Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Studi : Petugas Kesehatan Virus Corona Alami Tekanan Psikologis

Berbagai sumber menyatakan bahwa sekitar 70% dari semua petugas kesehatan adalah wanita. Di Hubei, tempat wabah virus corona baru itu bermula, dilaporkan bahwa 90% petugas layanan kesehatannya adalah wanita.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  09:30 WIB
China melakukan langkah-langkah mengendalikan penyebaran virus corona. - Reuters
China melakukan langkah-langkah mengendalikan penyebaran virus corona. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Petugas kesehatan yang berusaha memerangi wabah COVID-19 tidak hanya mempertaruhkan hidup mereka di garis tetapi, tetapi juga mempertaruhkan kesehatan mental mereka sendiri.

Sebuah studi baru yang dilakukan terhadap 1.257 petugas kesehatan di 34 rumah sakit dan klinik di China menemukan bahwa hampir tiga per empat dari mereka mengalami tekanan psikologis ketika berperang melawan virus tersebut.

Studi itu melaporkan setengah dari peserta menunjukkan gejala berkaitan dengan depresi. Sekitar 44 persen di antaranya menunjukkan gejala kecemasan sementara 34 persen dari peserta menunjukkan adanya gejala insomnia.

Tak hanya itu, sekitar 71 persen dari semua peserta juga menunjukkan adanya tanda-tanda tekanan psikologis, dengan gejala kesehatan mental paling parah terlihat di antara perawat, wanita, dan petugas kesehatan di Wuhan, tempat wabah itu berasal.

“Mereka mengalami tingkat tekanan psikologis yang sangat tinggi, tetapi memang seorang perawat di garis depan mengalami depresi, gelisah, dan insomnia ... itu adalah respons yang normal,” kata Christine Carter, sosilolog dari Greater Good Science UC Barkeley Center seperti dikutip Insider, Selasa (24/3).

Studi tersebut menyatakan bahwa rata-rata wanita mengalami lebih banyak tekanan dibandingkan dengan pria dan pekerja garis depan mengalami lebih banyak kesulitan daripada pekerja lini kedua.

Petugas kesehatan di Wuhan, Hubei yang memiliki jumlah kasus tertinggi di China juga menunjukkan lebih banyak tekanan dibandingkan daerah lainnya yang terjangkit COVID-19.

Studi ini mencatat, tekanan psikologis yang terjadi ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor misalnya peningkatan jumlah kasus, beban kerja yang luar biasa, liputan media yang konstan, dan kurangnya dukungan emosional.

Data penelitian ini dikumpulkan semala enam hari dan dianalisis selama empat minggu lamanya. Para penulis penelitian mengakui ada keterbatasan dalam studi ini karena tidak mencatat kondisi mental peserta sebelumnya.

Namun demikian, para ahli mengatakan penelitian ini menunjukkan bahwa negara-negara di seluruh dunia harus menyadari tingkat tekanan psikologis yang dihadapi petugas kesehatan dalam masa pandemi dan meminta seluruh pihak untuk terus mendukung mereka.

Tingkat Stres, Depresi, dan Kecemasan Paling Tinggi Dialami Wanita

Berbagai sumber menyatakan bahwa sekitar 70% dari semua petugas kesehatan adalah wanita. Di Hubei, tempat wabah virus corona baru itu bermula, dilaporkan bahwa 90% petugas layanan kesehatannya adalah wanita.

Dalam penelitian ini, 76% peserta adalah wanita dan sebagian besarnya merupakan perawat yang sudah menikah, dengan rentang usia sekitar 25 hingga 40 tahun.

“Studi kami menunjukan bahwa menjadi seorang wanita dan memiliki gelar teknis menengah dikaitkan dengan tingkat tekanan depresi berat, kecemasan, dan kesulitan,” kata penulis penelitian tersebut.

Jon Horney, ahli epidemiologi di University of Delaware mengatakan bahwa studi bencana lain juga menemukan fakta bahwa wanita lebih meungkin mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan dengan pria.

“Ketika terkena bencana, wanita lebih cenderung untuk memanifestasikan gejala tekanan emosional daripada pria. Mereka lebih mungkin menyalahkan diri sendiri dan menggambarkan citra diri yang negatif,” katanya kepada Insider.

Adapun, penulis penelitian berteori bahwa perawat memiliki hasil mental yang lebih buruk daripada dokter. Hal ini disebabkan perawat merupakan petugas daris depan yang memiliki risiko infeksi tertinggi karenajumlah kontak yang sering dengan pasien.

Mereka juga biasanya memiliki pengalaman kerja yang tidak lama sehingga kurang yakin pada diri mereka sendiri. Itu semua telah menambah perasaan ketidakpastian yang lebih besar dan kurangnya kontrol diri.

Tingkat Kecemasan Tetap Tinggi Setelah Wabah

Sebuah studi lain yang dirilis pada 2007 menemukan bahwa setahun setelah wabah SARS di China pada 2003, petugas layanan kesehatan yang berada di garis depan ketika itu masih mengalami stres dan kecemasan yang tinggi.

Selaini tu, studi lainnya yang dipublikasikan pada 2012 juta menemukan bahwa tiga tahun setelah wabah SARS, hampir seperempat karyawan rumah sakit di Beijing yang disurvei masih mengalami gejala depresi serupa.

Studi menunjukkan para pekerja takut mengalami infeksi yang terjadi pada beberapa petugas kesehatan. Mereka juga merasa stigmatisasi, teriolasi, dan khawatir menularkan infeksi pada keluar atau kerabat.

Carter mengatakan orang yang saat ini berada di garis depan COVID-19 juga mungkin mengalami trauma jangka panjang yang serupa dengan petugas kesehatan selama SARS.

“Di masa depan, ketika mereka masih di garis depan, ada kemungkinan mengalami peningkatan kecemasan yang menimbulkan gangguan. Kita harus merencanakan perawatan untuk orang-orang ini. Mereka akan membutuhkan lebih banyak perawatan kesehatan mental ketika semua ini berakhir,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top