Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ingat! Merokok Tingkatkan Risiko Covid-19

Bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kematian dan keparahan yang lebih tinggi dibanding pasien Covid-19 yang bukan perokok.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 10 November 2020  |  10:29 WIB
Ilustrasi asap rokok - Bisnis.com
Ilustrasi asap rokok - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Dokter Spesialis Jantung Vito Anggarino Damay mengatakan bahwa merokok dan menjadi perokok pasif bisa memperparah risiko terserang atau perburukan dari Covid-19.

Vito menjelaskan, salah satu gaya hidup yang bisa meningkatan risiko penularan Covid-19 dan penyakit tidak menular adalah merokok.

Selain seorang perokok harus melepas masker saat merokok, kebiasaan merokok beramai-ramai juga kerap tidak mengindahkan jarak yang aman.

“Ditambah lagi risiko virus yang masuk dari tangan yang memegang rokok pun masih ada. Lebih daripada itu, Covid-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru, sementara merokok merusak fungsi paru-paru dan menurunkan kekebalan tubuh,” kata Dokter Vito melalui keterangan resmi KPCPEN, Selasa (10/11/2020).

Dia menjelaskan, saat perokok terinfeksi Covid-19, lebih susah memerangi virus ini.

Bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kematian dan keparahan yang lebih tinggi dibanding pasien Covid-19 yang bukan perokok.

“Selain itu, yang paling kasihan perokok pasif. Karena mereka ini adalah bukan penikmat rokok tapi terkena imbas dari asapnya yang terhirup secara tidak langsung. Walaupun memang yang paling berat adalah perokok itu sendiri,” ungkapnya.

Pada asap rokok terdapat sel-sel radang yang menyebabkan kemampuan pertahanan tubuh berkurang. Sehingga saat terinfeksi virus dan penyakit-penyakit lain, lebih gampang terserang.

Merokok juga bisa menjadi pemicu seseorang terkena penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, dan kanker.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, risiko kematian Covid-19 lebih tinggi akibat adanya penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Hal ini berarti penyakit tidak menular bukan masalah ringan.

“Kuncinya kita harus tetap bergerak, karena saat kita bergerak imunitas bisa meningkat. Imunitas ini terdiri dari sel-sel kekebalan tubuh, yang lebih bagus saat sirkulasi kita lancar. Sirkulasi kita lancar tercipta saat kita bergerak dan aktivitas pompa jantung kita lebih baik,” terang Vito.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Brotasmoro mengimbau agar masyarakat memastikan bisa tetap produktif tetapi aman dari Covid-19. Tetap disiplin menerapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak aman minimal 1 Meter, dan mencuci tangan pakai sabun).

“Praktikan sebagai satu kesatuan, karena 3M ini satu paket”, tutup Dokter Reisa.

Seperti diketahui, wabah Covid-19 menuntut adaptasi berupa munculnya kebiasaan baru. Salah satunya dengan melaksanakan gerakan 3M secara disiplin.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahaya merokok Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top