Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China Pulih Bertahap, Deflasi Mereda

National Bureau of Statistic (NBS) China menyatakan indeks harga konsumen naik 2,5 persen secara tahunan, menyusul kenaikan 2,4 persen bulan sebelumnya. Sedangka inflasi inti melambat menjadi 0,9 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  10:25 WIB
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Deflasi pabrik China mereda pada Juni karena pemulihan ekonomi berlanjut, sementara inflasi meningkat. Indeks harga produsen mencatat penurunan 3 persen bulan lalu dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan 3,7 persen pada Mei.

Sementara itu, dilansir Bloomberg, Kamis (9/7/2020), National Bureau of Statistic (NBS) China menyatakan indeks harga konsumen naik 2,5 persen secara tahunan, menyusul kenaikan 2,4 persen bulan sebelumnya. Sedangka inflasi inti melambat menjadi 0,9 persen.

"Penurunan indeks harga produsen menyempit pada Juni karena harga komoditas internasional naik, manufaktur domestik terus pulih, dan permintaan pasar terus membaik," kata NBS dalam sebuah pernyataan.

Adapun, indeks resmi aktivitas manufaktur naik pada Juni, memberikan lebih banyak bukti pemulihan bertahap dari kontraksi bersejarah pada kuartal pertama. Indikator awal untuk ekonomi juga menunjuk ke arah yang sama.

Perlambatan deflasi pabrik dapat memberikan dukungan bagi keuntungan perusahaan, yang turun lebih dari 19 persen dalam lima bulan pertama tahun ini dari tahun sebelumnya.

Berbagai faktor sementara mendorong kenaikan harga pangan pada Juni, dengan harga daging babi naik hampir 82 persen karena produksi melambat, adanya persyaratan pencegahan epidemi yang ketat dan penurunan impor.

Selain itu, banjir serius baru-baru ini terjadi di banyak tempat di China dan kemunculan kasus virus Corona di pasar makanan grosir terbesar di Beijing menyebabkan kekurangan sayuran sementara di beberapa daerah.

"Guncangan sisi penawaran yang disebabkan oleh banjir cenderung bersifat sementara, tidak mungkin menciptakan tekanan inflasi yang persisten," kata ekonom China International Capital Corp Liu Liu dan Peng Wensheng.

Sedangkan tingkat pertumbuhan inflasi konsumen China akan melambat di paruh kedua tahun ini karena tingginya basis tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

deflasi ekonomi china

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top