Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lockdown dan Mirisnya Orang Miskin India

Pandemi ini juga menjelaskan betapa India sangat tidak siap untuk memenuhi kebutuhan jutaan pekerja harian yang bergantung dari apa yang diperoleh setiap harinya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Maret 2020  |  17:26 WIB
Suasana pedestrian di Mumbai, India, setelah pemberlakuan lockdown pada 25 Maret 2020. Bloomberg
Suasana pedestrian di Mumbai, India, setelah pemberlakuan lockdown pada 25 Maret 2020. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Jalan-jalan yang biasanya ramai di India, mendadak sepi ketika negara itu resmi menerapkan karantina nasional selama 21 hari mulai Rabu, 25 Maret 2020. Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan kebijakan itu diambil untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (COVID-19).

Namun, kebijakan tersebut seolah mengemukakan kembali jurang pemisah yang tajam antara si kaya dan jutaan orang miskin di negara berpenduduk 1,3 miliar itu.

Pandemi ini juga menjelaskan betapa India sangat tidak siap untuk memenuhi kebutuhan jutaan pekerja harian yang bergantung dari apa yang diperoleh setiap harinya. India juga dinilai kewalahan menjaga arus barang-barang dan layanan penting ketika masyarakat diminta untuk tetap tinggal di rumah.

Sampai Sabtu 28 Maret 2020, India melaporkan 834 infeksi dan 19 kematian. Namun, ada kekhawatiran yang berkembang bahwa negara itu akan segera kewalahan dengan kasus-kasus tersebut.

Pekerjaan pembangunan dihentikan di Mumbai, salah satu kota besar di India. Kompleks apartemen dan lingkungan perumahan di banyak kota di India telah mengeluarkan larangan terhadap masuknya pekerja paruh waktu dan pengemudi. Meskipun hal ini juga berlaku di banyak negara, tetapi di India, langkah ini menegaskan biaskelas yang mengakar.

"Kebanyakan orang bereaksi karena takut, melarang migran, pekerja harian dari lingkungan keamanannya, melarang bekerja tanpa pembayaran bulanan, dan menyalahkan mereka [orang miskin] karena menyebarkan virus," kata Arpita Chatterjee, seorang editor lepas di New Delhi, dilansir Bloomberg, Minggu (29/3/2020).

Padahal menurutnya, penyakit itu sebenarnya dibawa oleh orang-orang kelas menengah yang bepergian ke luar negeri, bermigrasi melalui bandara. Namun, masyarakat miskin yang paling rentan dan tidak memiliki sumber daya untuk melawan.

Peraturan itu tampaknya hanya berlaku untuk pekerja rumah tangga di sebagian besar wilayah. Buktinya, teman dan kerabat yang memasuki bangunan dapat melenggang dengan leluasa tanpa adanya protokol keamanan.

Orang-orang berkumpul di luar toko-toko yang tutup di dekat pasar rempah Khari Baoli di Delhi pada 22 Maret. Bloomberg

Desas-desus itu tanpa menyebar melalui ponsel. Foto-foto poster karantina yang ditempel di luar rumah diedarkan dengan sedikit keprihatinan tentang privasi atau bahkan akurasi.

"Saya cacat, sakit kronis dan hidup sendiri di apartemen sewaan di Delhi Timur. Sejak karantina diumumkan, saya merasa gugup. Bahan makanan saya habis dan hanya akan berlangsung selama seminggu. Tidak ada pengiriman online yang berfungsi di area saya," kata Abhisek Anicca, penyair dan akademisi India.

Dia mengatakan, meskipun ada jaminan pemerintah bahwa persediaan makanan dan kebutuhan pokok lainnya tidak akan terpengaruh, toko-toko di banyak kota kehabisan persediaan. Bahkan, ada laporan bahwa truk yang mengangkut suplai ditahan oleh polisi di perbatasan negara. Produsen peralatan medis juga mengatakan perlu perjuangan untuk memastikan bahan baku dan pekerja dapat mencapai pabrik.

PM Narendra Modi mengumumkan karantina nasional pada Selasa 24 Maret 2020 malam. Kebijakan itu telah memukul jutaan masyarakat miskin India yang paling rentan. Ketika pemadaman listrik bertahap diumumkan seminggu yang lalu, ratusan ribu orang mulai bergerak meninggalkan kota, panik karena terdampar tanpa pekerjaan, uang atau makanan.

Masyarakat yang pulang dari kota-kota besar kemudian menjalani uji kesehatan sebelum memasuki desa.

Rajeev Gupta, seorang broker real estat dari Delhi yang berada di desanya di distrik Muzaffarpur di negara bagian Bihar sebelum karantina diumumkan mengatakan kebanyakan orang di daerah pedesaan mempraktikkan social distancing.

"Ada ketakutan di mana-mana. Virus corona telah menjadi topik utama diskusi," kata Gupta.

Namun, jutaan masyarakat lainnya masih tertahan karena semua pergerakan kereta api di seluruh negeri telah dihentikan. Pemerintah mengumumkan paket bantuan senilai US$22 miliar pada Kamis lalu. Namun, teror itu jelas terlihat ketika keluarga duduk meringkuk di bawah jembatan dan di dekat halte bus tidak yakin apa yang terjadi selanjutnya.

Sebuah kereta yang menganggur berdiri di atas sebuah platform di Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus (CSMT) selama penutupan di Mumbai pada 25 Maret. Bloomberg

Media lokal melaporkan ribuan orang hanya berjalan kaki ratusan kilometer menuju desa sambil menggandeng anak-anak mereka dan membawa barang-barang.

Di bawah flyover di Delhi Selatan, Puran bersama keluarganya tidak berdaya dan terpaksa mengemis. Para wanita dan anak-anak meminta uang, para pria bekerja sambilan sebagai buruh harian. Jalanan kosong dan tidak ada pekerjaan.

"Karena penyakit ini kami tidak punya pekerjaan. Kami tidak bisa pulang. Bagaimana kita bisa hidup dengan ini?" kata Puran.

Orang-orang duduk di luar toko-toko yang tutup di Pasar Crawford selama penutupan di Mumbai, pada 25 Maret. Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india Lockdown
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top