Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inmemoriam Ciputra: Pengagum Kejujuran Itu Telah Tiada…

Pak Ci - panggilan akrab Ciputra - pernah galau "hebat" dalam berbisnis, yakni ketika hendak membangun Proyek Ancol II, yang lebih populer sebagai Dunia Fantasi. Pasalnya, perencanaannya sudah final, tapi terbentur soal pembiayaan. Bahkan, konsultannya diambil dari Amerika yang sukses merancang Disneyland yang sangat terkenal itu.
Syafrizal Dahlan
Syafrizal Dahlan - Bisnis.com 28 November 2019  |  11:07 WIB
Ciputra, Pendiri Ciputra Group menyampaikan sambutan pada acara Artpreneur Talk 2018 yang mengangkat tema Converting Millenial Into Brand Lovers di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Rabu (14/2). - JIBI/Dedi Gunawan
Ciputra, Pendiri Ciputra Group menyampaikan sambutan pada acara Artpreneur Talk 2018 yang mengangkat tema Converting Millenial Into Brand Lovers di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Rabu (14/2). - JIBI/Dedi Gunawan

Pak  Ci - panggilan akrab Ciputra - pernah galau "hebat" dalam berbisnis, yakni ketika hendak membangun Proyek Ancol II, yang lebih populer sebagai Dunia Fantasi. Pasalnya, perencanaannya sudah final, tapi terbentur soal pembiayaan. Bahkan, konsultannya diambil dari Amerika yang sukses merancang Disneyland yang sangat terkenal itu.

Kegalauan Pak Ci (almarhum) bermula ketika Bank Dagang Negara (BDN) -sekarang sudah merger menjadi Bank Mandiri- tidak berkenan memberikan kredit. Padahal, bank inilah yang mendanai Proyek Ancol I atau Taman Impian Jaya Ancol.

Pak Ci mencoba mengajukan kredit ke sejumlah bank lain. Semua menolak. Pak Ci galau hebat.

Dalam keadaan buntu itulah ia memberanikan diri berkirim surat kepada Gubernur Bank Indonesia (waktu itu) Rachmat Saleh. Isi suratnya lebih bersifat "curhat" daripada proposal, meski pada alinea terakhir terdapat kalimat yang meminta bantuan agar dicarikan jalan keluar pembiayaan Dufan.

Ini semua diceritakan begawan properti itu saat saya mewawancarainya untuk dimuat sebagai testimoni di dalam  biografi Rachmat Saleh: Legacy Sang Legenda Kejujuran.

Buku ini saya tulis bersama Iwan Qodar Himawan, I Made Suardjana Sanggra, Hari Gunarto dan Abdul Azis. Buku tersebut diluncurkan Persatuan Wartawan Indonesia pada puncak Hari Pers Nasional 9 Februari 2017 di Padang.

Pak Ci menanti jawaban surat itu masih dalam suasana galau. Bukan saja karena ia belum pernah bertemu muka secara langsung dengan Rachmat Saleh, tapi juga karena teman-temannya sesama pengusaha melukiskan bahwa Gubernur Bank Sentral itu angker. Juga "tukang marah". dan antisogok-suap.

Dalam penantian yang terasa panjang sekali itu, tiba-tiba datang balasan tiga hari sesudah surat itu dikirim. Pak Ci diminta menghadap Gubernur BI.

Beberapa tahun terakhir, penampilan Pak Ciputra selalu memakai topi fedora. Saat menjenguk Rachmat Saleh si RS Abdi Waluyo Menteng pada Januari 2017, dia sengaja membawa dua topi. Satu dikenakan Ciputra, satu lagi ditawarkannya kepada Rachmat Saleh yang langsung  memakainya, seperti tampak dalam foto. Topi inilah satu-satunya "hadiah" Pak Ci yang tidak ditampik Rachmat Saleh./Dok. Syafrizal Dahlan

Beban Berat Sirna

Taipan kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931 ini tidak serta merta senang. Ia mengira, paling-paling hanya akan bertemu bawahan sang gubernur. Paling banter disambut basa-basi dan diminta berusaha lagi meminta kredit ke bank lain.

Ia mengisahkan, pada masa itu seorang pengusaha kenal dan punya kartu nama direktur bank saja sudah merupakan kebanggaan luar biasa. Gubernur BI kala itu adalah boss para bankir. Ada yang menyebut "mbahnya bankir".

