Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mungkinkah Taiwan Jadi Hong Kong Kedua bagi China?

Taiwan berada di dalam tekanan China agar menerima pemberlakuan model otonomi "satu negara, dua sistem" seperti Hong Kong.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  17:23 WIB
Dua pesawat tempur China J-11 dan satu pesawat pengebom H-6K berpatroli di wilayah udara antara China daratan dan Taiwan, Senin (10/2/2020). - Antara/Xinhua
Dua pesawat tempur China J-11 dan satu pesawat pengebom H-6K berpatroli di wilayah udara antara China daratan dan Taiwan, Senin (10/2/2020). - Antara/Xinhua

Bisnis.com, JAKARTA - Kunjungan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar menemui Presiden Taiwan Tsai Ing-wen akhir pekan lalu memicu kemarahan China.

Taiwan menghadapi posisi yang semakin sulit karena China menekan negara pulau yang masih dianggap sebagai bagian dari provinsi China itu.

China mendesak Taiwan untuk menerima kondisi yang akan mengubahnya menjadi semacam daerah khusus seperti Hong Kong, menurut seorang diplomat terkemuka negara itu.

Azar tiba di Taiwan pada Minggu sebagai pejabat tingkat tertinggi AS yang berkunjung dalam kurun empat dekade.

Jet tempur China secara singkat melintasi garis median Selat Taiwan kemarin meski sempat dilacak oleh rudal antipesawat Taiwan.

Pihak Taiwan menyebut apa yang dilakukan China sebagi sebuah gangguan keamanan.

Perjalanan Azar ke Taiwan juga bertepatan dengan tindakan keras di Hong Kong yang dikuasai China, setelah polisi menangkap taipan media Jimmy Lai berdasarkan Undang-undang Keamanan Nasional baru.

"Hidup kami menjadi semakin sulit karena China terus menekan Taiwan agar menerima aturan politiknya, kondisi yang akan mengubah Taiwan menjadi Hong Kong berikutnya," kata Menteri Luar Negeri Joseph Wu pada pertemuan media bersama dengan Azar di Taipei seperti dikutip Aljazeera, Selasa (11/8/2020).

China sebelumnya mengusulkan model otonomi "satu negara, dua sistem" untuk membuat Taiwan menerima aturan seperti yang diberlakukan di Hong Kong.

Akan tetapi proposal tersebut ditolak oleh Taiwan dan semua partai besar dan pemerintah di wilayah tersebut.

Wu mengatakan Taiwan beruntung memiliki teman seperti Azar di Amerika Serikat untuk membantu memperjuangkan wilayah internasional Taiwan.

"Kami tahu ini bukan hanya tentang status Taiwan, tetapi tentang mempertahankan demokrasi dalam menghadapi agresi otoriter. Taiwan harus memenangkan pertempuran ini agar demokrasi menang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china hong kong taiwan

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top