Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Isolasi Nasional, Belajar dari Kasus Malaysia

Malaysia menyatakan tidak ada pilihan lain kecuali melakukan isolasi nasional demi mencegah terus meluasnya wabah virus Corona.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 16 Maret 2020  |  22:39 WIB
Siaran televisi saat menayangkan pengangkatan Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri ke delapan Malaysia oleh Raja Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (1/3/2020). - Bloomberg/Samsul Said
Siaran televisi saat menayangkan pengangkatan Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri ke delapan Malaysia oleh Raja Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (1/3/2020). - Bloomberg/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Pilihan tegas akhirnya harus dilakukan Malaysia. Negeri itu memilih opsi lockdown alias isolasi untuk memutus penyabaran virus Corona.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengumumkan penguncian nasional yang berlaku selama dua minggu sejak 18 Maret. Semua aktivitas bisnis dinyatakan tutup kecuali toko yang menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, warga Malaysia pun dilarang bepergian ke luar negeri, aktivitas massal dan pertemuan besar di seluruh negeri pun dilarang.

Langkah drastis itu diambil Malaysia demi membendung lonjakan infeksi virus Corona.

"Pemerintah memandang situasi ini dengan serius, terutama dengan perkembangan gelombang kedua [infeksi]," kata Muhyiddin saat mengumumkan isolasi nasional.

"Kami tidak bisa menunggu lebih lama hingga situasi menjadi lebih buruk. Tindakan drastis harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit dengan membatasi pergerakan publik. Ini adalah satu-satunya cara kita dapat mencegah lebih banyak orang terinfeksi oleh wabah yang dapat menghancurkan kehidupan,” tegas Muhyiddin, seperti dikutip SCMP, (Minggu (16/3/2020).

Gerakan dan pertemuan massa di seluruh negeri telah dilarang, termasuk kegiatan keagamaan, olahraga, sosial dan budaya. 

Untuk menegakkan aturan itu, semua rumah ibadah dan tempat bisnis harus ditutup kecuali supermarket, pasar umum, toko serba ada dan toko serba ada yang menjual kebutuhan sehari-hari. Semua kegiatan keagamaan di masjid akan ditangguhkan, kata Muhyiddin, termasuk shalat Jumat.

Perdana menteri juga mengatakan semua orang Malaysia yang baru saja kembali dari luar negeri diharuskan menjalani pemeriksaan kesehatan dan karantina sendiri selama 14 hari.

Tak cukup sampai di situ, pembatasan masuk juga dikenakan kepada wisatawan. Sebaliknya, orang Malaysia pun dilarang bepergian ke luar negeri.

Selain itu, semua taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah serta sekolah swasta, serta semua lembaga pendidikan tinggi negeri dan swasta dan lembaga pelatihan keterampilan nasional akan ditutup.

Muhyiddin juga mengumumkan penutupan semua tempat pemerintah dan swasta kecuali yang terlibat dalam layanan penting, termasuk air, listrik, energi, telekomunikasi, transportasi, penyiaran, keuangan, keamanan dan kesehatan.

Jumlah kasus Corona di Malaysia mencapai angka 553, tertinggi di Asia Tenggara.
Sebanyak 125 kasus baru dilaporkan pada Senin. Sebanyak 95 kasus di antaranya terkait dengan tabligh akbar umat Islam bulan lalu.

Tabligh akbar itu dihadiri sekitar 16.000 orang, berlangsung dari 27 Februari hingga 1 Maret. Dari 14.500 warga Malaysia yang hadir, hanya 7.000 yang memeriksakan diri. .

Sejauh ini, total 42 pasien di Malaysia telah dinyatakan pulih dari telah dipulangkan. Sisanya, 511 orang masih berada di rumah sakit dengan 12 di antaranya dalam perawatan intensif.

Kita tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Apakah Malaysia berhasil dengan langkah isolasinya atau justru sebaliknya. Satu hal yang pasti, Malaysia sudah memberikan pelajaran soal bagaimana membuat pilihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia lockdown

Sumber : SCMP

Editor : Saeno
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top