Pada hari yang ditentukan, Pak Ci pun dengan tim lengkap -termasuk konsultan asal Amerika- datang ke Bank Indonesia dengan perasaan campur aduk. Terlebih, yang menyambut bukan Rachmat Saleh, melainkan Direktur (sekarang Deputi Gubernur) Kredit BI, Kamardi Arif.

Setelah basa-basi, mereka dibawa ke ruang tunggu direksi (sekarang Dewan Gubernur).

Pak Ci seakan terlompat dari tempat duduknya saat diminta masuk ke ruang kantor gubernur. Tidak hanya Rachmat Saleh yang ada di situ, tapi juga Kamardi Arif.

Di ruang yang sama ada pula Direktur Utama Bank BNI Somala Wiria,  Direktur Kredit Teuku Abdullah dan Kepala Divisi Kredit Widigdo Sukarman.

"Saya sulit melukiskan perasaan saya waktu itu dengan kata-kata yang pas. Saya lega. Juga senang dan bahagia. Juga bangga. Lebih dari itu, meski belum jelas akankah persoalan pembiayaan Ancol II mendapat solusi atau tidak, tapi diterima gubernur dan didampingi semua penguasa kredit seperti itu, rasanya beban berat yang menghimpit saya langsung sirna," kenang Pak Ci.

Jenazah Ir. Ciputra disemayamkan di Singapura sebelum diberangkatkan ke Jakarta, Rabu (27/11/2019)./Dok. Syafrizal Dahlan

Ancol II Dibangun

Seperti biasa, dengan mimik penuh wibawa dan pipa cangklong di tangan, Rachmat Saleh membuka pertemuan dalam nada tegas.

Putra Madura kelahiran 1 Mei 1930 ini pun meminta Ciputra memaparkan rencana lengkap Proyek Ancol II sehingga layak memperoleh kredit bank negara. Si konsultan bule pun diminta bicara.

Pada akhir pertemuan, Rachmat Saleh berujar, "Karena proyek ini bermanfaat bagi rakyat banyak untuk mendapatkan hiburan murah, seperti halnya Ancol I, kami akan mempertimbangkan permohonan kredit Saudara Ciputra. Dan apabila Pak Somala menilai proyek ini layak mendapat kredit, saya minta Saudara agar menjaga kepercayaan itu dengan menunaikan kewajiban sebagaimana mestinya, yaitu membayar kembali tepat waktu."

Tak lama kemudian, Ancol II pun dibangun.

 "Kredit itu berjangka 7 tahun. Tapi, sebagai penghormatan saya kepada Pak Rachmat Saleh, pada tahun ketiga sudah saya lunasi. Dan harap Anda catat, Demi Allah... tidak satu sen pun tanda terima kasih untuk Pak Rachmat. Beliau terlalu jujur, dan karena itu terpikirkan pun tidak untuk mengasih hadiah padanya. Integritas Pak Rachmat itu teramat tinggi, jauh lebih tinggi dari kita rata-rata orang Indonesia," katanya.

Tentu semua pihak maklum bahwa para pengusaha seperti Ciputra lah yang paling paham 100 persen mana pejabat jujur. Siapa yang setengah jujur. Mana yang tidak jujur. Dan juga para pengusaha yang sangat mafhum mana atau siapa pejabat yang rakus-tamak alias biang koruptor.

Pak Ci melanjutkan, andai saja pejabat negara sekelas Rachmat Saleh kejujuran dan pengabdiannya, niscaya Negeri ini sudah jauh lebih maju dan sejahtera.

Jenazah almarhum Ir. Ciputra disemayamkan di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2019).  JIBI/Bisnis/Nuru; Hidayat

Pengagum Kejujuran

Silaturahim Pak Ci dan Rachmat Saleh terbilang langgeng. Bahkan, sampai akhir hayat mereka. Hubungan keduanya seperti perkawanan. Tapi, Pak Ci justeru melihat Rachmat Saleh sebagai seorang bapak yang jujur dan adil, padahal umur mereka cuma berselisih satu tahun.

Rachmat Saleh kelahiran 1 Mei 1930 dan berpulang pada 11 Februari 2017. Sementara, Ciputra lahir pada 24 Agustus 1931 dan meninggal tanggal 27 November 2019.

