Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Donald Trump Serukan Hal Kontroversial saat Kampanye di Oklahoma

Salah satunya terkait ujaran rasisme. Presiden Amerika ke-45 itu kembali melabeli nama Covid-19 menjadi ‘Kung Flu’.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 Juni 2020  |  14:28 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump yang baru saja melakukan kampanye di Tulsa, Oklahoma menyerukan hal yang kontroversial seperti meminta menurunkan tes Covid-19 dan mengutarakan ujaran rasisme.

“Uji [Covid-19] seperti pedang bermata dua. Bagian jeleknya adalah … ketika Anda melakukan pengujian, Anda akan menemukan semakin banyak orang [sakit], semakin banyak kasus. Maka, tolong turunkan jumlah tesnya,” katanya, seperti dikutip dari CNN International, Minggu (21/6/2020).

Pembukaan pidato itu cukup mengejutkan mengingat AS mencatatkan kasus terbesar Covid-19 di dunia yang telah menelan 120.000 jiwa. Pakar kesehatan telah menegaskan bahwa tes menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi kasus, melakukan tracing, dan menyetop penyebaran virus.

Seorang administrasi mengungkapkan bahwa presiden hanya bercanda. Tak hanya itu, Trump juga mengungkapkan ujaran rasisme dengan kembali melabeli nama Covid-19 menjadi ‘kung flu’.

“Aku bisa menamainya Kung Flu. Aku bisa menyebutkan 19 versi nama lagi,” ungkap Trump.

Sementara itu, The Guardian melaporkan timbulnya keraguan bahwa Trump akan terpilih kembali setelah trump gagal memenuhi arena berkapasitas 19.000 di kubu Republikan Oklahoma.

“Sang kaisar tidak punya massa,” tweet Dan Pfeiffer, mantan penasihat senior Barack Obama.

Awalnya, Trump berencana melakukan kampanye di ruangan terbuka, tetapi tidak jadi karena kekurangan peserta.

Sementara, itu kampanye di dalam ruangan hanya dipenuhi dua per tiga pengikutnya dengan banyak kursi yang kosong di bagian atas dan area dasar, meski pihaknya mengklaim telah memberikan satu juta tiket masuk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemilu amerika serikat Donald Trump
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top