Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emil Dardak dan Filosofi Keran Air saat New Normal Pandemi Corona

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak mengibaratkan pandemi Covid-19 seperti orang yang sedang menyiram air menggunakan selang bocor. Keran air tersebut ditutup terlebih dulu untuk menambal sejumlah kebocoran.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 07 Juni 2020  |  13:27 WIB
Emil Dardak - Antara/Didik Suhartono
Emil Dardak - Antara/Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengatakan implementasi new normal alias normal baru harus dilakukan dengan hati-hati. Dalam menerapkan new normal, perlu menyiapkan seluruh sistem dan melakukan penyeimbangan.

Dia mengatakan new normal tidak bisa diterapkan begitu saja, melainkan diuji pelan-pelan. Orang nomor dua di Jawa Timur itu pun menganalogikan situasi new normal, seperti halnya sebuah keran air.

New normal itu seperti keran. Jadi bahwa kita cari balance [keseimbangan],” kata Emil dalam sebuah diskusi daring dari Paguyupan Warga Ponorogo (Pawargo), Minggu (7/6/2020).

Dia mengibaratkan pandemi Covid-19 seperti orang yang sedang menyiram air menggunakan selang bocor. Keran air tersebut ditutup terlebih dulu untuk menambal sejumlah kebocoran.

Upaya menutup keran air ini sama dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan angka penularan, mempersiapkan fasilitas kesehatan, dan melakukan refocusing anggaran.

“Pada saat keran dimatikan kita cek yang bocor kita lakukan penambalan. Kita nyalakan lagi kerannya tapi tidak nyalakan full, tapi sedikit-sedikit kalau masih bocor tambal lagi,” katanya.

Emil melanjutkan, melakukan new normal sama saja dengan menyalakan keran air secara perlahan sembari memperbaiki selang yang bocor.

“Apabila kemudian setelah beberapa kali berusaha, kebocoran tetap ada, walaupun lebih kecil apakah kita nambal atau jalankan saja, atau misal ditahan pakai tangan. Itu analogi bisa kita pertimbangkan terkait Covid-19. Keran itu jadi penting buka-tutup, sesuaikan kemudian kita harus tambal cukup agar kebocoran tidak terlalu banyak,” terangnya.

Oleh sebab itu, tambahnya, pemberlakukan new normal bisa meniru sejumlah negara yang dilakukan secara bertahap, seperti Korea Selatan. Di Korsel, sambungnya, pelonggaran bisa dikecilkan ketika tiba-tiba ada lonjakan kasus positif virus corona.

Untuk Jawa Timur sendiri, tuturnya, pelaksanaan new normal bisa saja dilakukan, tetapi harus memperhatikan kondisi masing-masing daerah dan tetap mengikuti protokol pelonggaran PSBB.

Emil menyampaikan protokol PSBB yang diikuti, seperti tingkat penularan yang rendah atau rate of transmision (Rt), kemampuan melakukan pengetesan, dan kapasitas rumah sakit ketika wabah kembali merebak di satu kawasan.

Berdasarkan data thebonza.com, Rt di Jatim masih cukup tinggi, yakni 1,14 per hari ini (7/6/2020). DKI Jakarta saat melonggarkan PSBB rasio Rt berada di level 0,99. Namun, per hari ini naik ke level 1,00.

Menurut Emil, daerah seperti Malang Raya bisa melakukan pelonggaran PSBB karena rasio Rt sudah di bawah ketentuan. Begitu juga fasilitas rumah sakit dan kemampuan pengetesan sudah memenuhi standar.

Untuk Surabaya, ujarnya, saat ini tengah gencar dilakukan pengetesan hingga mencapai 5.000 spesimen sehari sehingga angka positif harian terlihat melonjak.

Jumlah kasus pasien terkonfirmasi positif di Jawa Timur per 6 Juni 2020 mencapai 5.835 orang. Terjadi lonjakan kasus mencapai 286 orang dalam sehari, tertinggi secara nasional. Adapun pasien dalam pengawasan mencapai 7.261 orang dan orang dalam pemantauan mencapai 25.476 orang.

Persentase pasien positif yg sembuh 24,15 persen, dirawat 63,43 persen dan meninggal 8,28 persen.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim Virus Corona Emil Dardak
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top