Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Dagang China-AS Tak Akan Segera Mereda, Ini Kata Eks-Menkeu China

Sulit bagi AS untuk memotong defisit perdagangannya, mengingat posisi dolar sebagai mata uang global yang dominan
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 November 2020  |  15:49 WIB
Ilustrasi - istimewa
Ilustrasi - istimewa

Bisnis.com, BEIJING - Konflik antara China dan Amerika Serikat di bidang perdagangan diprediksi tidak akan cepat mereda.

Eks-Menteri Keuangan China Lou Jiwei menyatakan hal itu, Jumat (13/11/2020) dalam sebuah konvensi di Caixin, Beijing.

Lou menyebutkan perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan China mungkin tidak akan mereda dalam waktu dekat, bahkan jika Joe Biden menjadi presiden AS.

Lou, yang sekarang sudah pensiun dan menjabat sebagai anggota badan konsultatif parlemen China, membuat pernyataan tersebut selama acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Caixin di Beijing.

Ditanya tentang prospek hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China setelah pemilihan presiden AS, Lou blak-blakan mengatakan apa yang akan terjadi. "Bahkan jika Biden terpilih, penindasan AS terhadap China tidak akan terhindarkan," ujarnya. 

Lou menyerukan pragmatisme dalam hubungan perdagangan AS-China. Lou mengatakan sulit bagi AS untuk memotong defisit perdagangannya, mengingat posisi dolar sebagai mata uang global yang dominan.

"Setelah empat tahun, defisit perdagangan [dengan China] masih melebar. Kita perlu kembali ke akal sehat dan kembali ke ilmu pengetahuan. Semua orang harus berakal sehat," kata Lou.

Pemerintahan Trump melancarkan perang perdagangan dengan China pada pertengahan 2018. Trump menuntut China melakukan reformasi struktural besar-besaran untuk membuka pasarnya dan membeli lebih banyak dari Amerika Serikat.

Sejak itu, kedua negara telah memberlakukan tarif yang memengaruhi barang bernilai miliaran dolar, menyebabkan guncangan parah pada rantai pasokan global.

Lou justru mengatakan dia akan sangat optimistis tentang hubungan perdagangan jika Presiden AS Donald Trump tetap menjabat.

Lou juga mengatakan sudah waktunya untuk mempelajari keluarnya China dari kebijakan moneter akomodatifnya, tetapi bukan dari strategi stimulus fiskalnya.

Wakil Gubernur Bank Rakyat China (PBOC) Liu Guoqiang pekan lalu mengatakan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan perubahan kebijakan ketika ekonomi pulih.

Namun, kata dia, bank sentral tidak akan bertindak tergesa-gesa, dan perubahan apa pun dibuat berdasarkan penilaian ekonomi yang akurat.

Lembaga-lembaga keuangan harus bertekad untuk mengurangi tingkat utang secara tertib dan mencegah pemulihan yang dipicu utang, kata Lou.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat Donald Trump perang dagang AS vs China Joe Biden

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top