Hanya saja, "perkawanan" mereka berbeda dengan keakraban pengusaha dan pejabat yang sarat pamrih dan kepentingan. Lazimnya, perkoncoan seperti ini "berakhir" begitu pejabatnya menjadi mantan atau berhenti.

Ketika Rachmat Saleh menderita sakit, sekitar dua bulan menjelang ajal menjemputnya, Pak Ci beberapa kali menjenguk di rumah sakit atau kediamannya.

Saat diketahui Rachmat Saleh mengalami gangguan pencernaan, dia menyarankan agar berobat kepada seorang dokter ahli gastronomi di Singapura yang kebetulan orang Tasikmalaya.

Tidak mudah meyakinkan Rachmat Saleh untuk mengobati sakitnya di Singapura. Semula, ia menduga ke Singapura adalah atas tanggungan Bank Indonesia, ia kontan menolak sambil berujar, "Saya ini pensiunan. Saya tidak berhak lagi dibiayai negara atau uang rakyat."

Setelah dijelaskan bahwa pembiayaan ditanggung YKKBI, dan semua pensiunan BI berhak mendapatkannya, tidak serta merta ia menerima. Butuh beberapa hari bagi keluarga dan para sahabat untuk meyakinnya bahwa biaya ke Singapura murni dari YKKBI dan tidak satu sen pun dari BI atau pihak lain.

"Baiklah, kalau begitu adanya. Tapi saya ingatkan, jangan sampai siapa pun melanggar sumpah jabatan hanya karena ingin membantu pengobatan saya," kata Rachmat kepada keluarga dekat dan sahabat. Kebetulan penulis juga mendengar langsung ucapan lirih sambil menahan sakit itu.

Gubernur BI (waktu itu) Agus Martowardoyo dan Deputi Gubernur Perry Warjiyo (sekarang Gubernur BI) sampai berlinang air mata mendengar hebatnya integritas mantan bos besar mereka itu. Agus bahkan merayakan ulang tahunnya ke 61 tanggal 24 Februari 2017 di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta, sekaligus melepas keberangkatan Rachmat Saleh ke Singapura.

Pak Ci juga saya kabari perihal Sumpah Jabatan itu. "Rizal, saya tidak mudah kagum pada siapa saja. Tapi saya adalah pengagum orang jujur. Hanya prestasi luar biasa dan kejujuran yang benar-benar saya kagumi. Karena itulah saya menjadi pengagum Pak Rachmat Saleh," tutur Ciputra dengan mimik sangat serius.

Jenazah almarhum Ir. Ciputra disemayamkan di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2019).  JIBI/Bisnis/Nuru; Hidayat

Menolak Bantuan Keuangan

Pak Ci melukiskan hubungan persahabatannya dengan Rachmat Saleh didasari ketulusan yang tinggi. Tidak mengherankan jika hampir tiap hari ia mengecek kondisi Rachmat Saleh melalui pesan singkat SMS atau menelepon langsung  ke penulis. Berkali-kali ia berusaha menawarkan bantuan keuangan untuk pengobatan Rachmat Saleh, tapi selalu ditampiknya dengan marah.

Saat Rachmat Saleh berpulang pada 11 Februari, Pak Ci tidak datang melayat karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkannya untuk meninggalkan tempat tidur. Tapi, telepon saya berkali-kali dihubungi Pak Ci untuk menanyakan penyelenggaraan jenazah sampai pemakaman.

Sekitar dua pekan kemudian, Pak Ci mengundang saya ke kediamannya. Hampir satu jam kami berbincang. Topiknya pastilah tentang kehebatan Rachmat Saleh. Yang mengejutkan saya, Pak Ci masih menyimpan kartu keanggotaan (membership)  golf atas nama Rachmat Saleh.

Ciputra tidak berani memberikan kepada yang bersangkutan. Maka, dia simpan saja puluhan tahun. Tadinya, Ciputra meniatkan sebagai hadiah untuk Rachmat Saleh. Tapi, daripada putus persahabatan gara-gara hadiah membership itu, Pak Ci menyimpan saja kartu keanggotaan yang sekarang mungkin sudah berharga miliaran rupiah itu.

