Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hacker Incar Pejabat Tinggi WHO, Begini Cara Kerja Mereka

Di tengah 'pertempuran' menghadapi ganasnya pandemi penyakit virus corona (Covid-19), para pejabat tinggi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) malah menjadi sasaran para peretas (hacker).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 April 2020  |  10:18 WIB
Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth
Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah 'pertempuran' menghadapi ganasnya pandemi penyakit virus Corona (Covid-19), para pejabat tinggi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) malah menjadi sasaran para peretas (hacker).

Menurut Chief Information Officer WHO, Bernardo Mariano, tim keamanan WHO telah melihat peningkatan jumlah percobaan serangan siber terhadap para pejabat sejak pertengahan Maret 2020.

WHO sendiri belum mengalami peretasan, tetapi kata sandi para karyawan telah bocor melalui situs-situs web lain,” ungkap Mariano, seperti dilansir melalui Bloomberg, Rabu (22/4/2020).

Dalam sebuah wawancara pada Selasa (21/4/2020), Mariano mengatakan bahwa serangan siber tersebut di antaranya menargetkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, serta Bruce Aylward, seorang utusan senior WHO yang memimpin tim tanggap Covid-19 di China.

Selain itu, lanjutnya, ada pula upaya berkelanjutan baru-baru ini untuk meretas komputer yang dioperasikan oleh tim yang terdiri dari empat karyawan WHO di Korea Selatan, serta insiden pekan lalu yang menargetkan staf di markas besar WHO di Jenewa.

“Para peretas mencari target-target tertinggi, yakni pejabat penting yang terlibat dengan pengerjaan Covid-19. Tim keamanan siber menjadi sangat sibuk dan kami harus meningkatkan sumber daya untuk mencoba melindungi diri sendiri dan bersikap waspada,” jelas Mariano.

Pihak-pihak berwenang di Israel, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Swiss disebutnya telah mengeluarkan peringatan kepada WHO dalam beberapa pekan terakhir tentang serangan siber pada sistem WHO, berdasarkan data intelijen yang telah mereka kumpulkan.

WHO biasanya menerima satu peringatan keamanan sebulan, tetapi sejauh ini pada bulan April organisasi kesehatan tersebut telah menerima delapan peringatan dari otoritas keamanan siber nasional.

“Mereka memberitahu kami tentang serangan [siber] oleh pelaku-pelaku yang menargetkan badan-badan pemerintah [nation-state hacker],” lanjutnya.

Banyak dari serangan itu merupakan upaya phishing atau spearphishing untuk menarik staf WHO agar mengklik tautan 'jahat' dalam surat elektronik yang sering dikirimkan ke akun kantor dan pribadi. Langkah ini akan mengunduh malware ke dalam komputer ataupun ponsel mereka.

Dalam beberapa kasus, laporan-laporan yang diterima WHO dari lembaga keamanan siber nasional telah mengidentifikasi asal-usul serangan dan tersangka pelaku. Meski demikian, Mariano menolak menyebutkan identitas tersangka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hacker who covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top