Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Turki dan Yunani Rebutan Hidrokarbon di Mediterania Timur, Yunani Dekati Mesir

Yunani akhirnya meratifikasi kesepakatan tentang perbatasan laut dengan Mesir beberapa jam setelah Turki memperpanjang operasi kapal survei seismik di wilayah Mediterania Timur dan akan mengadakan latihan perang di wilayah tersebut minggu depan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Agustus 2020  |  06:35 WIB
Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania. - Reuters
Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Yunani akhirnya meratifikasi kesepakatan tentang perbatasan laut dengan Mesir beberapa jam setelah Turki memperpanjang operasi kapal survei seismik di wilayah Mediterania Timur dan akan mengadakan latihan perang di wilayah tersebut minggu depan.

Perjanjian Athena-Kairo dipandang sebagai tanggapan atas kesepakatan Turki-Libya yang ditandatangani pada 2019. Perjanjian itu memungkinkan Turki mengakses area di wilayah tempat deposit hidrokarbon dalam jumlah besar ditemukan.

Berdasarkan perjanjian kedua negara, Mesir dan Yunani sekarang diizinkan untuk mencari keuntungan maksimal dari sumber daya yang tersedia di zona ekonomi eksklusif, termasuk cadangan minyak dan gas.

Sementara itu kesepakatan serupa antara Italia dan Yunani disetujui pada Rabu seperti dikutip Aljazeera.com, Jumat (28/8/2020).

Juru bicara pemerintah Yunani, Stelios Petsas pada Kamis mengatakan "ratifikasi mereka sangat mendesak mengingat adanya aktivitas ilegal Turki.

Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan kepada parlemen bahwa undang-undang lain akan memperpanjang zona pesisir Yunani di Laut Ionia dari sekitar 11 km menjadi 22 km berdasarkan konvensi maritim internasional.

Turki dan Yunani, yang merupakan negara sekutu NATO, berselisih mengenai hak atas sumber daya hidrokarbon potensial di wilayah Mediterania Timur berdasarkan klaim yang saling bertentangan atas luasnya landas kontinen mereka.

Ketegangan meningkat bulan ini setelah Ankara mengirim kapal survei seismik Oruc Reis di daerah yang disengketakan setelah Yunani dan Mesir menyepakati sebuah pakta.

Turki mengatakan pakta itu melanggar landas kontinennya sendiri. Perjanjian itu juga tumpang tindih dengan zona maritim yang disetujui Turki dengan Libya tahun lalu, yang disebut sebagai ilegal oleh Yunani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki mesir emisi karbon yunani

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top