Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berperang Lawan Covid-19, Doni Monardo Tak Pulang ke Rumah

Kenali dirimu dan kenalilah musuhmu. Kalimat tersebut menjadi kunci bagi Doni Monardo untuk berperang menangani virus Corona (Covid-19).
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 25 Maret 2020  |  18:44 WIB
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo siap berperang melawan virus Corona (Covid-19) dan memutus mata rantai penyebaran pandemi global di Indonesia. - istimewa
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo siap berperang melawan virus Corona (Covid-19) dan memutus mata rantai penyebaran pandemi global di Indonesia. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Lebih dari sepekan, Doni Monardo tak pulang ke rumah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sekaligus Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 itu kini banyak menghabiskan waktu di Graha BNPB.

Aktivitas Doni penuh di rumah dan bertemu banyak orang, membuatnya tak pulang ke rumah. Kantornya tak hanya menjadi tempat kerjanya, tetapi juga rumah baginya, paling tidak untuk sementara waktu. Sampai berapa lama? Doni pun tak bisa memperkirakan hal tersebut. Pikirannya tersita pada upaya penanganan wabah Covid-19.

Berikut petikan obrolan antara Doni Monardo dengan sejumlah pemimpin redaksi di kantornya pada Senin (23/3/2020) malam, yang disarikan oleh Bisnis Indonesia.

Kesibukan di BNPB sejauh ini

Sejak 1 Januari, BNPB non-stop bergerak. Mulai urusan banjir hingga pada saat pemerintah memutuskan kepulangan WNI di Wuhan, China. Masalah yang dihadapi BNPB luar biasa. Akan tetapi, karena sudah banyak pengalaman, kami bisa mengatasinya. Padahal, [orang-orang di BNPB] sipil semua. Yang tentara saya sendiri. 

Penunjukkan sebagai Ketua Pelaksana Gugus Tugas Penanganan Covid-19

Saya dapat surat perintah sebagai Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 pertengahan Maret lalu. Ternyata saya lihat di BNPB ini tidak ada direktorat yang menangani wabah.

Padahal, dalam Inpres No. 4/2019 [Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi. Dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia] sudah ditegaskan peran BNPB baik pada masa fase pencegahan, fase pendeteksian, dan fase respons.

Di situ BNPB terlibat semua. Maka, begitu saya ditugaskan, saya undang teman-teman yang punya akses ke perguruan tinggi, dan dengan segala keterbatasan membangun sebuah jaringan. Sampai akhirnya terbentuk organisasi secara struktural walaupun orangnya belum ada. Pejabat-pejabat belum terisi semua.

Kesulitan yang dihadapi

Biasanya saya ngurusin tentara. Sekarang yang dihadapi profesor doktor. Pengalaman mereka sudah banyak sekali. Saya biarkan mereka berdebat dan memutuskan yang terbaik, dan akhirnya kami bangun jaringan ke seluruh daerah.

Ini sesuatu yang baru. Kita awalnya santai. Belakangan terkaget-kaget apalagi setelah tahu jumlah laboratorium yang periksa baru 1 unit. Sekarang ini sudah 34 unit. Ini fenomena gunung es. Yang ketahuan sedikit. Faktanya atau yang sudah pasti, ya yang meninggal. Berapa yang positif? Bisa jadi sangat banyak, apalagi jika melihat pergerakan orang-orang yang positif. Dengan demikian, sekarang ini dibutuhkan semangat kebersamaan.

Yang dilakukan BNPB

Kalau melihat apa yang kami lakukan, sebetulnya ada tiga front. Pertama, menghadapi virus itu sendiri atau penyakitnya. Kedua, birokrasi dalam artian bagaimana menyelaraskan pemikiran yang berbeda dengan keputusan politik negara. Ketiga, pemberitaan yang belum tentu benar alias hoax.

Ini yang harus kami hadapi. Energi yang terkuras luar biasa. Apalagi berita yang faktanya tidak benar dan sudah terlanjur beredar. Itu yang buat lelah. 

Analogi rangkaian kereta api & perang

Kalau saya melihat, kita berada pada rel yang sekarang kita lalui. Kita berada pada suatu rangkaian kereta api, bersama gerbongnya. Lokomotifnya adalah Pak Jokowi dan kita gerbongnya. Manakala satu gerbong jatuh, maka seluruh rangkaian akan terguling.

Kondisi saat ini bisa dikatakan sebagai sebuah peperangan atau sebuah pertempuran. Pak Jokowi adalah panglimanya. Ketika ada yang tidak menaati panglima, kita pasti kalah.

Mengapa analogi perang? Pertama, banyak korban. Kedua, ini tidak hanya terjadi di negara kita. Negara lain juga. Dalam teori bencana, tidak ada satu pun negara yang sangat siap menghadapi kondisi ini. Amerika, Inggris, Italia, Iran, dan lain-lain, semua menghadapi hal yang sama.

Keputusan politik suatu negara

Ketika saya susun format tentang bagaimana harus bekerja sama, narasi tunggalnya adalah ini keputusan politik suatu negara. Pak Jokowi adalah kepala negara. Kita adalah warga negara. Oleh karena itu, tidak ada alasan lain bagi kita untuk keluar dari kebijakan  yang diputuskan.

Di sini, kita harus bisa tunjukkan etika sebagai sebuah bangsa yang punya kemampuan. Kita wajib dan berhak ikut serta bela negara. Sekarang ini negara kita sedang terancam. Ancamannya wabah.

