Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris Didesak Siapkan Antisipasi Gelombang Kedua Virus Corona

Para menteri negara Inggris diperingatkan untuk melakukan tindakan segera atas risiko gelombang kedua virus corona.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  15:09 WIB
Suasana jalan Thames yang sepi di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
Suasana jalan Thames yang sepi di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - British Medical Journal menerbitkan surat terbuka yang memperingatkan para menteri negara Inggris untuk melakukan tindakan segera atas risiko gelombang kedua virus corona atau Covid-19.

Presiden Royal Colleges of Surgeons, Nursing, Physicians, dan GPs menandatangani surat itu. Hal tersebut terjadi setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan perubahan besar-besaran terhadap kebijaka penutupan atau pembatasan (lockdown) di Inggris.

Pada hari Selasa (22/6/2020), perdana menteri mengatakan toko, restoran, bioskop dan salon akan dapat dibuka kembali mulai 4 Juli 2020.

Kebijakan untuk menjaga 2 meter jarak sosial akan diganti dengan aturan 'satu meter plus'. Degan begitu, orang harus terpisah setidaknya 2 meter jika mungkin, tetapi harus tetap berjarak satu meter sambil mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko penularan, seperti memakai masker.

Aturan jaga jarak dua meter akan tetap diberlakukan di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Kepala penasihat ilmiah pemerintah Sir Patrick Vallance dan kepala petugas medis untuk Profesor Inggris Chris Whitty menekankan bahwa rencana Johnson tidak bebas risiko.

Setelah pengumuman perdana menteri, para pemimpin kesehatan menilai tentang seberapa siap Inggris akan menghadapi wabah virus baru.

"Sementara bentuk pandemi di Inggris di masa depan sulit diprediksi, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa gejolak lokal semakin mungkin dan gelombang kedua memiliki risiko nyata. Banyak elemen infrastruktur yang diperlukan untuk mengendalikan virus mulai diberlakukan, tetapi tantangan besar tetap ada," tulis dalam surat tersebut seperti dikutip BBC, Rabu (24/6/2020).

Para penulis surat itu, yang juga ditandatangani oleh ketua British Medical Association, mendesak para menteri untuk membentuk kelompok lintas partai dengan pendekatan empat negara yang konstruktif, non-partisan.

"Kajian itu seharusnya bukan tentang melihat ke belakang atau menghubungkan kesalahan, dan sebaliknya harus fokus pada bidang kelemahan di mana tindakan sangat diperlukan untuk mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut dan memulihkan ekonomi sepenuhnya dan secepat mungkin".

Mantan sekretaris kesehatan Konservatif Jeremy Hunt mendukung isi surat tersebut. "Biayanya kecil dibandingkan dengan biaya gelombang keduaCovid-19,"katanya.

Data terbaru menunjukkan 171 orang telah meninggal setelah tes positif untuk virus corona di Inggris, dengan total kasus mencapai 42.927 orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Virus Corona
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top