Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Boeing Diam-Diam Akhiri Produksi 747, Era Pesawat Jumbo Jet Berakhir?

Berakhirnya produksi Boeing 747 menjadi saat yang sangat ditakuti oleh para penggemar penerbangan. Tidak akan ada lagi era pesawat jumbo berkabin ganda setelahnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  16:00 WIB
Boeing 747-8 - Youtube
Boeing 747-8 - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA – Era pesawat berbadan besar diperkirakan akan berakhir. Boeing Co. berencana mengakhiri produksi pesawat jumbo jet 747 setelah diproduksi dalam 50 tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, pesawat Boeing 747-8 terakhir akan dirilis dari pabrik di daerah Seattle dalam waktu sekitar dua tahun dari sekarang. Keputusan ini belum diumumkan dengan para staf, namun dapat terbaca dari perubahan dalam laporan keuangan.

Berakhirnya produksi Boeing 747 menjadi saat yang sangat ditakuti oleh para penggemar penerbangan. Tidak akan ada lagi era pesawat jumbo berkabin ganda setelahnya. Bahkan pesaingnya, Airbus SE, juga bersiap untuk mengakhiri produksi pesawat A380 setelah komponen pesawat terakhir dikirim ke pabrik di Toulouse, Prancis, bulan lalu.

Terlepas dari popularitasnya di kalangan pelancong, versi akhir dari 747 dan Airbus A380 tidak pernah diterima secara komersial karena banyak maskapai beralih ke pesawat bermesin ganda untuk penerbangan jarak jauh.

Nasib A380 bahkan lebih buruk. Pesawat yang mampu mengangkut sebanyak 853 penumpang tersebut diperkenalkan pada tahun 2007, di saat banyak maskapai penerbangan sudah condong ke pesawat yang lebih kecil dan lebih irit bahan bakar.

Pandemi virus corona juga menambah tekanan bagi Boeing dan Airbus karena mereka kesulitan mencari pembeli pesawat berbadan lebar ini.

"Ternyata, jumlah rute yang membutuhkan pesawat jumbo jet semacam itu juga sangat sedikit,” kata analis dari Agency Partners, Sash Tusa, seperti dikutip Bloomberg.

Pesawat jumbo jet yang dikenal sebagai Queen of the Skies ini memulai debutnya pada tahun 1970, di saat perusahaan berada di jurang kebangkrutan. Versi pesawat penumpang dari 747 menawarkan tangga spiral ke lounge lantai atas yang mewah.

Sementara itu, pesawat jenis kargo memiliki hidung pesawat yang dapat dibuka agar dapat memuat lebih banyak barang berukurang sangat besar, seperti mobil hingga peralatan pengeboran minyak. Selama beberspa dekade, 747 telah menerima hingga 1.571 pesanan, dan berada di posisi kedua di antara pesawat berbadan lebar setelah Boeing 777.

Boeing dapat mengantisipasi tren penurunan minat terhadap pesawat berbadan besar dengan merilis pesawat bermesin kembar 777 dan 787 Dreamliner. Dengan dorongan dari seorang insinyur terkenal yang memimpin program 747, Joe Sutter, Boeing memutuskan untuk mengembangkan upgrade pesawat bermesin empat yang relatif murah untuk mengambil alih pangsa pasar dari A380.

Seorang analis di Teal Group, Richard Aboulafia, mengatakan strategi tersebut sebetulnya dapat berhasil jika 747-8 tidak dirugikan oleh kesalahan manajemen, penggelembungan anggaran, serta molornya tenggat waktu produksi.

Analis Jefferies, Sheila Kahyaoglu, memperkirakan Boeing 747 membuat perusahaan yang berbasis di Chicago ini merugi hingga US$40 juta sejak 2016. Saat itu, produksi pesawat 747 menurun hingga hanya enam pesawat per tahun.

Aboulafia mengatakan pesawat kargo Boeing 747 akan tetap mengudara selama beberapa dekade setelah produksi berhenti, namun tidak dengan pesawat penumpang A380.

"A380 akan menjadi pesawat dengan umur terpendek dari jenis apa pun dalam sejarah. Saya akan terkejut jika masih ada A380 yang beroperasi pada tahun 2030," Aboulafia memperkirakan.

Proyeksi tersebut dibantah oleh Airbus. Dalam emailnya, Airbus mengatakan pesawat A380 akan tersebu terbang selama bertahun-tahun.

Namun, pandemi virus corona mengaterancam mempercepat akhir dari era pesawat jumbo. Dengan hampir seluruh penerbangan di dunia dibatalkan, maskapai-maskapai menghentikan masa bakti pesawat yang sudah tua dan jumbo jet bermesin empat dari untuk membatasi pengeluaran.

Credit Suisse memperkirakan sekitar 91 persen pesawat 747 dan 97 persen A380 terpaksa masuk hanggar.

Maskapai seperti Air France, Lufthansa, dan Qatar Airways tengah mempertimbangkan apakah akan menghentikan operasional pesawat A380 mereka secara permanen. Airbus hanya mendapat pesawanan 9 pesawat A380. Salah satu pesawat adalah untuk Emirates Airline, operator A380 terbesar, yang tengah mempertimbangkan apakah akan membatalkan 5 pesanan pesawat lainnya.

Sementara itu, Boeing telah mempersiapkan selama bertahun-tahun untuk mengakhiri produksi 747. Tim penjualan perusahaan telah mulai mempromosikan rencana pesawat kargo 777X kepada para pelanggan. Jika model tersebut diminati, itu akan meningkatkan penjualan pesawat bermesin ganda terbesar di jajaran perusahaan.

“Dengan tinggat produksi pesawat sebanyak 1 unit per dua bulan, program 747-8 butuh waktu lebih dari dua tahun untuk memenuhi pesanan pelanggan kami saat ini. Kami akan terus membuat keputusan yang tepat untuk menjaga lini produksi tetap sehat dan memenuhi kebutuhan pelanggan,” demikian menurut pernyataan Boeing, seperti dikutip Bloomberg.

Boeing hanya memiliki sisa 15 pesanan untuk 747 dan seluruhnya adalah pesawat kargo. Sebanyak 12 unit dipesan oleh United Parcel Service Inc, sedangkan sisanya tidak jelas karena menjadi bagian dari perselisihan dengan Volga-Dnepr Group Rusia.

Boeing menawarkan kepada UPS dan pelanggan potensial lainnya untuk membeli tiga sisa pesawat tersebut. Perusahaan dan UPS menolak memberikan komentarm sedangkan Volga-Dnepr belum dapat dimintai keterangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing airbus airbus a380
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top