Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor Korporasi di Asia Ini Punya 'Tenaga Besar' untuk Pulih dari Pandemi

McKinsey melihat lima sektor strategis yang mampu bertahan dan bangkit dari tekanan akibat pandemi Covid-19. Beberapa sektor ini sudah mendominasi Asia sebelumnya.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 08 Juni 2020  |  06:23 WIB
Pengunjung duduk di tepi pantai di Victoria Harbour di distrik Tsim Sha Tsui di Hong Kong pada 29 Januari 2020. - Paul Yeung / Bloomberg
Pengunjung duduk di tepi pantai di Victoria Harbour di distrik Tsim Sha Tsui di Hong Kong pada 29 Januari 2020. - Paul Yeung / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Korporasi di Asia saat ini mungkin mencatat kinerja yang buruk dalam ukuran laba ekonomi secara agregat akibat dampak terpuruknya ekonomi yang dipicu oleh pandemi Covid-19.

Namun, kondisi ini tidak seharusnya mengaburkan titik terang di beberapa sektor strategis di Asia. Dari laporan diskusi McKinsey, sejumlah sektor memiliki peluang untuk bangkit dalam menghadapi new normal.

Menurut McKinsey, ada lima sektor korporasi utama yang memiliki peluang signifikan untuk kembali meningkatkan kinerja. Namun, McKinsey juga mencatat perusahaan di sektor tersebut masih perlu mengatasi beberapa kesenjangan kinerja yang signifikan. Berikut ini, lima sektor korporasi yang memiliki 'tenaga besar' untuk bangkit dari tekanan ekonomi :

1. Asia sudah dikenal sebagai pasar farmasi terbesar kedua di dunia, tetapi perusahaan farmasi di kawasan itu belum meningkatkan pangsa nilai global mereka.

Di seluruh dunia, industri farmasi menghasilkan laba bersih positif hingga US$105 miliar pada 2015–2017. Namun, Asia hanya menyumbang 6 persen dari total tersebut.  "Ini menunjukkan peluang yang cukup besar untuk peningkatan kinerja dan penciptaan nilai," ungkap McKinsey dalam laporannya.

Ekonomi Asia dan China yang maju memiliki kemampuan untuk bersaing dengan petahana Barat, sementara perusahaan-perusahaan di Asia yang baru muncul - terutama di perbatasan Asia, dan China - dapat memenuhi kebutuhan untuk pengiriman layanan kesehatan murah di dalam negeri dan secara bersamaan mampu memimpin pasar secara global dalam hal solusi kesehatan digital.

2. Asia telah menjadi pusat dari konsumsi seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat di wilayah tersebut yang berperan serta mendongkrak daya beli.

Namun, konsumsi di wilayah ini hanya berkontribusi sebesar 10 persen terhadap total ekonomi yang disumbang oleh perusahaan di sektor barang konsumsi di seluruh dunia.

Menurut McKinsey, perusahaan di sektor barang konsumsi dapat mengambil keuntungan dari peningkatan konsumsi kelas menengah yang berkembang di seluruh Asia dengan merger dan akuisisi (M&A) yang terprogram, membangun merek global, dan memperluas jangkauan mereka melalui platform digital.

3. Asia menyumbang pangsa permintaan energi global yang sangat besar dan terus meningkat. Alhasil, kontribusi tersebut mendorong peningkatan skala kinerja perusahaan besar di sektor ini.
Perusahaan di Asia menyumbang 43 persen dari daftar laba perusahaan dalam sektor energi dan bahan tambang secara global.

Angka ini naik dari 35 persen pada 2007.

Namun, supercycle komoditas berakhir dan perusahaan di Asia merasakan dampak kelebihan kapasitas. Pada 2015–2017, kerugian Asia di sektor energi mencapai US$62 miliar atau 30 persen dari kerugian global dalam laba ekonomi.

Sementara itu, kerugian dari sektor pertambangan di Asia mencapai US$ 50 miliar atau hampir dua pertiga dari kerugian global.

Namun demikian, McKinsey menilai perusahaan-perusahaan di Asia dapat memimpin transisi global ke masa depan yang lebih bersih dengan memperkuat keunggulan mereka dalam energi terbarukan dan elektrifikasi dan dengan berekspansi ke sektor bahan bakar yang tumbuh cepat, seperti gas alam cair.

4. Pada 2015-2017, real estat mencatat kerugian hingga US$69 miliar secara global. Namun, beberapa investor masih menunjukkan minat akan sektor real estat di Asia yang kemudian terkerek naik seiring dengan urbanisasi di regional tersebut.

Dalam menghadapi new normal, perusahaan real estat di Asia akan membutuhkan kompetensi baru dalam memperluas portofolionya dan memanfaatkan teknologi untuk mencetak perbaikan secara menyeluruh.

5. Sektor yang dinilai memiliki kemampuan untuk bangkit adalah perbankan. Asia telah menjadi pasar perbankan regional terbesar selama satu dekade terakhir.

Sektor perbankan Asia diyakini mamapu melanjutkan pertumbuhan seiring kenaikan pendapatan masyarakat dan perluasan kelas menengah.

McKinsey menekankan indikator proyeksi melihat banyak perbankan akan mengalami tekanan akibat kombinasi pertumbuhan ekonomi yang menurun, margin yang menipis dan kebutuhan efisiensi.

"Perbankan di Asia butuh melakukan konsolidasi untuk menambah dan memperdalam pengunaan teknologi digital mereka," ungkap laporan yang disusun McKinsey.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi real estate perbankan korporasi asia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top