Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

FAO: 27 Negara Dibayangi Krisis Pangan Gara-Gara Pandemi Covid-19

27 negara tersebut termasuk Afghanistan, Bangladesh, Kolombia, Venezuela, Peru, Kongo, dan Zimbabwe.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  12:53 WIB
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengidentifikasi 27 negara terancam mengalami krisis pangan karena pandemi Covid-19 -  FAO
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengidentifikasi 27 negara terancam mengalami krisis pangan karena pandemi Covid-19 - FAO

Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO mengidentifikasi 27 negara terancam mengalami krisis pangan karena pandemi Covid-19.

Analisis terbaru FAO dan Program Pangan Dunia atau WFP menunjukkan bahwa pandemi memperparah situasi pangan di negara-negara yang sebelumnya rentan terhadap krisis dan kelaparan. FAO dan WFP menyatakan tak ada yang kebal terhadap krisis pangan.

Di Asia, kelaparan mengancam negara-negara seperti Afghanistan dan Bangladesh, sementara di Amerika Tengah yakni Haiti, Venezuela, Guatemala, Honduras, El Salvador, Nicaragua, Peru, Ekuador, dan Kolombia.

Adapun di Timur Tengah, risiko krisis pangan juga melanda Irak, Lebanon, Sudan, Yaman dan Suriah. Di Afrika ada pula Burkina Faso, Kamerun, Liberia, Mali, Niger, Nigeria, Mozambik, Sierra Leone, Zimbabwe, Kongo, Republik Afrika Tengah.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menjelaskan negara-negara ini sudah bergulat dengan tingkat kerawanan pangan yang tinggi dan kelaparan akut sebelum pandemi melanda. Selain itu, tekanan pada ketahanan pangan juga didorong krisis ekonomi, ketidakstabilan dan ketidakamanan, iklim ekstrem, serta hama dan penyakit hewan.

"Kini mereka berada di garda depan yang menanggung beban gangguan pandemi Covid-19 pada sistem pangan yang memicu krisis kelaparan dan kesehatan," katanya dalam keterangan tertulis dikutip Senin (20/7/2020).

FAO dan WFP mencatat empat faktor utama bagaimana pandemi virus corona dapat mendisrupsi krisis pangan lebih dalam. Pertama, lapangan kerja dan upah yang menurun. Kedua, disrupsi penanganan pandemi pada produksi dan pasokan pangan dunia. Ketiga, menurunnya pendapatan pemerintah, dan keempat, meningkatnya ketidakstabilan politik yang memicu konflik berbasis sengketa sumber daya alam.

Sementara itu, berdasarkan survei oleh FAO dan WFP, produksi pangan di masa pandemi muncul sebagai tantangan serius. Petani yang disurvei melaporkan banyak tantangan dalam mengakses benih, sehingga mengurangi penanaman.

Di Haiti, 90 persen petani memperkirakan penurunan signifikan pada produksi sereal. Di Kolombia, lebih dari separuh peternak mengalami kesulitan akses pakan, sementara di Sudan Selatan, dua pertiga responden mengatakan bahwa mereka berjuang untuk mengakses bantuan kesehatan hewan.

Dinamika ini kemungkinan akan mengarah ke lingkaran setan penurunan produksi yang memicu kekurangan kesempatan kerja pertanian dan meningkatnya harga, serta memburuknya ketahanan pangan dan gizi.

Qu mengatakan ancaman krisis pangan tak boleh dianggap enteng dan ditunda penyelesaiannya. Diperlukan lebih banyak upaya untuk melindungi populasi global dari sistem pangan yang rentan terhadap krisis.

Dalam upaya untuk menanggapi tantangan ini, FAO telah merilis revisi anggaran rencana respons global untuk Covid-19 menjadi US$428,5 juta. Bantuan itu akan mencakup kebutuhan yang meningkat di sektor ini, seperti melindungi mata pencaharian warga, mempertahankan rantai pangan dan memastikan orang-orang yang paling rentan mendapatkan akses pada makanan yang penting dan bergizi.

Selain itu, dana ini juga dipakai untuk upaya pengumpulan data dan analisis yang dapat menentukan langkah intervensi. Qu mengatakan upaya-upaya ini membutuhkan implementasi segera agar produksi pangan tetap terjaga, mata pencaharian terlindungi, dan ketergantungan banyak orang terhadap bantuan pangan kemanusiaan dapat dikurangi.

"Belum terlambat untuk mencegah krisis kelaparan terburuk dalam beberapa generasi," kata Direktur Jenderal FAO.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fao krisis pangan kelaparan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top