Polusi Udara Rugikan Dunia hingga US$8 miliar per Hari

Polusi udara terus menjadi ancaman bagi kesehatan miliaran orang setiap hari, meskipun sudah ada upaya dari beberapa negara dan perusahaan untuk mendorong penggunaan energi terbarukan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  12:26 WIB
Polusi Udara Rugikan Dunia hingga US$8 miliar per Hari
Polusi udara di China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Polusi udara terus menjadi ancaman bagi kesehatan miliaran orang setiap hari, meski sudah ada upaya dari beberapa negara dan perusahaan untuk mendorong penggunaan energi terbarukan.

Laporan terbaru Greenpeace menyebutkan polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil telah menyebabkan kerugian ekonomi dunia hingga US$8 miliar per hari.

Greenpeace Southeast Asia bekerjasama dengan Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan, kerugian tersebut mempengaruhi sekitar 3,3% dari produk domestik bruto global atau sekitar US$2,9 triliun per tahun.

China, AS, dan India menanggung kerugian ekonomi tertinggi dari polusi yang terus membumbung tinggi, masing-masing mencapai sekitar US$900 miliar, US$600 miliar dan US$150 miliar per tahun.

"Setiap tahun, polusi udara dari bahan bakar fosil memakan korban jutaan nyawa, meningkatkan risiko stroke, kanker paru-paru dan asma, serta menyebabkan kerugian triliunan dolar," kata Minwoo Son, juru kampanye udara bersih di Greenpeace Asia Timur, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (12/2).

Padahal, tambahnya, masalah penggunaan energi ini sudah ada solusinya, yakni dengan beralih ke sumber energi terbarukan, melarang operasional mobil diesel dan bensin, dan membangun transportasi umum.

Pembakaran batu bara, minyak dan gas menyebabkan masalah kesehatan, yang berpotensi menyebabkan 4,5 juta kematian prematur di seluruh dunia setiap tahunnya.

Greenpeace mencatat, 40.000 anak meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka karena paparan partikel debu halus yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer.

"Diperlukan penutupan infrastruktur batubara, minyak dan gas eksisting dan bertransisi ke energi terbarukan untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim," kata Greenpeace.

Laporan Oxford Economis yang dirilis pada November lalu menuturkan bahwa dengan tidak adanya upaya untuk mengekang emisi gas rumah kaca, suhu di bumi dapat menghangat 2 derajat celcius pada tahun 2050, serta berpotensi memangkas PDB global sebesar 2,5% menjadi 7,5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polusi udara

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top