Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inflasi China Naik di Tengah Gangguan Banjir

Biro Statistik Nasional menyatakan indeks harga konsumen naik 2,7 persen bulan lalu dari tahun sebelumnya, menyusul kenaikan 2,5 persen pada Juni.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Agustus 2020  |  11:50 WIB
Ilustrasi-Aktivitas pedagang daging halal di Pasar Zuojiazhuang, Beijing. - ANTARA/M. Irfan Ilmie
Ilustrasi-Aktivitas pedagang daging halal di Pasar Zuojiazhuang, Beijing. - ANTARA/M. Irfan Ilmie

Bisnis.com, JAKARTA - Inflasi konsumen China meningkat dan deflasi harga pabrik mereda pada Juli seiring dengan kondisi ekonomi terus pulih dari krisis virus Corona di tengah gangguan banjir yang melanda negara tersebut.

Biro Statistik Nasional menyatakan indeks harga konsumen naik 2,7 persen bulan lalu dari tahun sebelumnya, menyusul kenaikan 2,5 persen pada Juni. Indeks harga produsen mencatat penurunan 2,4 persen per tahun, dibandingkan dengan proyeksi penurunan 2,5 persen dan penurunan 3 persen pada Juni.

Kenaikan harga pangan sebagian didorong kerusakan dan gangguan transportasi yang disebabkan oleh banjir di China tengah dan selatan. Sedangkan inflasi inti yakni 0,5 persen year-on-year dibandingkan dengan 0,9 persen pada Juni.

Perlambatan deflasi pabrik, terutama karena kenaikan harga komoditas dan produk industri, merupakan sinyal positif bagi keuntungan dan kemampuan perusahaan untuk memperluas investasi.

Xing Zhaopeng, ekonom di Australia dan New Zealand Banking Group Ltd di Shanghai, mengatakan ledakan kredit telah gagal meningkatkan inflasi inti karena harga sebagian besar layanan menurun ditekan langkah-langkah penanganan virus Corona yang sedang berlangsung di seluruh negara.

Ekonomi China melanjutkan pemulihan bertahap hingga paruh kedua tahun ini didorong oleh penghentian produksi dan kenaikan permintaan. Namun, keberlanjutan momentum itu sebagian bergantung pada seberapa cepat permintaan dapat mengejar produksi dan bagaimana China mengatasi ketidakpastian termasuk ketegangan dengan Amerika Serikat dan gelombang virus baru.

David Qu, ekonom Bloomberg China, mengungkapkan akselerasi inflasi harga konsumen China kemungkinan hanya berumur pendek, meskipun terjadi pada Juli.

"Inflasi harga makanan kemungkinan akan melemah menjelang akhir tahun yang bersama dengan permintaan rumah tangga yang masih lesu dapat memberikan tekanan ke bawah pada IHK utama. Kami memperkirakan laju penurunan harga produsen akan terus menyempit, tetapi tetap dalam deflasi sepanjang tahun," kata Qu.

Sementara itu, harga daging babi, elemen kunci dalam keranjang CPI negara, naik 85,7 persen per tahun, 10,3 persen per bulan.

"Penurunan IHK [Consumer Price Index/CPI] inti terutama disebabkan oleh harga paket wisata. Kami biasanya melihat kenaikan harga di bulan Juli karena musim liburan, sedangkan harga turun 1,5 persen bulan ke bulan pada Julu," kata Ekonom Societe Generale di Hong Kong Michelle Lam.

Dia melanjutkan bahwa moderasi tersebut mencerminkan kelemahan di sektor layanan konsumen, yang hanya akan pulih secara bertahap karena Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi china Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top