Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Positif Covid-19, Dahlan Iskan: Awalnya Saya Tak Mau ke RS

Dahlan Iskan membagikan pengalamannya sebagai salah satu pasien Covid-19.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 16 Januari 2021  |  21:04 WIB
Mantan menteri BUMN Dahlan Iskan keluar dari mobil listrik prototipe Indonesia Seno yang dipamerkan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/5)./Antara - M Risyal Hidayat
Mantan menteri BUMN Dahlan Iskan keluar dari mobil listrik prototipe Indonesia Seno yang dipamerkan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/5)./Antara - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membagikan pengalamannya sebagai salah satu pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.

Dahlan, begitu dia disapa, menuangkan pengalamannya dalam catatan yang runtut dan panjang. Banyak kisah yang dia tuangkan dalam ceritanya tersebut. Mulai suka duka menjadi pasien hingga petemuannya dengan dokter Hanny Handoko.

Dahlan mengawali ceritanya saat belum dinyatakan positif Covid-19. Awalnya dia tidak mau masuk RS karena banyak yang bercerita di RS justru berbahaya. 

"Toh tidak ada keluhan yang berat. Hanya batuk-batuk kecil. Tidak demam. Sambal istri saya masih terasa pedasnya. Masih menitikkan air liur," tulis Dahlan dalam DI's Way,  Sabtu (16/1/2021).

Namun karena kedua anaknya memaksa dan memang kebetulan ada satu kamar baru kosong di RS langganan keluarga, dia tak bisa berbuat banyak. Singkat cerita Dahlan kemudian dinyatakan positif dan dirawat di rumah sakit.

Dahlan menceritakan selama berada di RS nyaris tak banyak kegiatan yang dia lakukan. Menurutnya dia langsung tidur begitu sampai di RS. Tentunya, sambil diinfus vitamin. "Jam 04.00 terbangun. Mau kencing. Saya lihat botol infusnya kosong. Saya hubungi perawat. Diganti infus baru dengan isi yang sama," jelasnya.

Pagi harinya, lazimnya seorang pasien, perawat mengecek kondisi badannya. Dia diperiksa mulai dari tekanan darah hingga suhu badan. Setelah itu, suster mencopot infusnya.

Segmen cerita yang cukup menarik dari rangkaian kisah Dahlan itu terjadi sewaktu dia bertemu dengan Dokter Hanny Handoko. Salah satu dokter ahli paru dari Unair, Surabaya yang pernah memperdalam ilmunya di National University Hospital (NUH) dan Tan Tock Seng Novena.

Percakapan antara Dahlan dan Dokter Hanny bermula dari rasa penasarannya tentang stetoskop yang digunakan dokter tersebut. Dia heran stetoskop yang digunakan di luar kelaziman.

Namun alih-alih bertanya, menurut Dahlan, dokter Hanny justru duluan bercerita. "Kita pernah bertemu di Malang," katanya. Lama sekali. Mungkin 20 tahun lalu.

Waktu itu dokter Hanny menjadi pejabat di bawah wali kota Malang. Sebelum akhirnya berlabuh di RSAL Surabaya dan sekarang di RS swasta. Setelah diperiksa, dokter bilang Dahlan kekurangan vitamin D.

"Aneh. Benar-benar aneh. Setiap hari saya olahraga satu jam. Di lapangan terbuka. Kok kekurangan vitamin D," katanya.

Dahlan bercerita, vitamin D-nya hanya 23,4. Padahal setidaknya, harus di atas 40. Artinya vitamin D-nya rendah sekali. Itulah sebabnya dia diberi vitamin D (tablet) 5.000.

"Mengapa tidak sekalian 10.000?," tanyanya.

"Kalau ketinggian nanti kasihan ginjal. Untuk memberi obat, dokter harus mempertimbangkan banyak hal," ujar dokter Hanny.

Di samping itu di Indonesia tidak dijual vitamin D di atas 5.000. "Di Singapura ada. Bahkan ada yang sampai 20.000," katanya.

Di Indonesia kalau memberi vitamin D 10.000 harus lewat suntikan. Kalau di Singapura suntikan bisa sampai 20.000. Bahkan 100.000.

Dokter Hanny lantas seperti menyindir saya. "Banyak yang berolahraga di bawah matahari tapi pakai topi dan kaus lengan panjang," katanya.

"Ha...ha...ha... Itu saya!," sergah Dahlan.

Sebelumnya pada Minggu (10/1/2021), mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dinyatakan positif Covid-19. Dahlan kemudian dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Kota Surabaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Dahlan Iskan Covid-19
Editor : Edi Suwiknyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top