Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejumlah Negara Kecewa Kualitas Alkes untuk Corona Buatan China

Beberapa alasannya adalah tingkat akurasi yang tak sampai 30 persen. Padahal, misalnya di Spanyol, memiliki standar di atas 80 persen. Selain Spanyol, yang kecewa adalah Ceko, Belanda, Filipina, hingga Malaysia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 April 2020  |  16:44 WIB
Petugas kesehatan di Spanyol menggunakan kantong sampah sebagai alat pelindung diri saat menolong pasien virus corona Coovid-19. - Bloomberg
Petugas kesehatan di Spanyol menggunakan kantong sampah sebagai alat pelindung diri saat menolong pasien virus corona Coovid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa negara seperti Spanyol, Republik Ceko, Belanda, Filipina, dan Malaysia melaporkan alat uji atau test kit virus Corona (Covid-19) buatan China cacat dan tak akurat. Test kit didatangkan karena sudah digunakan lebih dulu dalam penanggulangan wabah virus itu di China dan Korea Selatan.

Spanyol dan Ceko sama-sama melaporkan masalah akurasi alat-alat uji cepat atau rapid test kit itu. Pemerintah Spanyol sampai mengatakan akan menarik sekitar 8 ribu kit uji yang dibeli dari Shenzhen Bioeasy Biotechnology, China, yang sudah terdistribusi di Madrid. Sebanyak 50 ribu lainnya yang belum digunakan pun akan dikembalikan.

Alat-alat itu disebut hanya memiliki akurasi 30 persen, jauh lebih rendah dari standar Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat, yakni 80 persen, sebagai standar yang diadopsi di Spanyol. Sebagai ganti alat-alat yang dikembalikan itu, Spanyol mendapat janji pengiriman ulang alat yang lebih baik.

Spanyol memesan bahan-bahan medis dari China total senilai US$465 juta, termasuk di dalamnya ventilator dan alat pelindung diri untuk para petugas medisnya.

Adapun Republik Ceko sudah mengeluarkan anggaran sebesar US$546 ribu untuk 150 ribu alat uji cepat dari perusahaan yang sama, yang belakangan diketahui 80 persen di antaranya rusak.

Kedutaan China di Spanyol berdalih bahwa perusahaan yang dimaksud tidak memiliki lisensi untuk mengekspor alat tes Covid-19. Namun, Bioeasy mengklaim bahwa produknya telah disertifikasi untuk dijual di Eropa. Mereka menyatakan bisa saja terjadi kesalahan dalam penggunaan alat atau pengambilan sampel yang membuat hasil uji tak akurat.

Saat ini Pemerintah China sedang menyelidiki Shenzhen Bioeasy Biotechnology atas tuduhan menjual test kit yang cacat dan dengan harga yang mahal ke Spanyol dan Ceko itu. Beijing juga memastikan peralatan medis lain yang datang atas sumbangan Pemerintah China ke dua negara itu tidak termasuk buatan Bioeasy.  

Alat uji bukan satu-satunya yang bermasalah. Kementerian Kesehatan Belanda mengatakan pada Sabtu, 28 Maret, telah menarik 600 ribu masker yang didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit karena tak pas dipakai. Masker N95 itu juga didapati gagal memenuhi persyaratan keselamatan karena kualitas penyaringnya yang tidak sesuai.

Tak ada keterangan asal pabrikan yang menyuplai masker-masker itu. Tapi disebutkan kalau Belanda telah membekukan rencana pengapalan alat kesehatan lainnya yang dari China.

Beda lagi dengan di Filipina. Pada Sabtu lalu, 28 Maret, otoritas negara itu sempat mengumumkan bahwa hanya 40 persen dari 100 ribu alat tes yang dibeli dari perusahaan asal China yang lainnya, yakni BGI Group dan Sansure Biotech, yang akurat.

Keesokan harinya, setelah protes resmi ke Kedutaan China di Manila, otoritas kesehatan Filipina mengubah pernyataan sebelumnya. Filipina mengklaim bahwa tingkat akurasi alat yang dibeli dari China berada dalam standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Dari Malaysia, juga ada keluhan buruknya akurasi test kit Covid-19 yang diimpor dari China. Menurut media setempat, saat ini rumah sakit negara itu bersiap-siap untuk mendapatkan peralatan baru dari Korea Selatan dan Taiwan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona

Sumber : Tempo

Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top