Hal lain yang juga mengejutkan saya adalah betapa Pak Ci begitu memikirkan keluarga Rachmat Saleh sepeninggal Sang Legenda Kejujuran ini. Pak Ci sampai menyebut uang pensiunan yang mungkin tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Tapi, seperti halnya kartu keanggotaan golf, Pak Ci juga tidak berani membicarakan ihwal ini dengan isteri dan putra-putri Rachmat Saleh.

Sampai kemudian Pak Ci setengah berbisik berkata kepada penulis, "Begini Rizal, saya tulus ingin membantu keluarga Pak Rachmat. Kalau saya kasih uang, pasti mereka tolak dan akan menimbulkan kesan buruk selamanya. Itu tidak akan pernah saya lakukan. Saya minta tolong You, tapi jangan katakan kepada mereka sekarang, kalau seandainya nanti.. entah kapan.. jika keluarga Pak Rachmat ingin menjual tanah yang mereka tempati sekarang.. saya berjanji dengan You sebagai saksi... saya akan membeli dengan harga premium. Tapi sekali lagi, jangan sampai You bertanya pada isteri dan anak-anak Pak Rachmat soal tanah itu sekarang, karena itu akan menyakiti hati mereka. Nanti saja... kalau mereka mau jual.. saya yang beli dengan harga premium."

Sungguh suatu keinginan yang mulia. Itulah cara Pak Ci bersahabat. Begitulah cara Pak Ci memperlakukan tokoh kejujuran yang sangat dia kagumi.

Amanah Pak Ci tersebut, belum pernah saya utarakan kepada keluarga Rachmat Saleh. Terpaksa saya ungkap dalam tulisan obitori Ciputra ini, karena yang disampaikannya adalah sebuah amanah, meski pemberi amanah itu sudah tiada yang jasadnya kini disemayamkan di lantai 11 Gedung Ciputra Artpreneur. Pengagum kejujuran itu sudah tiada.

Chairman Ciputra Group, Ciputra saat menjawab pertanyaan mahasiswa baru dalam seminar wirausaha bertajuk Membangun Karakter Manusia Jaya, di Universitas Pembangunan Jaya Bintaro, Jakarta, Rabu (16/8/2017). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Pri-Nonpri

Menjadi tanda tanya bahwa persahabatan kedua anak bangsa ini begitu kental, padahal tidak sedikit kebijakan keberpihakan Rachmat Saleh yang dibuatnya sebagai Gubernur BI dua periode dan Menteri Perdagangan sangat pro pribumi.

Misalnya saja KIK/KMKP dan kredit investasi khusus pribumi dalam kerangka mengurangi ketimpangan ekonomi, utamanya kesenjangan antarpelaku usaha.

Apakah Pak Ci tidak merasa didiskriminasi oleh kebijakan pro pribumi Rachmat Saleh?

Jawaban Pak Ci panjang lebar.

Dia berkata dalam nada cukup tinggi, "Nomor satu, saya paham sekali bahwa Pak Rachmat Saleh itu adalah seorang nasionalis, atau tepatnya negarawan sejati. Beliau sama sekali tidak antinonpri atau warga atau pengusaha keturunan Tionghoa seperti saya, sehingga apa pun kebijakannya semata-mata adalah demi kepentingan bangsa dan negara. Saya yakin seyakin-yakinnya, tidak ada keputusan Pak Rachmat yang bersifat SARA atau didasari kebencian kepada kelompok tertentu. Nomor dua, Pak Rachmat Saleh harus dan mesti memacu saudara kita yang pribumi. Ekonomi timpang itu tidak bagus dilihat dari sudut mana pun. Kesenjangan itu tidak boleh dibiarkan. Kalau Pak Rachmat tidak sukses dengan KIK/KMKP dan macam-macam affirmative action itu, bisa-bisa Malari terjadi setiap bulan."

Sang Legenda Kejujuran dan Sang Pengagum Kejujuran sama-sama telah meninggalkan kita untuk selamanya. Keduanya meninggalkan legacy tak ternilai di bidang pengabdian masing-masing.

Legacy dan persahabatan mereka semestinya menginspirasi siapa saja! Semoga...

Syafrizal Dahlan, wartawan senior, penulis biografi Rachmat Saleh

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia ciputra ancol
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top