Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jatah Dividen Global Susut hingga US$400 Miliar, Terburuk Sejak 2009

Pembayaran dividen global anjlok US$108 miliar menjadi US$382 miliar pada kuartal kedua tahun ini. Secara tahunan (yoy), ini akan menjadi yang terburuk sejak setidaknya 2009.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Agustus 2020  |  09:37 WIB
Trader melihat monitor di London. - Reuters
Trader melihat monitor di London. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Krisis virus Corona membuat perusahaan-perusahaan besar dunia memangkas pembayaran dividen antara 17-23 persen tahun ini atau senilai US$400 miliar.

Pembayaran dividen global anjlok US$108 miliar menjadi US$382 miliar pada kuartal kedua tahun ini.

Laporan fund manager internasional Janus Henderson mengungkapkan penurunan 22 persen secara tahunan (yoy) yang akan menjadi yang terburuk sejak setidaknya 2009.

Semua kawasan mengalami pembayaran yang lebih rendah kecuali Amerika Utara, di mana pembayaran Kanada terbukti tangguh.

Di seluruh dunia, 27 persen perusahaan memotong dividen mereka, sementara Eropa yang terkena dampak paling parah menyaksikan lebih dari setengahnya melakukannya dan dua pertiga dari mereka membatalkannya secara langsung.

"Tahun 2020 akan menjadi hasil terburuk untuk dividen global sejak krisis keuangan global," tulis Janus Henderson dalam laporan yang diterbitkan pada Senin (24/8/2020).

"Kami sekarang memperkirakan dividen global utama turun 17 persen dalam skenario kasus terbaik, membayar US$1,18 triliun ... Skenario terburuk kami dapat melihat pembayaran jatuh 23 persen menjadi US$1,10 triliun."

Perincian dari berbagai sektor juga menunjukkan beberapa perbedaan besar.

Bank dan perusahaan-perusahaan keuangan lain yang telah diperintahkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) untuk berhenti membayar dividen, menyumbang setengah dari pengurangan 45 persen penurunan dividen kuartal kedua Eropa menjadi US$77 miliar.

Para penambang dan perusahaan-perusahaan minyak terpukul cukup parah oleh kemerosotan harga komoditas yang luas dan operasional perusahaan-perusahaan barang konsumsi mengalami pukulan keras akibat lockdown sehingga mempengaruhi pembangian dividen.

Sebaliknya, dividen perusahaan-perusahaan teknologi dan telekomunikasi dan perawatan kesehatan relatif tidak terpengaruh, dengan dividen mereka masing-masing naik 1,8 persen dan 0,1 persen pada basis yang mendasarinya.

Ketahanan sektor teknologi itu juga telah membantu Microsoft dan Apple masuk ke dalam jajaran sepuluh besar pembayar dividen dunia untuk pertama kalinya tahun ini.

Daftar pembayaran dividen masih dipuncaki oleh Nestle, diikuti oleh Rio Tinto, dan China Mobile Limited.

Berikutnya, Allianz SE, Sanofi, Microsoft Corporation, AT&T Inc, Exxon Mobil Corp, Toyota Motor Corporation, dan Apple Inc.

"Tren dividen mencerminkan tren di masyarakat dan pasar saham saat ini," kata Kepala Pendapatan Ekuitas Global Janus Henderson Ben Lofthouse.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dividen saham global

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top