Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Tak akan Pangkas Tarif Impor Hingga Pemilihan Presiden November

Tarif impor barang-barang China ke Amerika Serikat kemungkinan akan tetap berlaku hingga pemilihan presiden AS berakhir, dan pengurangan akan bergantung pada kepatuhan China dengan ketentuan-ketentuan perjanjian perdagangan fase pertama.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  07:12 WIB
Perang dagang AS China - istimewa
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Tarif impor barang-barang China ke Amerika Serikat kemungkinan akan tetap berlaku hingga pemilihan presiden AS berakhir, dan pengurangan akan bergantung pada kepatuhan China dengan ketentuan-ketentuan perjanjian perdagangan fase pertama.

Kedua belah pihak memiliki pemahaman bahwa tidak lebih dari 10 bulan setelah penandatanganan perjanjian di Gedung Putih pada Rabu (15/1), AS akan meninjau kemajuan dan berpotensi mempertimbangkan pemotongan tambahan pada tarif yang mempengaruhi barang impor China yang nilainya mencapai US$360 miliar, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Periode peninjauan, yang diperkirakan tidak disebutkan dalam teks kesepakatan, dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi pemerintah Trump untuk memverifikasi kepatuhan China terhadap ketentuan perjanjian tersebut. Kesepakatan tersebut tidak akan mempengaruhi separuh dari tarif 15 persen pada sekitar US$120 miliar barang impor China yang diumumkan pada bulan Desember dan masih akan dilanjutkan.

Para pejabat telah mengatakan akan merilis teks perjanjian setebal 86 halaman setelah penandatanganan dan membantah bahwa ada rencana untuk memangkas tarif lebih lanjut.

"Satu-satunya komponen non-publik dari perjanjian tersebut adalah lampiran rahasia dengan jumlah pembelian terperinci, yang telah dijelaskan sebelumnya," Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan dalam tanggapan bersama yang dikirim melalui email.

"Tidak ada perjanjian lisan atau tertulis lainnya antara AS dan China tentang masalah ini, dan tidak ada kesepakatan untuk pengurangan tarif di masa depan," lanjut mereka, seperti dikutip Bloomberg.

Pejabat pemerintahan Trump telah mengecilkan segala dampak negatif pada tarif terhadap ekonomi AS Dalam sebuah kolom Wall Street Journal yang diterbitkan pada hari Selasa, penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan para ekonom arus utama termasuk di Federal Reserve gagal untuk memperhitungkan dengan tepat efek ekonomi menguntungkan dari bea masuk tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah juga telah bekerja dengan cara lain untuk meletakkan dasar bagi kesepakatan dan negosiasi tentang masalah-masalah sulit seperti sistem subsidi industri China yang sangat besar, yang diharapkan akan dimasukkan dalam tahap pembicaraan berikutnya.

Pada hari Senin, pemerintahan Trump mencabut label China sebagai manipulator mata uang. AS, Uni Eropa, dan Jepang juga mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan tentang usulan aturan global baru untuk subsidi industri dalam suatu langkah yang akan meningkatkan tekanan pada Beijing atas masalah ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top