Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cek Fakta: Ada Pasien Dirawat Paksa di RS Meski Negatif Corona?

Kepala Bidang Humas Kementerian Kesehatan Busroni membantah adanya upaya pemerintah rumah sakit untuk menjadikan penanganan Covid-19 sebagai ladang bisnis.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  23:04 WIB
Poster Bersama Lawan Corona_Stop Hoax
Poster Bersama Lawan Corona_Stop Hoax

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang pengguna media sosial menceritakan tentang ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit sebagai pasien Covid-19, meski dua tes swab sebelumnya dinyatakan negatif Corona.

Kisah itu dibagikan pengguna Twitter @BalqisRrzq pada Senin (20/7/2020). Dia menceritakan bahwa ayahnya telah meminta paksa keluar dari rumah sakit dan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Alasannya, hasil swab milik ayahnya belum juga keluar hingga hampir tiga pekan. Kejadian ini menurutnya janggal. Pasalnya beberapa waktu sebelum masuk rumah sakit, ayahnya dua kali negatif Covid-19 tes swab.

“Ini, ayah aku ngetik buat grup keluarga ya. Pas ini posisi ayahku udah minta pulang paksa dan isolasi mandiri di rumah karena hasil swab hampir tiga minggu nggak keluar. Tapi anehnya RS kekeh kalau ayah positif Covid-19. Padahal setelah swab dari program Bu Risma ayah 2 kali negatif,” kicaunya, Senin (20/7/2020).

Balqis juga membagikan foto berisi pesan Whatsapp grup keluarga. Pada foto tersebut diceritakan bahwa ayahnya telah menelpon beberapa kerabat di Jakarta terkait pasien Covid-19.

Setelah dilakukan pengecekan melalui Dinas Kesehatan, ditemukan bahwa ayahnya masuk daftar sebagai pasien positif Corona. Dalam tulisan itu ayahnya menyebut RS Wiyung berusaha merekayasa hasil positif.

“Karena satu orang pasien positif akan turun bantuan sebesar Rp200 juta dari pemerintah. Meski tidak full karena dari atas sudah dibrakoti mbokok sithik. Nah kalau sampe meninggal akan mendapat Rp350 juta,” tulis pesan itu.

Tulisan dari foto tersebut juga mencatat bahwa pemerintah sedang menargetkan tentang 70 juta jiwa rakyat mati. Di sisi lain, anggaran Covid-19 disebut dibagi-bagi termasuk untuk ambulan setiap sekali pengantaran mendapat 15 juta.

Bisnis telah berupaya menghubungi pemilih akun melalui pesan langsung atau direct messages di Twitter untuk meminta konfirmasi atas pesan tersebut. Namun hingga kini pesan Bisnis belum dibalas.

Pada saat laporan ini ditayangkan, unggahan tersebut sudah tidak dapat diakses lagi.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Kementerian Kesehatan Busroni membantah adanya upaya pemerintah rumah sakit untuk menjadikan penanganan Covid-19 sebagai ladang bisnis.

Kan sudah dibantah oleh Pak Menteri [Menkes Terawan Agus]. Nggak ada [kasus seperti itu]. Kalau ada pengaduannya ke Halo Kemenkes 1500567,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (20/7/2020).

Dia memastikan hingga sore tadi tidak ada pelaporan masyarakat mengenai penyelewengan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit kepada pasien. Umumnya pengaduan masih berupa pertanyaan lokasi rapid test dan tata caranya.

“Lapor ke 1500567 [menggunakan kode lokal]. Kalau mau ngadu dikasi tahu. Sebutkan identitas, yang mengadu pasti dirahasiakan. Sebutkan rumah sakit di mana, apa namanya, kasusnya apa. Silakan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona hoax covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top