatan london inggris

Sumber : Tempo.co

Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top