Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemendikbud Gandeng Industri Kaji Kurikulum SMK

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto menegaskan kepada kepala SMK bahwa kurikulum SMK harus siap setiap saat diintervensi oleh industri.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 21 April 2021  |  16:13 WIB
Ilustrasi - Antara/Hendra Nurdiyansyah
Ilustrasi - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengajak sejumlah industri untuk meninjau kembali kurikulum yang sudah diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan.

Pembahasan dilakukan untuk melakukan pengembangan kurikulum SMK berbasis link and match.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang 59 industri untuk melaksanakan kajian capaian pembelajaran kurikulum SMK.

Beberapa industri yang terlibat dalam kajian kurikulum ini antara lain PT Waskita Karya, PT Astra Internasional Tbk, ASPERINDO, PT IKI, PLN, PT Telkom, Djarum Foundation, dan PT Bank Muamalat Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto menegaskan kepada kepala SMK bahwa kurikulum SMK harus siap setiap saat diintervensi oleh industri.

“Inilah kurikulum yang ingin kita ciptakan bersama. Semoga dalam konteks input, proses output dan dan outcome ini benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri,” ujar Wikan, seperti dikutip dalam keterangan resmi Kemendikbud, Rabu (21/4/2021).

Wikan menyampaikan bahwa pengembangan kurikulum SMK ini tidak bisa lepas dari program link and match yang memuat paket 8+i.

“Paket komplet ini senantiasa melibatkan dunia usaha dan dunia industri [DUDI] di segala aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi,” jelas Wikan.

Adapun, paket 8-nya mencakup:

  • kurikulum yang disusun bersama dan berstandar DUDI
  • pembelajaran berbasis project riil
  • pengajar dari industri minimal 50 jam per semester per prodi
  • praktik kerja industri (prakerin/magang) minimal satu semester
  • sertifikasi kompetensi
  • training rutin pengajar oleh DUDI
  • riset terapan bersama DUDI, dan
  • komitmen serapan oleh DUDI

Sementara itu, +i adalah beasiswa atau ikatan dinas dari DUDI untuk peserta didik pendidikan vokasi.

Wikan menegaskan pentingnya passion anak dalam menentukan pilihan masuk SMK sebagai pilihan utama untuk menjadi orang yang ahli di bidangnya.

Wikan berharap bersama industri akan lebih memperkuat pola pikir visi calon peserta didik untuk memliih vokasi bukan karena terpaksa, tetapi harus sesuai dengan passion.

“Ini yang harus kita tingkatkan bersama industri, kita mendidik orang tua dan anak-anak generasi muda, milih sekolah itu passion, bukan karena gelar, bukan karena sertifikat tapi passion, tahu visi mau apa masuk SMK,” ujar Wikan.

Senada, Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud Anindito Aditomo juga menyampaikan Kemendikbud telah melakukan persiapan pengembangan kurikulum SMK dengan melibatkan DUDI sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

Beberapa perbaikan dan pengembangan kurikulum SMK ke depan di antaranya:

  • konteks mata pelajaran (mapel) teori/akademik menjadi vokasional
  • mata pelajaran (mapel) yang berdasarkan project based learning, ide kreatif, dan kewirausahaan diadakan selama tiga semester
  • prakerin/magang minimal satu semester

Selanjutnya, terdapat mapel pilihan, misalnya digital marketing, multimedia, bahasa asing, serta mapel berdasarkan logika dan teknologi digital.

“Selain itu, ko-kurikuler juga wajib diadakan dengan konten bebas yang dikembangkan oleh sekolah dan guru,” tambah Wikan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurikulum smk Link and Match
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top