Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Diharapkan Punya Laboratorium Manajemen Bencana

Selama ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak diterjang bencana. Atas fakta itu, pemerintah tak ingin Indonesia sebagai "super market" bencana saja, pun dengan labolatorium manajemen bencana.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 24 Februari 2020  |  19:05 WIB
Ilustrasi - Bangunan yang porak-poranda akibat gempa bumi 9 Skala Richter (SR) yang memicu tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, Jepang, pada 11 Maret 2011. - Bisnis/Reuters
Ilustrasi - Bangunan yang porak-poranda akibat gempa bumi 9 Skala Richter (SR) yang memicu tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, Jepang, pada 11 Maret 2011. - Bisnis/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA-- Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi supermarket bencana, melainkan juga laboratorium manajemen bencana yang baik di dalam maupun luar negeri.

Hal tersebut diungkapkan Kepala BNPB, Doni Monardo, saat membuka soft launching Asia Disaster Management and Civil Protection and Conference (Adexco) di Graha BNPB, Jakata Timur, pada Senin (24/2/2020).

Adexco akan diselenggarakan di Jakarta International Expo, Kemayoran Jakarta pada 20 – 22 Oktober 2020 mendatang.

“Ini salah satu cara untuk memformulasikan solusi jangka panjang, terlebih lagi dalam konteks membangun ekosistem. Ini membutuhkan waktu lama,” ujar Doni.

Lebih lanjut, Doni menuturkan kategori bencana dibagi dalam empat domain. Yaitu bencana geologi, hidrometeorologi I, hidrometeorologi II dan bencana non-alam. Bencana hidrometeorologi yang pertama lebih pada kebakaran hutan dan lahan, sedangkan kedua menyangkut banjir, banjir bandang, longsor, abrasi, gelombang ekstrem, atau puting beliung.

Doni mengilustrasikan mengenai industri yang dapat dibangun dalam menghadapi bencana gempa bumi. Korban sebagai besar disebabkan karena bangunan dan bukan gempa. Bangunan tahan gempa masih menjadi tantangan besar bagi sebagian besar masyarakat.

Di samping itu, dia juga mengingatkan bahwa tidak hanya bangunan rumah yang harus tahan terhadap gempa. Namun, juga shelter atau fasilitas umum yang dapat digunakan, seperti masjid atau jembatan umum.

Apabila melihat catatan gempa dan juga tsunami selama ini, Indonesia memiliki sejarah yang berulang. Misal kejadian gempa Aceh. Doni menyampaikan ada bukti bahwa tsunami telah ada sejak 7.500 tahun silam yang dapat diketahui dari lapisan paleotsunami di gua Eek Leuntik, Aceh Besar.

Belajar dari tsunami Selat Sunda 2018 di wilayah Pandeglang, khususnya Tanjung lesung, masyarakat di pinggir pantai terselamatkan karena gugusan pohon yang menghambat terjangan tsunami.

"Benteng alam terbaik yaitu vegetasi, seperti mangrove yang ditanam paling pinggir. Cemara udang pada lapis kedua dan pule atau ketapang pada lapis ketiga,"jelasnya.

Pada kesempatan itu, Doni berbagi mencontohkan salah satu jenis pohon yang sangat istimewa untuk banteng tsunami yaitu Palaka. Pohon yang istimewa ini karena penyemaian terjadi secara alami.

“Pohon ini sudah setinggi 6 meter dalam 1 tahun. Kita selamatkan pohon ini sebagai banteng alam,” tambah Doni.

Sementara itu, bencana yang datang silih berganti itu sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dan juga negara lain di Asia, terkait mitigasi dan penanganan bencana.

Paradigma tentang kebencanaan harus dipahami secara kolektif bahwa bencana merupakan urusan bersama, dengan peran aktif dari kelima unsur Pentaheliks (pemerintah, akademisi, lembaga usaha, komunitas, dan media massa).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bnpb bencana alam Doni Monardo
Editor : Andya Dhyaksa
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top