Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Indonesia Takut Ekspansi ke Amerika Latin? Ini Kata Kemenlu

Indonesia hanya mencatatkan nilai perdagangan dengan Amerika Latin senilai US$7,81 miliar atau baru 0,36 persen.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 03 November 2020  |  17:59 WIB
Pekerja berada di depan peti kemas yang ditumpuk di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\n
Pekerja berada di depan peti kemas yang ditumpuk di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Kontribusi perdagangan Indonesia ke Amerika Latin masih sangat minim yakni di bawah 1 persen. Kendati dibayang-bayangi resesi, investor nasional dinilai tak perlu khawatir mencoba pasar non-tradisional seperti Amerika Latin.

Dirjen Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Ngurah Swajaya, mengatakan pemimpin dunia telah sepakat untuk terus mendorong kelancaran perdagangan meski nilai perdagangan dunia menurun.

Sejumlah stimulus yang dicanangkan pemerintah di berbagai negara untuk mendorong pertumbuhan tetap terjadi.

“Bukan karena ketakutan [resesi], tetapi karena lebih kepada adanya restriksi sehingga logistiknya terhambat. [Namun], dari tahun lalu adanya peningkatan minat baik dari pengusaha indonesia maupun di Amerika latin dan Karibia untuk menjajaki potensi yang sudah ada,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (3/11/2020).

Impor dari 33 negara di Amerika Latin pada 2018-2019 mencapai hampir US$1 triliun, sedangkan Indonesia hanya mencatatkan nilai perdagangan dengan Amerika Latin senilai US$7,81 miliar atau baru 0,36 persen.

Selain itu, Amerika Latin menjadi pasar yang sangat potensial lantaran PDB yang sangat besar yakni mencapai US$5,71 triliun dengan jumlah penduduk 646 juta penduduk.

“Ketika kita melihat struktur barang-barang yang diimpor, ternyata produk unggulan kita juga. Di Asean kita malah nomor 4. Kalau negara Asean bisa, kenapa kita enggak,” paparnya.

Dia mencontohkan, sektor pariwisata di Jamaika dan Bahama banyak diisi oleh impor dari China, padahal Indonesia juga memproduksi produk yang sama. Selain itu, kebutuhan untuk produk lain seperti produk makanan minuman dan obat-obatan juga masih terbuka lebar.

Tak hanya itu, pasar impor alas kaki yang mencapai US$4 miliar di Amerika Latin, Indonesia hanya mengisi 8 persen.

Salah satu langkah untuk menjembatani komunikasi antara pengusaha di Indonesia dan Amerika Latin, Kementerian Luar Negeri menggelar Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (INA-LAC) 2020 secara virtual pada 9 - 11 November 2020.

Hingga saat ini sudah ada 130 perusahaan Indonesia dan 106 perusahaan Amerika Latin dan Karibia yang mengakses situs INA-LAC.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan kemenlu amerika latin kementerian luar negeri
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top