Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Presiden Trump Tunda Pertemuan G7, Ajak Rusia Ikut Serta

Pertemuan G7 sedianya digelar di AS pada Juni 2020. Namun, Presiden AS Donald Trump memilih menundanya.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 31 Mei 2020  |  09:52 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana pertemuan pemimpin kelompok tujuh negara atau G7 yang seharusnya dilakukan pada Juni 2020.

Meskipun diundur, AS akan tetap menjadi tuan rumah pertemuan G7. Sebagai gantinya, seperti dilaporkan Bloomberg pada Minggu (31/5/2020), pertemuan G7 berpotensi dilakukan saat musim gugur atau setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) AS dilakukan pada 3 November 2020.

Trump mengatakan berencana mengundang negara-negara di luar G7, seperti Rusia, Australia, India, dan Korea Selatan. Virus corona dan hubungan dengan China diproyeksi menjadi topik utama dalam pertemuan tersebut.

Adapun langkah untuk mengundang Rusia akan menjadi hal yang kontroversial. Pasalnya, Rusia diskors dari kelompok delapan negara ekonomi utama atau G8 pada 2014, setelah menganeksasi Krimea dari Ukraina.

Saat ini, negara-negara anggota G7 adalah AS, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Kanada, dan Italia.

Trump menuturkan pertemuan itu bisa diadakan akhir pekan sebelum atau setelah digelarnya Majelis Umum PBB, yang dijadwalkan berlangsung pada 15-30 September 2020.

"Mungkin saya akan melakukannya setelah Pilpres. Saya pikir waktu yang tepat adalah sebelum Pilpres," ujarnya.

Trump menambahkan jika rencana memperluas undangan G7 terealisasi, maka nantinya pertemuan itu akan jadi G10 atau G11.

Juru Bicara Gedung Putih Alyssa Farah menuturkan Trump ingin mengikutsertakan negara-negara yang terkena dampak Covid-19 dalam pertemuan dengan sekutu G7 tradisional. Pertemuan itu juga untuk membahas masa depan China.

Adapun China, negara dengan ekonomi nomor dua di dunia, tidak termasuk di antara peserta yang diusulkan Trump karena ketegangan antara Washington dan Beijing makin tinggi akibat isu virus corona dan Hong Kong.

Sebaliknya, Trump akan membawa Australia, yang telah bergabung dengan AS dalam mengkritik China terkait penyebaran corona virus di seluruh dunia.

Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengindikasikan keraguan untuk melakukan perjalanan ke AS pada Juni 2020, untuk pertemuan fisik G7. Meskipun, pertemuan tersebut dinilai Trump sebagai tanda normalisasi pascapandemi Covid-19 mematikan negara-negara ekonomi utama.

"Beliau tidak bisa mengonfirmasi partisipasinya," ujar Juru Bicara Pemerintah Jerman dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (30/5).

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga masih belum diketahui apakah akan menghadiri G7 jika digelar pada Juni 2020. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Donald Trump G7
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top