Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kecuali AS, 76 Negara Kaya Ikut Program Pengadaan Vaksin Covid-19 Dipimpin WHO

Seth Berkley, Kepala Eksekutif Aliansi Vaksin GAVI mengatakan program terkoordinasi yang dikenal sebagai COVAX, sekarang mencakup Jepang, Jerman, Norwegia dan lebih dari 70 negara lain yang telah mendaftar.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 03 September 2020  |  07:36 WIB
Virus Corona Rusia yang dikembangkan oleh Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya. - Xinhua/RDIF Rusia
Virus Corona Rusia yang dikembangkan oleh Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya. - Xinhua/RDIF Rusia

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 76 negara kaya  berkomitmen untuk mengikuti program pengadaan  vaksin Covid-19 global yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna membantu membeli dan mendistribusikan vaksin secara adil, menurut pimpinan proyek tersebut kemarin.

Seth Berkley, Kepala Eksekutif Aliansi Vaksin GAVI mengatakan program terkoordinasi yang dikenal sebagai COVAX, sekarang mencakup Jepang, Jerman, Norwegia dan lebih dari 70 negara lain yang telah mendaftar.

Semua negara itu pada prinsipnya setuju untuk mendapatkan vaksin Covid-19 melalui fasilitas tersebut.

"Kami hingga saat ini memiliki 76 negara berpenghasilan menengah ke atas dan negara berpenghasilan tinggi yang telah berkomitmen untuk berpartisipasi. Kami memperkirakan jumlah itu akan meningkat," kata Berkley dalam sebuah wawancara seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (3/9/2020).

"Ini kabar baik, menunjukkan bahwa fasilitas COVAX terbuka untuk bisnis dan menarik minat di seluruh dunia seperti yang kami harapkan," katanya.

Koordinator COVAX sedang dalam pembicaraan dengan China perihal kemungkinan bergabung, kata Berkley.

"Kami melakukan diskusi kemarin dengan pemerintah (China)," kata Berkley. Akan tetapi, dia menegaskan belum memiliki kesepakatan yang ditandatangani, tetapi Beijing telah memberikan "sinyal positif," tambahnya.

COVAX dipimpin GAVI, WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI),  dirancang untuk mencegah satu negara menimbun vaksin Covid-19 dan fokus pada vaksinasi pertama bagi orang-orang yang paling berisiko tinggi di setiap negara.

Para pendukungnya mengatakan bahwa strategi ini harus mengarah pada biaya vaksin yang lebih rendah untuk semua orang dan lebih cepat mengakhiri pandemi yang telah merenggut sekitar 860.000 nyawa secara global.

Negara-negara kaya yang bergabung dengan COVAX akan membiayai pembelian vaksin dari anggaran nasional mereka, dan akan bermitra dengan 92 negara miskin yang didukung melalui sumbangan sukarela untuk rencana memastikan vaksin diberikan secara adil, kata Berkley.

Negara-negara kaya yang berpartisipasi juga bebas untuk mendapatkan vaksin melalui kesepakatan bilateral dan progran lainnya.

Amerika Serikat (AS) pada Selasa (1/9/2020) menyatakan bahwa mereka tidak akan bergabung dengan COVAX karena keberatan Pemerintah Trump atas keterlibatan WHO.

Berkley mengatakan dia tidak terkejut dengan keputusan AS, tetapi akan berusaha untuk melanjutkan pembicaraan dengan Washington.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat who vaksin covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top