Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hong Kong Dibayangi Lockdown, Dampak Lonjakan Kasus Covid-19

Masyarakat mencemaskan Hong Kong akan mengalami lockdown jika pertumbuhan Covid-19 tak bisa dikendalikan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  08:23 WIB
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan kasus baru konfirmasi positif Covid-19 membuat warga Hong Kong khawatir akan terjadinya lockdown.

Otoritas kesehatan di Hong Kong, Senin (20/7/2020), melaporkan 73 kasus baru, lebih sedikit dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 108. Namun, masyarakat setempat khawatir kotanya akan ditutup total  jika situasi tersebut tidak segera dikendalikan.

Hingga Senin, kasus positif Covid-19 di Hong Kong telah mencapai angka 1.959.

Pakar mikrobiologi Hong Kong Yeun Kwok Yung kepada radio setempat mengatakan jika kasus Covid-19 terus bertambah secara geometris dalam tujuh hingga 14 hari kemudian, pemerintah kota perlu membatasi mobilitas masyarakat yang lebih mirip lockdown, meskipun saat ini sudah ada peningkatan upaya pencegahan.

Saat ini masyarakat yang keluar-masuk Hong Kong harus menjalani karantina dan tindakan-tindakan pencegahan lainnya.

Sangat mungkin pemerintah Hong Kong akan membatasi pergerakan masyarakat kalau situasi seperti ini terus memburuk, demikian pernyataan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam kepada pers, Minggu (19/7).

Sementara itu, para pakar masih percaya pemerintah setempat mampu mengontrol wabah tersebut setelah ada pengetatan kebijakan, termasuk mewajibkan masyarakat mengenakan masker di dalam angkutan umum untuk mencegah penyebaran virus.

Direktur Jurusan Kesehatan Masyarakat pada University of Hong Kong Prof Keiji Fukuda justru tidak yakin situasi saat ini akan memicu terjadinya lockdown.

Di kota-kota besar seperti Hong Kong, memang ada kemungkinan naiknya kasus penularan yang tidak dikenal, ujarnya dikutip Global Times.

Namun menurut Fukuda, jika tindakan pencegahan, seperti jaga jarak, pemakaian masker, dan cuci tangan masih dilaksanakan dalam level tertentu, sangat mungkin jumlah kasusnya akan turun.

Fukuda menilai Hong Kong mampu melakukannya karena pencegahan di pos-pos perbatasan sangat ketat.

Senada dengan Fukuda, Prof Jin Dongyan dari Jurusan Sains Biomedika di University of Hong Kong, mengatakan bahwa Hong Kong tidak akan terpuruk dalam situasi yang sangat parah.

Menurut Jin Dongyan tingginya kasus belakangan ini dipicu oleh jangkauan tes Covid-19 yang makin meluas.

"Gelombang baru ini sebagai dampak dari kejenuhan masyarakat dalam menerapkan pencegahan. Kalau mematuhi kebijakan yang sangat ketat, nanti bisa diketahui hasilnya. Sebagai pusat keuangan internasional, Hong Kong memiliki interaksi yang sangat tinggi dengan dunia luar. Jadi tidak realistis bagi Hong Kong untuk di-lockdown," ujar Jin Dongyan.

Jin Dongyan yakin sejumlah rumah sakit di Hong Kong mampu menangani 100 pasien baru per hari.

Beberapa orang tua penghuni panti jompo mungkin akan menjadi beban tersendiri bagi rumah sakit karena membutuhkan perawatan lebih lama.

Namun, lanjut dia, bagi pasien bergejala ringan bisa dipindahkan ke bangsal darurat untuk mengurangi beban rumah sakit.

Jika memang tidak mampu mengatasi wabah Covid-19, Jin menyarankan Hong Kong meminta bantuan pemerintah pusat di Beijing. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong Lockdown

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top