Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aset Keuangan Asia Diproyeksi Tahan Guncangan Gelombang Kedua Corona

Hal ini dipicu oleh mulai tumbuhnya permintaan dari Asia, sementara Eropa tengah dibayangi gelombang pandemi Covid-19 yang memaksa sebagian negara melakukan lockdown kembali. Di sisi lain, AS masih dibayangi ketidakpastian terkait dengan stimulus tambahan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  12:52 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Saat bagian dunia lain bersiap atau tengah mengalami gelombang kedua infeksi Covid-19, dampak ekonomi di Asia kemungkinan akan terbatas.

Ahli strategi Credit Suisse mengatakan aset keuangan dari kawasan ini akan tetap tangguh.

"Saya pikir jelas Asia akan menjadi tangguh dalam menghadapi gelombang kedua di pasar maju di Barat," kata Dan Fineman, co-kepala strategi ekuitas untuk Asia Pasifik di bank Swiss, dilansir CNBC International, Kamis (29/10/2020).

AS mengalami lonjakan kasus virus Corona lagi dalam beberapa hari terakhir, sementara beberapa negara di Eropa juga mengalami lonjakan tajam lainnya.

"Kita perlu melihat perubahan pola konsumsi yang terjadi di Barat sejak pandemi Covid dimulai. Meskipun belanja jasa telah menurun di sejumlah negara saat pandemi melanda, kami telah melihat pergeseran pola konsumsi dari jasa ke barang, dan itu telah memungkinkan ekspor Asia meningkat dalam beberapa bulan terakhir," katanya.

Dia melanjutkan, selama pergeseran pola konsumsi di Barat berlanjut dari jasa menuju barang, sebenarnya guncangan ekonomi gelombang kedua Corona Asia di pasar Barat akan sangat terbatas. Fineman juga merekomendasikan negara-negara seperti Australia dan Singapura yang memiliki risiko pandemi yang relatif rendah.

Namun, Tai Hui, kepala strategi pasar Asia di J.P. Morgan Asset Management mengatakan akan ada risiko utang perusahaan jika tidak ada paket stimulus selanjutnya di AS.

Ketidakpastian masih membayangi Gedung Putih dan tidak jelas apakah Partai Republik akan dapat mencapai kesepakatan stimulus dengan Demokrat sebelum pemilihan.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa pembicaraan itu masih berlangsung meski telah melambat. Namun, Tai mengatakan pasar hasil tinggi telah memperhitungkan beberapa risiko gagal bayar. Dia mengatakan spread saat ini sudah mencerminkan beberapa dari kekhawatiran itu.

Jika ekonomi global bergerak ke pemulihan bertahap tahun depan, itu akan menguntungkan aset pasar negara berkembang serta utang perusahaan AS dan Eropa di sektor imbal hasil tinggi.

"Jika ekonomi global pulih secara bertahap pada 2021 dan 2022, itu berarti kinerja pasar negara berkembang kemungkinan besar naik. Anda cenderung mendapatkan dolar AS yang lebih lemah, yang biasanya merupakan kabar baik untuk aset pasar berkembang, baik itu pendapatan tetap atau ekuitas," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham asia Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top