Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kata Pengamat, Ini Makna Anies Unggah Buku 'How Democracies Die'

Yunarto Wijaya meminta mantan mendikbud itu lebih baik mengurusi pengerukan sungai. Pasalnya, Jakarta mulai diguyur hujan.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 23 November 2020  |  11:35 WIB
Gubernur DKI Jakarta Aneis Baswedan. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @aniesbaswedan
Gubernur DKI Jakarta Aneis Baswedan. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @aniesbaswedan

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah buku berjudul How Democracies Die. Pelbagai kesimpulan diutarakan oleh sejumlah pengamat di akun Twitter.

Pengamat Politik Burhanuddin Muhtadi tidak secara terang-terangan mengomentari unggahan tersebut. Dia hanya menjelaskan tentang bagaimana cara agar demokrasi tidak mati berdasarkan isi buku tersebut.

"Kata penulis ini, agar demokrasi tidak mati, politisi sebaiknya tidak membangun electoral base dengan mengeksploitasi apa yang Jeff Flake sebut sebagai “sugar high of populism, nativism, and demogaguery," tulisnya dikutip Senin (23/11/2020).

Sementara, pengamat Politik Yunarto Wijaya berseloroh tentang unggahan Anies Baswedan itu. Dia menyebut mantan mendikbud itu lebih baik mengurusi pengerukan sungai. Pasalnya, Jakarta mulai diguyur hujan.

"Pakgub lagi belajar cara membuat demokrasi mati? Mending urusin pengerukan sungai pak, mulai hujan mulu," tulisnya.

Buku How Democracies Dies setebal 320 halaman memaparkan bahwa kematian suatu demokrasi bisa tak disadari ketika terjadi selangkah demi selangkah, dengan terpilihnya pemimpin otoriter, disalahgunakannya kekuasaan pemerintah, dan penindasan total atas oposisi.

Apabila, ketiga langkah tersebut sedang terjadi di seluruh dunia, dan kita semua mesti mengerti bagaimana cara menghentikannya.

Dalam buku ini, dua profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menyampaikan pelajaran penuh wawasan dari sebuah sejarah untuk menerangkan kerusakan rezim selama abad ke-20 dan ke-21. Mereka menunjukkan bahaya pemimpin otoriter ketika menghadapi krisis besar.

Berdasarkan riset bertahun-tahun, keduanya menyajikan pemahaman mendalam mengapa dan bagaimana demokrasi mati; suatu analisis pemicu kewaspadaan mengenai bagaimana demokrasi didesak; dan pedoman untuk memelihara dan memperbaiki demokrasi yang terancam, bagi pemerintah, partai politik, dan individu.

Sebelumnya, Anies mengunggah sebuah foto sedang membaca buku How Democracies Dies di akun media sosialnya. Dia hanya menyapa masyarakat.

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," kata Anies, Minggu (22/11/2020).

Pada hari yang sama, sejumlah kalangan turut membagikan unggahan yang menunjukkan aktivitas membaca buku seperti Politisi Partai Gerindra Fadli Zon. Dia tergambar sedang membaca buku Demokrasi Kita karangan Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta.

Dari unggahan itu, Fadli Zon menyebut adanya kemiripan kondisi demokrasi saat era Presiden Soekarno dengan masa sekarang di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

"Saya baca ulang buku “Demokrasi Kita” karya Mohammad Hatta yang terbit 1 Mei 1960, 60 tahun lalu. Kok masih relevan dan keadaannya hampir sama dengan sekarang. Hatta kritik tajam pemerintahan Demokrasi Terpimpin yang otoritarian di bawah Presiden Soekarno. Buku kecil ini kemudian dilarang," tulisnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

demokrasi anies baswedan
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top