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. - Garibaldi Thohir menyerahkan bantuan senilai total Rp20 miliar kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diwakili oleh Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 - Doni Monardo melalui program "Adaro Berjuang untuk Indonesia" di Graha BNPB, Jakarta Timur (Senin, 23/03 - 2020). Istimewa / Adaro

Kenali dirimu, kenali musuhmu

Saya berusaha membuat kita semua punya frekuensi yang sama. Bagaimana agar kita mengetahui ancaman ini. Kenali dirimu, kenali musuhmu. 1.000 kali kau berperang, 1.000 kali kau akan menang. Itu strategi Sun Tzu.

Saya juga punya kiat untuk mengatasi bencana. Kenali ancamannya, siapkan strateginya. Ketahui masalahnya, carikan solusinya. Ini menggabungkan pemikiran Sun Tzu dan strategi yang selama ini saya manfaatkan dalam menyelesaikan masalah kebencanaan. Saya ramu menjadi suatu pola.

Artinya apa? Semua orang harus paham soal ancaman ini. Sekarang ancamannya virus. Seberapa banyak kita mengetahui karakter virus ini. Kita dituntut belajar. Kalau tidak, kita tidak tahu siapa musuh kita. Virus ini adalah musuh yang paling berbahaya. Dia tidak kelihatan dan sangat cepat penularannya. Tanpa pandang bulu. Tanpa melihat golongan. Bisa kaya bisa miskin. Bisa terjadi di mana saja. 

Perlu kerja sama semua pihak

Dalam kondisi ini, kita semua harus bekerja sama. Kondisi saat ini seperti main biliar, satu boleh dilempar, bola itu bisa bergelinding ke mana aja. Ketika tidak ada kerja sama, cepat atau lambat pasti akan menular.

Kerja sama antara negara pun harus ada, sebab kondisi saat ini seperti main pimpong. Dulu virus itu hanya ada di China. Sekarang lihat, virus ini kembali ke China lagi. Jadi, ini perlunya ada kerja sama antarnegara. Inilah yang harus disampaikan agar semua paham. 

Narasi social distancing

Narasi jaga jarak atau social distancing harus dipahami oleh semua orang. Berhenti berpolemik soal status. Tidak akan ada gunanya. Hentikan diskusi.

Kita harus fokus menyampaikan pesan ini ke public soal apa itu jaga jarak. Dilarang berkerumun. Dilarang berdekatan. Hindari kerumunan.

Menurut saya, selama rakyat tidak tahu social distancing dengan Bahasa mereka atau Bahasa rakyat, maka kebijakan ini tidak akan pernah berhasil.

Lockdown atau karantina wilayah

Masih ada polemik tentang lockdown, semi lockdown, slowdown dan sebagainya. Selama rakyat tidak tahu soal ini, bisa jadi kita akan melampaui China. Ditambah lagi sekarang kita tidak kompak.

Antara tokoh bicara yang tidak sesuai dengan politik negara. Padahal, keputusan Jokowi itu politik negara, bukan kepentingan golongan. Ini untuk menyelamatkan negara dan menyelamatkan bangsa.

Kalau seandainya pejabat daerah paham dan cepat/tanggap bagaimana proses pembagian kekuasaan dan daerah, kepala daerah paham dalam menyusun rencana kerja. Bencana itu tanggung jawab daerah. Kondisi sekarang ini, begitu ada masalah yang berhubungan dengan bencana, dibilang itu urusan pusat.

Kalau ini tidak disadari bahwa harus ada pembagian kewenangan, pemerintah pusat tidak akan bisa atur dengan segala keterbatasan yang ada. Dibutuhkan kepemimpinan kuat di daerah. Kami tidak bisa bergerak sendiri.

Soal lockdown, ya boleh lockdown. Namun, kita belajar dulu di tingkat RT. Kalau ada 2 atau 3 orang dalam satu RT yang positif, lakukan lockdown. Satu RT tidak boleh ke mana-mana. RT gagal, bergerak ke RW. Istilahnya isolasi lokal atau karantina lokal.

Dari tingkat RT, ke RW, dan lalu ke kelurahan. Ini akan membantu kita ketika kita harus mengambil langkah isolasi ke tingkatan yang lebih besar, jadi kita sudah pelajaran.

Pemanfaatan Dana Desa

Pencegahan Covid-19 ini harus masif. Kepala desa harus diberikan peran yang lebih besar dalam mengelola desa.  Ada dana desa yang bisa dimanfaatkan. Dulu kan tidak ada.

Menurut saya, tidak ada negara yang seperti Indonesia, yang memiliki struktur sampai ke RT/RW. Nah, dana desa bisa digunakan untuk menangani COVID-19. Kalau ini jalan, maka bagus sekali. Desa punya Karang Taruna, PKK, dan Posyandu. Struktur ini kuat sekali. Akan tetapi, mohon maaf konsep seperti ini hanya ada di kalangan terbatas.

Disiplin, disiplin, dan disiplin

Menurut saya, ada tiga kunci untuk berhasil. Pertama, disiplin. Kedua, disiplin. Ketiga, disiplin. Selama kita tidak menerapkan disiplin dari atas sampai bawah, kita tidak akan pernah berhasil.

Tingkat kedisiplinan bangsa kita seperti apa? Lihat saja, tidak ada kesadaran untuk bisa jaga jarak. Sudah tahu, sudah diingatkan, dan sudah dikasih tanda-tanda, tetapi tetap saja diabaikan. Urusan mati dilihat sebagai urusan Tuhan. Sudah takdir.

Saya melihat penting sekali bangun suatu strategi. Ini perang. Jadi kalo manajemen di negara kita ini tidak bagus, satu sama lain saling cakar-cakaran, keputusan Presiden dipolemikkan, berat kita. Habis kita.

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bnpb virus Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top