Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

4 Bulan Corona di Indonesia: Sektor Jasa-Manufuktur Jabar Terpukul, Ridwan Kamil Optimistis Ekonomi Membaik Akhir 2020

Ridwan Kamil optimistis setelah PSBB usai dan kini memasuki fase adaptasi kebiasaan baru (AKB) pelan-pelan ekonomi Jawa Barat kembali bergerak.
Nyoman Ari Wahyudi, Nancy Junita
Nyoman Ari Wahyudi, Nancy Junita - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  12:10 WIB
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat (Rapid Test) COVID-19 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat (Rapid Test) COVID-19 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memutuskan pembatasan sosial berskala besar (PSSB) proporsional di Kabupaten/Kota Bogor, Kabupaten/Kota Bekasi dan Depok diperpanjang 14 hari.

Lewat cuitan di akun @ridwankamil, Rabu (1/7/2020), disebutkan bahwa daerah-daerah itu masih zona kuning versi Gugus Tugas Provinsi Jabar, meski dalam skala lebih mikro ada daerah yang sudah masuk zona biru dan zona hijau.

Seperti diketahui, zona hijau (tidak terdampak) adalah daerah yang tidak ada kasus Covid-19, penyebaran Covid-19 terkontrol.

Zona kuning (risiko rendah) adalah daerah dnegan transmisi lokal mungkin bisa terjadi dengan cepat. Sementara, zona merah adalah daaerah berisiko tinggi

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) melaporkan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 secara akumulatif sebanyak 1.477 pada Kamis (2/7/2020) pagi. Dari jumlah itu, 1.622 pasien sembuh, 177 pasien meninggal dunia.

Berdasarkan laporan @kawalCOVID19, provinsi Jabar mencatatkan angka kematian pasien dalam pengawasan sebanyak 550 orang, Selasa (30/6/2020).

Sementara, orang dalam pemantauan atau ODP yang meninggal 41 orang. Temuan ini mengindikasikan angka meninggal terkait kasus Covid-19 cenderung lebih tinggi daripada data yang disampaikan pemerintah saat ini.

Bagaimana dengan sektor ekonomi Jabar?

Berdasarkan hasil kajian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar, sektor jasa mengalami penurunan mencapai 4,8 persen, dan sektor industri manufaktur menurun 4,2 persen, akibat pandemi Covid-19.

“Pertanian terkoreksinya hanya 0,9 persen. Menandakan pertanian ini tangguh selama Covid-19. Apalagi, dikombinasi dengan perdagangan digital, maka ekonomi masa depan, menurut saya, adalah balik kanan lagi ke bidang pertanian. Tapi dengan 4.0. Itulah masa depan Jawa Barat yang akan kami skenariokan,” ucapnya.

Ridwan Kamil optimistis setelah PSBB usai dan kini memasuki fase adaptasi kebiasaan baru (AKB) pelan-pelan ekonomi Jawa Barat kembali bergerak.

"Itu menandakan pergerakan ekonomi sudah terjadi, dan kita berharap di akhir Desember (2020) ekonomi Jawa Barat tidak seperti yang diprediksi terburuk, yaitu di bawah nol, tapi kita masih bisa ada diangka 2 sampai 2,5 persen,” katanya, Selasa (23/6/2020).

Selain optimistis perekonomian Jabar akan kembali menggeliat, para mahasiswa dan peneliti di Jabar juga berlomba-lomba menemukan alat kesehatan yang bermanfaat untuk mendeteksi Virus Corona seperti rapid test buatan Fakultas MIPA Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Rapid test yang diberi nama Deteksi Cepad, dan sudah diproduksi 5.000 kit untuk validasi. Kemudian, pada Juli akan diproduksi 10.000 kit , dan selanjutnya setiap bulan akan diproduksi 50.000 kit.

 “Jauh lebih akurat dan lebih murah dibanding rapid test impor sekarang ini. Keakuratan 80 persen, sudah hamper setara dengan tes PCR,” kata Emil.

Rapid test 2.0 itu menggunakan metode deteksi antigen bukan antibodi seperti yang selama ini dipergunakan. Adapun diberi nama Deteksi Cepad, kata Emil, sesuai semboyan “biar cepad asal selamat”.

Selain itu, Universitas Padjajaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan alat deteksi Covid-19 dalam bentuk mesin seperti polymerase chain reaction (PCR).

Alat tersebut diberi nama SPR (surface plasmonic resonance), dan harganya ebih murah dibanding mesin PCR, serta tidak memerlukan laboratorium khusus.

Target 100 Persen

Gugus Tugas Covid-19 Jabar terus mengejar target 100 persen pengetesan masif di pasar, objek wisata, dan terminal/ stasiun sebagai tiga titik paling rawan selama AKB.

Kapasitas tes di Jabar sudah mencapai 2.000 per hari, sehingga dalam seminggu pengetesan usap berbasis polymerase chain reaction (PCR) menyentuh angka 14 ribu. Totalnya, sudah  78.108 tes metode PCR yang dilakukan di Jabar.

Kendati demikian, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Abdul Kadir menyebut upaya pemeriksaan spesimen Covid-19 di Indonesia belum optimal.

Kadir beralasan hal itu disebabkan karena terbatasnya waktu kerja di sejumlah laboratorium dan pasokan spesimen yang masih rendah dari hasil penelusuran riwayat kontak terkait Covid-19 di tengah masyarakat.

Selain itu, pasokan spesimen dari hasil penelusuran riwayat kontak di tengah masyarakat belum tersaji dalam jumlah yang besar ke sejumlah laboratorium.

Adapun saat ini kapasitas pemeriksaan laboratorium di Indonesia mampu memeriksa hingga 30.900 spesimen per hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ridwan kamil Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top