Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Panik Virus Corona Membuat Pasok Masker dan Pembersih Tangan di Asia Langka

Masker wajah dan pembersih tangan menjadi barang yang wajib dimiliki masyarakat dari Hong Kong hingga Jepang karena virus mematikan yang menyebar ke seluruh Asia. Namun kini, untuk mendapatkan barang antisipasi penyebaran penyakit tersebut sangat sulit.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 Januari 2020  |  15:40 WIB
Penumpang yang mengenakan masker terlihat di area menunggu kereta ke Wuhan di Stasiun Kereta Api Barat Beijing, menjelang Tahun Baru Imlek China, di Beijing, 20 Januari 2020. -  REUTERS / Stringer
Penumpang yang mengenakan masker terlihat di area menunggu kereta ke Wuhan di Stasiun Kereta Api Barat Beijing, menjelang Tahun Baru Imlek China, di Beijing, 20 Januari 2020. - REUTERS / Stringer

Bisnis.com, JAKARTA  - Masker wajah dan pembersih tangan menjadi barang yang wajib dimiliki masyarakat dari Hong Kong hingga Jepang karena virus mematikan yang menyebar ke seluruh Asia.

Namun kini, untuk mendapatkan barang antisipasi penyebaran penyakit tersebut sangat sulit.

Dilansir melalui Bloomberg, apotik di seluruh Hong Kong telah menjual masker yang bertujuan mencegah infeksi virus dan mendorong pihak berwenang untuk menyampaikan bahwa akan ada lebih banyak kiriman yang akan tiba pekan depan.

Sementara itu, Taiwan memberlakukan larangan ekspor masker wajah selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan pasokan domestik yang cukup.

Di Makau, pihak berwenang mengatakan penjualan akan dibatasi hingga 10 masker untuk penduduk atau pekerja tamu resmi yang dapat menunjukkan kartu identitas yang berlaku.

"Kami sadar ada kepanikan pembelian di pasar. Kami sampaikan bahwa batch masker wajah baru akan tiba pekan depan," uhar Matthew Cheung, pejabat tertinggi kedua Hong Kong, dikutip melalui Bloomberg, Jumat (24/1/2020).

Dewan Konsumen Hong Kong, otoritas kesejahteraan konsumen independen di kota itu, mendesak para pedagang untuk tidak menaikkan harga masker hingga secara keterlaluan, berdasarkan laporan Radio Television Hong Kong.

Mencuci tangan secara rutin, menutupi wajah, dan menghindari keramaian menjadi garis pertahanan utama ketika penduduk Asia berusaha menghindari penilaran virus corona baru, yang di China sendiri telah menewaskan 25 orang dan menginfeksi lebih dari 800 orang.

Penyebaran penyakit yang cepat ini telah mendorong pemerintah China untuk membatasi perjalanan bagi setidaknya 30 juta orang dan membatasi perayaan Tahun Baru Imlek pada akhir pekan ini.

Pasien dengan infeksi virus corona telah ditemukan di seluruh Asia, termasuk Singapura, Vietnam, Hong Kong, Makau, Jepang dan Korea Selatan.

Di Apotek Cheung Tai di distrik keuangan Hong Kong, persediaan masker dan pembersih tangan habis sejak dua hari lalu, dan sarung tangan medis laris terjual, menurut seorang karyawan yang hanya memberi nama belakangnya Lee.

Pada saat yang sama, pabrik-pabrik yang membuat produk kesehatan itu tutup selama liburan Tahun Baru Imlek, yang artinya pasokan baru harus menunggu beberapa hari lagi.

Di sisi lain, pabrik-pabrik yang masih buka meningkatkan produksinya.

Di Jepang, pabrik yang memasok produk perawatan pribadi ke Unicharm Corp telah bekerja 24 jam sejak 17 Januari setelah pesanan meningkat sepuluh kali lipat, menurut juru bicara Hitoshi Watanabe.

Juru bicara 3M Co., yang berbasis di AS, mengatakan bahwa mereka meningkatkan output dan bekerja dengan distributor untuk memastikan persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan dan memasok pelanggan yang ada.

Permintaan akan cenderung meningkat karena konsumen di seluruh wilayah Asia menumpuk persediaan mereka.

Di China, raksasa e-commerce, Alibaba Group Holding menjual 80 juta masker wajah melalui situs web Taobao pada 20-21 Januari.

Di Jepang, Li Xing dan Lei Xiaoqiang menghabiskan lebih dari 6.000 yen di Welcia, sebuah toko obat di Tokyo, untuk membeli tujuh kotak masker wajah dan paket lainnya untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Para wisatawan dari China itu mengunjungi kota Tokyo selama empat hari, setelah meninggalkan Shenzhen di China selatan.

"Di negara saya, di rumah saya, mereka tidak bisa membeli masker wajah karena sudah terjual habis pemerintah telah mengatakan kepada semua orang untuk memakainya," kata Lei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus corona
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top