Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Merintis Damai di Afghanistan di Tengah Pandemi

Setelah Uni Soviet enyah, Afghanistan terlibat perang saudara sehingga kelompok bernama Taliban mengambil alih kekuasaan pada pertengahan 1990-an. Rezim tersebut baru jatuh pada 2001 ketika Amerika Serikat menginvasi negara Asia Barat tersebut.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  20:14 WIB
Pasukan keamanan Afghanistan./Antara - Reuters
Pasukan keamanan Afghanistan./Antara - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA — Mendengar nama Afghanistan, apa yang ada di benak kita? Pasti tidak jauh-jauh dari konflik dan perang.

Kekerasan bersenjata meledak ketika Uni Soviet mengirimkan pasukan pada 1979 untuk membantu rezim komunis di sana. Militer Uni Soviet terus diganggung dengan parlawanan para mujahidin selama satu dekade.

Setelah Uni Soviet enyah, Afghanistan terlibat perang saudara sehingga kelompok bernama Taliban mengambil alih kekuasaan pada pertengahan 1990-an. Rezim tersebut baru jatuh pada 2001 ketika Amerika Serikat menginvasi negara Asia Barat tersebut.

AS memang berhasil membentuk pemerintah baru, tetapi Taliban tetap eksis. Lambat laun, seiring dengan suksesi presiden AS, personil militer asal Negeri Paman Sam dikurangi.

Presiden Donald Trump juga tidak ingin tentara AS terus bercokol di Afghanistan. Setelah melalui berbagai tahapan perundingan, perjanjian damai dengan Taliban tertuang di atas kertas pada 29 Februari 2020.

Sebelum perjanjian damai diteken di Doha, Qatar, musuh ‘tak kelihatan’ bernama virus corona menginfiltrasi Afghanistan. Tepatnya pada 24 Februari, laporan pertama kasus positif terjadi di Provinsi Herat.

Menurut Sayed Hamid Mousavi dkk dalam artikel di jurnal Infection Control & Hospital Epidemiology, pemerintah merespons kejadian di Herat dengan melakukan pembatasan sosial. Kementerian Dalam Negeri mengenakan larangan berpergian dan berkumpul. Dua minggu kemudian, karantina ditetapkan di provinsi urban besar seperti Kabul dan Herat.

Seperti di negara lain, otoritas kesehatan setempat juga merilis kajian epedemiologi guna memprediksi penyebaran virus corona. Hasilnya, Kementerian Kesehatan memperkirakan 80% dari 31 juta rakyat Afghanistan akan tertular COVID-19 dengan ribuan kematian. Itu akan terjadi bila tidak dilakukan pencegahan secara ketat.

Peringatan cukup menakutkan itu mau tak mau harus diumbar ke publik agar dipatuhi. Apalagi, infrastruktur kesehatan negeri itu masih lemah akibat perang selama berpuluh tahun.

Sayed dkk mengutip data Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa Afghanistan merupakan negeri paling rentan di dunia. Rasio dokter per 10.000 populasi hanya 1,9, sedangkan 90% rumah sakit atau layanan kesehatan adalah milik swasta yang belum berpengalaman menangani COVID-19.

Prediksi mengerikan epidemiolog ternyata belum terbukti. Setelah tiga bulan lebih, kasus positif di Afghanistan hingga Kamis (4/6/2020) menurut situs resmi Kemenkes setempat mencapai 18.000 kasus dengan jumlah korban jiwa sebanyak 300 orang.

Ibu Kota Afghanistan, Kabul, berada di peringkat pertama daftar 34 provinsi dengan 6.693 kasus dan 39 kematian. Namun, korban jiwa terbanyak tercatat di Hirat dengan 57 korban dari 2.862 kasus.

Lemahnya infrastruktur kesehatan di Afghanistan bisa tergambarkan dari jumlah tes yang di bawah standar negara lain. Hingga Kamis, baru 43.569 warga yang mengikuti tes.

Meski demikian, demografi Afghanistan bisa menjelaskan mengapa prediksi epidemiolog belum terbukti. Menurut Sayed, saat ini sebanyak 71,5% populasi tinggal di pedesaan sehingga kontak dalam massa besar seperti di perkotaan minim.

Di tengah perang menghadapi virus corona, pemerintah Afghanistan masih harus berjibaku melawan Taliban dan organisasi-organisasi bersenjata lain. Pasalnya, perjanjian Taliban-AS tidak menjadikan pemerintah Afghanistan sebagai pihak.

Masyarakat Afghanistan sempat sedikit lega setelah Taliban dan pemerintah melakukan gencatan senjata selama 3 hari pada Idul Fitri 1441 H. Merujuk pemberitaan Tolonews, ajakan perdamaian juga sempat dikemukakan Presiden Ashraf Ghani pada Ramadan, tetapi tidak bersambut.

“Perdamaian adalah prioritas rakyat Afghanistan di mana kami menyambut setiap langkah positif yang membantu kita mengakhir perang,” katanya.

Setelah gencatan senjata berakhir, insiden antara pemerintah dan Taliban kembali terjadi. Berdasarkan Tolonews, Taliban menyerang militer pemerintah di Provinsi Parwan pada 28 Mei.

Sebelum Lebaran, Duta Besar Afghanistan untuk AS Roya Rahmani menuliskan harapan mengenai gencatan senjata kedua belah pihak dalam sebuah opini di The Hill. Rehat perang diharapkan bisa membuat pemerintah fokus menangani pandemi COVID-19 dan eksesnya.

“Afghanistan sekarang menghadapi dua perang: satu melawan terorisme dan satu lagi melawan virus corona,” katanya.

Langkah mengakhiri perang berkepanjangan menjadi lebih mudah setelah elite politik Afghanistan yang bertikai kembali bersatu. Presiden Ashraf Ghani memberikan kesempatan kepada Abdullah, bekas pesaingnya dalam pemilihan presiden, memimpin sebuah dewan untuk rekonsiliasi nasional.

“Kami berharap persatuan dan kerja sama dapat membuka jalan untuk gencatan senjata dan kemudian perdamaian abadi,” kata Ghani sebagaimana dikutip Al Jazeera pada 17 Mei.

Siapa tahu, berbagai inisiatif kala pandemi virus corona bisa membawa berkah berupa perdamaian abadi di Afghanistan...

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

taliban afganistan covid-19
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top