Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Myanmar Tolak Tunda Pemilihan Umum, Kebijakan Lockdown Diberlakukan

Perintah ketat untuk tetap tinggal di rumah mulai Senin (21 September) melarang lebih dari satu anggota keluarga yang keluar untuk berbelanja dan membatasi perjalanan dari kota Yangon ke kota-kota lain
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 22 September 2020  |  11:41 WIB
Bendera Myamnar - wikipedia
Bendera Myamnar - wikipedia

Bisnis.com, Jakarta - Myanmar melakukan kebijakan lockdown sebagian besar provinsi Yangon, yang merupakan wilayah bagi kota terbesar di negara tersebut.

Lockdown diberlakukan selama dua minggu untuk menahan rekor lonjakan infeksi virus corona menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada November.

Pasalnya, mereka menolak untuk menunda penyelenggaraan pemilu meski pandemi masih mewabah.

Perintah ketat untuk tetap tinggal di rumah mulai Senin (21 September) melarang lebih dari satu anggota keluarga yang keluar untuk berbelanja dan membatasi perjalanan dari kota Yangon ke kota-kota lain kecuali untuk pekerjaan penting, menurut pedoman yang dikeluarkan pada hari Minggu oleh Komite Pusat untuk pengendalian Covid-19. 

Tetapi menurut komite tersebut sektor jasa yang dianggap penting seperti perbankan, perawatan kesehatan, stasiun bahan bakar, dan gerai makanan akan diizinkan beroperasi seperti biasa.

Sementara itu perusahaan dan organisasi swasta diperintahkan untuk menyuruh karyawan mereka bekerja dari rumah, sementara pegawai pemerintahan diizinkan untuk melakukannya secara bergilir.

Dengan melonjaknya kasus virus baru, pihak berwenang memangkas periode karantina di fasilitas negara menjadi satu minggu dari dua minggu untuk memberi lebih banyak ruang bagi perawatan orang yang terinfeksi yang berada di tahap awal infeksi, menurut Kementerian Kesehatan dan Olahraga.

Kasus baru melonjak hingga berada di angka 671 kasus pada hari Minggu, data resmi pemerintah menunjukkan angka tersebut merupakan rekor baru dalam jumlah infeksi pada satu hari untuk Myanmar sejak negara berpenduduk 54 juta orang pertama kali melaporkan wabah virus pada akhir bulan Maret. Sementara itu angka kematian pasien naik sebesar 11, sehingga total menjadi 94 kasus kematian.

Sebagian besar Negara Bagian Yangon dan Rakhine, pusat dari wabah di negara tersebut, sudah diberlakukan aturan mengenai social distancing dengan larangan perjalanan domestik yang diberlakukan mulai 10 September.

Wilayah Yangon, merupakan wilayah yang menyumbang sekitar seperempat dari produk domestik bruto bagi negara Myanmar dan 30 persen dari total investasi, adalah rumah bagi Zona Ekonomi Khusus Thilawa dan 29 zona industri, menurut Kementerian Investasi dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri.

Myanmar sedang berlomba untuk mengatasi wabah tersebut, dengan 5.805 kasus Covid-19 pada Senin pagi (21 September), menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 8 November.

Terdapat sekitar 24 partai politik menyerukan agar pemungutan suara ditunda karena kasus virus yang meningkat kembali.

Tetapi Liga Nasional untuk Demokrasi yang berkuasa masih mendukung pemungutan suara sesuai jadwal, dengan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi mengatakan wabah itu dapat diatasi dengan pembatasan jarak sosial yang ketat.

Sorotan lain dari kebijakan lockdown yang diberlakukan ini adalah: Tidak ada penduduk yang diizinkan berada di jalan kecuali yang telah mendapat persetujuan sebelumnya dari otoritas kota setempat; kendaraan tidak boleh membawa lebih dari dua orang; semua pabrik termasuk bisnis pemotongan, pembuatan & pengepakan barang harus ditutup dari 24 September hingga 7 Oktober; dan semua orang yang berada di bawah karantina harus menjalani isolasi rumah wajib selama satu minggu setelah dinyatakan negatif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

myanmar Lockdown
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top