Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Covid-19 di Australia Tembus 10.000, Sydney Jadi 'Hotspot' Baru

Deklarasi oleh pemerintah negara bagian Queensland tersebut membuat siapa pun yang pernah ke area Liverpool dan Campbelltown di barat daya Sydney perlu menjalani karantina mandiri di hotel jika mereka memasuki Queensland.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  12:31 WIB
Seorang pengunjung di salah satu kafe di New South Wales, Australia. (Bloomberg)
Seorang pengunjung di salah satu kafe di New South Wales, Australia. (Bloomberg)

Bisnis.com, JAKARTA – Kota Sydney dinyatakan sebagai hotspot wabah virus corona oleh pemerintah negara bagian, karena otoritas kesehatan khawatir gelombang kedua infeksi di Melbourne kini telah menyebar ke kota terbesar di Australia tersebut.

Deklarasi oleh pemerintah negara bagian Queensland tersebut membuat siapa pun yang pernah ke area Liverpool dan Campbelltown di barat daya Sydney perlu menjalani karantina mandiri di hotel jika mereka memasuki Queensland.

Berdasarkan data worldometers.info, Australia mencatat 270 kasus baru dalam 24 jam terakhir pada hari Selasa (14/7/2020) sehingga jumlah kasus mencapai 10.250. Adapun, total korban meninggal mencapai 108 jiwa.

Gelombang kedua infeksi telah mengaburkan harapan Perdana Menteri Scott Morrison untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lumpuh dengan mengurangi sebagian besar pembatasan jarak sosial pada akhir Juli.

Negara bagian Victoria pekan lalu memberlakukan lockdown selama 6 pekan setelah otoritas kesehatan setempat mengidentifikasi pelanggaran dalam prosedur karantina dalam hotel yang menjadi penyebab lonjakan kasus klaster.

Menteri Kesehatan Queensland Steven Miles mengatakan pada hari Selasa bahwa 18 orang dari Negara bagiannya tengah menjalani tes virus corona setelah mereka mengunjungi Hotel Crossroads di Sydney.

Sementara itu, pub di Casula di pinggiran kota, yang menjadi pusat bagi para warga antar negara bagian termasuk pengemudi truk dan wisatawan, diyakini bertanggung jawab sebagai tempat penyebaran sedikitnya 20 infeksi di negara bagian New South Wales.

“Melakukan tes bagi para pengunjung di hotel [di Victoria] penting karena kami melihat kasus-kasus lanjutan dari orang yang dating ke hotel itu dan kami telah melihat infeksi berikutnya pada keluarga dan kelompok lain dari orang-orang yang telah melakukan kontak dengannya," Kepala Queensland Petugas Kesehatan Jeanette Young mengatakan kepada wartawan di Brisbane, seperti dikutip Bloomberg.

Wabah di Sydney membuat pemerintah negara bagian New South Wales akan kembali memberlakukan pengetatan pembatasan sosial dengan membatasi pengunjung di pub menjadi 300 orang.

"Selama pandemi, jika pembatasan dilonggarkan seperti yang telah kami lakukan, akan ada kasus tambahan dan kami harus hidup dengan itu," kata Perdana Menteri New South Wales Gladys Berejiklian, Selasa (14/7). Negara bagian ini mencatrrat 13 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Negara bagian Victoria, yang menyumbang 25 persen dari perekonomian Australia, mencatat lebih dari 1.800 kasus aktif. Pada hari Selasa, Perdana Menteri Daniel Andrews mengatakan ia telah menghubungi pemerintah federal untuk meminta lebih banyak personel militer guna membantu mengendalikan wabah tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia sydney Virus Corona
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top