Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Covid-19 di Inggris Meningkat, Boris Johnson Didesak Berlakukan ‘Circuit Breaker’

Partai Buruh dan ilmuwan berpendapat langkah pembatasan yang diberlakukan saat ini belum mampu meredam laju penyebaran virus corona.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  11:58 WIB
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson ketika memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson ketika memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kian mendapatkan tekanan untuk memberlakukan “circuit breaker” atau rem darurat dan lockdown secara nasional, setelah Partai Buruh dan ilmuwan pemerintah mengatakan langkah tersebut diperlukan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

Dilansir dari Bloomberg, Pemimpin Partai Buruh Keir Starmer memperingatkan pada Selasa (13/10/2020) bahwa pembatasan lokal tidak efektif dan menuntut penutupan di seluruh Inggris selama dua hingga tiga minggu.

Desakan tersebut menyusul tekanan serupa dari Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat Inggris menyerukan tindakan yang sama tiga pekan lalulalu.

Walikota London Sadiq Khan, yang juga berasal dari Partai Buruh, mendukung langkah tersebut. Ia mengatakan di Twitter bahwa lockdown secara nasional secara singkat akan memiliki dampak terbesar untuk memperlambat penyebaran.

Namun Johnson bersikukuh menentang lockdown secara nasional dalam pertemuan virtual dengan anggota Parlemen Konservatif melalui Zoom. Namun, dengan kematian akibat Covid-19 di Inggris melonjak ke level harian tertinggi sejak Juni, sejumlah pihak semakin khawatir bahwa sistem pembatasan tiga tingkat yang diberlakukan Johnson tidak akan cukup untuk mengekang penyebaran virus.

Starmer mengatakan sekolah harus tetap buka tetapi lockdown harus bertepatan dengan libur semester Oktober. Klub malam, bar, dan restoran diharuskan untuk tutup dan membutuhkan dukungan finansial yang besar.

"Jika kita bertindak sekarang, jika kita mengikuti ilmuwan dan memutus sirkuit, kita bisa mengendalikan virus ini. Jika tidak, kita bisa tidur sambil berjalan di musim dingin yang panjang dan suram," kata Starmer.

 

Angka Kematian

Sementara itu, Boris Johnson diperingatkan oleh rekan-rekannya sendiri bahwa pembatasan virus corona merusak mata pencaharian dan kesehatan mental penduduk. Sebanyak 42 anggota parlemen Partai Konservatif menentang tindakan yang lebih ketat dalam pemungutan suara pada Selasa.

Chris Green, anggota parlemen untuk Bolton West, mengundurkan diri sebagai asisten menteri. Ia mengatakan dalam sebuah surat kepada Johnson bahwa upaya penyembuhan lebih buruk daripada penyakitnya.

Angka resmi yang dirilis menunjukkan korban meninggal pada hari Selasa mencapai 143 jiwa, sehingga total korban meninggal dunia mencapai 43.018. ini adalah angka kematian harian tertinggi sejak 10 Juni, berdasarkan data virus corona pemerintah.

Angka terpisah menunjukkan ada 3.905 pasien Covid-19 di rumah sakit di Inggris, naik dari 2.783 pekan sebelumnya. Sekitar 441 pasien Covid-19 berada dalam kondisi serius dan menggunakan ventilator, meningkat dibandingkan dengan 349 pada pekan sebelumnya.

Direktur Medis Public Health Englang, Yvonne Doyle mengatakan tren kematian terkait Covid-19 mulai meningkat dengan cepat dan sangat mengkhawatirkan.

"Kami telah mencatat peningkatan kasus, terutama pada kelompok usia yang lebih tua, yang menyebabkan lebih banyak pasien masuk rumah sakit," ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Boris Johnson Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top