Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eks Menlu Sarankan Indonesia Ubah Arah Diplomasi saat New Normal

Covid-19 telah mengubah banyak pandangan politik dan ekonomi di tingkat global dan regional. Pandemi telah mengancam tatanan dunia yang tak efektif lagi.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  12:42 WIB
Eks Menlu Sarankan Indonesia Ubah Arah Diplomasi saat New Normal
Dokumentasi - Hassan Wirajuda dan Hillary Clinton - www.state.gov
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Luar Negeri pada 2001-2009 Hassan Wirajuda menilai Indonesia perlu menggeser arah politik luar negerinya ke bilateral dan regional seiring dengan hadirnya tatanan atau normal baru (new normal) akibat pandemi Covid-19.

Hassan mencermati bahwa Covid-19 telah mengubah banyak pandangan politik dan ekonomi di tingkat global dan regional. Pandemi telah mengancam tatanan dunia yang sudah tidak efektif lagi.

"Akibat pandemi Covid-19 sistem perdagangan menjadi sangat chaotic. Aturan perdagangan tidak berlaku. Negara-negara menerapkan kebijakan yang nasionalistik menuju kemandirian," ujarnya dalam diskusi bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu (17/6/2020).

Hal ini sangat tidak menguntungkan bagi negara yang memiliki ketergantungan kepada negara lain, misalnya, untuk memenuhi kebutuhan test kit, alat pelindung diri (APD) atau ventilator di masa pandemi.

Untuk itu, dia menilai, Indonesia perlu lebih menerapkan politik luar negeri ke arah regional dan bilateral.

"Memahami adanya perubahan besar, pasca pandemi, perlu ada penajaman fokus diplomasi Indonesia, atau pergeseran penegasan dari diplomasi multilateral ke diplomasi bilateral dan regional," ungkap Hassan.

Diplomasi bilateral harus ditujukan untuk mencapai target nyata guna memperkuat kemandirian bangsa di berbagai bidang, ideologi, politik ekonomi, sosial, budaya, dan militer sebagai di tren global baru pascapandemi.

Sementara diplomasi regional diperlukan untuk mencapai tatanan regional yang bisa menjadi payung dari hal-hal yang mengancam eksistensi Indonesia sebagai negara dan bangsa.

Dia mengakui aksi negara kuat seperti China yang leluasa bertindak dalam kawasan Laut China Selatan, dan baru-baru ini konflik dengan India, mencerminkan absennya tatanan regional yang efektif.

Menurutnya, kerja sama regional seperti yang tercermin dalam Asia Summit bisa menjadi forum dalam penyelesaian masalah ekonomi, politik, dan keamanan.

"Dalam lingkungan kawasan, Indonesia punya alasan untuk memainkan peran kepemimpinan regional. Untuk itu, diplomasi kita harus lebih membumi daripada mengukir langit," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenlu diplomasi
Editor : Oktaviano DB Hana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top