Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan China Terhambat Lonjakan Harga dan Stagnasi Pendapatan

Pendapatan rata-rata masyarakat China turun saat lockdown diterapkan, dan fakta bahwa pemulihannya lebih lambat daripada rata-rata kemungkinan menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar. Hal ini diperparah dengan lonjakan harga barang, terutama pangan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Agustus 2020  |  08:56 WIB
Seorang anggota staf membersihkan konter bagian makanan laut di jaringan 7Fresh JD.com sebelum toko dibuka, saat negeri tersebut sedang dilanda penularan virus corona baru, di Kota Yizhuang, Beijing, China, Sabtu (8/2/2020). Foto diambil tanggal 8 Februari 2020.  - Antara/Reuters
Seorang anggota staf membersihkan konter bagian makanan laut di jaringan 7Fresh JD.com sebelum toko dibuka, saat negeri tersebut sedang dilanda penularan virus corona baru, di Kota Yizhuang, Beijing, China, Sabtu (8/2/2020). Foto diambil tanggal 8 Februari 2020. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan antara pandemi dan banjir di China telah menggerus daya beli rumah tangga, serta mengancam pemulihan ekonomi yang diharapkan.

Hal ini diperparah dengan kondisi pendapatan masyarakat yang stagnan dan kenaikan harga barang yang mengusik kekuatan pemulihan domestik.

Menurut data Biro Statistik China, tren itu mungkin juga memperburuk ketidaksetaraan pendapatan China yang sudah parah. Pendapatan rata-rata  turun saat lockdown diterapkan, dan fakta bahwa pemulihannya lebih lambat daripada rata-rata kemungkinan menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar.

Selain itu, harga pangan naik lebih cepat karena pandemi telah memperlambat impor dan banjir di China tengah merusak tanaman pangan dan jaringan transportasi. Inflasi makanan mulai naik pada Juni setelah mulai melambat pada awal tahun ini, dan tren tersebut kemungkinan akan berlanjut selama musim panas.

Kombinasi harga makanan yang lebih mahal dan pendapatan yang lemah tidak hanya akan merugikan orang miskin, tetapi juga membuat upaya pemerintah untuk menghapus kemiskinan absolut tahun ini lebih sulit dicapai. Selain itu, jika konsumen terus menahan pengeluarannya, maka kekuatan pemulihan yang selama ini bertumpu pada sektor industri akan melemah.

“Inflasi makanan yang tinggi sejak tahun lalu karena harga daging babi memang telah menekan pendapatan rumah tangga berpenghasilan rendah Pemulihan konsumsi dapat ditahan oleh kelompok berpenghasilan rendah,” kata Michelle Lam, Ekonom Societe Generale di Hong Kong, dilansir Bloomberg, Rabu (12/8/2020).

Pengeluaran untuk makanan melonjak sebagai bagian dari konsumsi pada kuartal pertama karena kombinasi dari kenaikan harga pangan dan penurunan pengeluaran. Rumah tangga di pedesaan bahkan lebih tertekan daripada warga yang umumnya lebih kaya di kota.

Inflasi konsumen China sangat berkorelasi dengan perubahan harga pangan, terutama daging babi. Kekurangan yang disebabkan oleh wabah Demam Babi Afrika, virus Corona, dan kini banjir telah membuat harga tetap tinggi. Survei industri menunjukkan pemulihan produksi babi dapat diperlambat oleh banjir.

Hasil akhirnya adalah pengeluaran untuk hiburan atau area diskresioner lainnya terkena dampak besar, karena kenaikan harga pangan dan langkah-langkah untuk mengendalikan pandemi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china pendapatan harga

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top