Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemasok Komponen Hentikan Produksi, Boeing 'Suntik Mati' Produksi Pesawat 747?

Triumph Group Inc., pemasok terbesar untuk program 747-8, mulai membersihkan pabrik dan melelang peralatan manufaktur secara daring yang dimulai pada Rabu (20/11/2019) sore.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 November 2019  |  07:46 WIB
Boeing 747-8 - Youtube
Boeing 747-8 - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA – Pabrik yang telah memproduksi komponen pesawat jumbo Boeing 747 di California Selatan melelang peralatan setelah mengakhiri aktivitas produksinya, berpotensi akan berakhirnya umur pesawat ikonik tersebut.

Triumph Group Inc., pemasok terbesar untuk pesawat 747-8, mulai membersihkan pabrik dan melelang peralatan manufaktur secara daring yang dimulai pada Rabu (20/11/2019) sore.

Pabrik yang terletak di Jack Northrop Avenue, Hawthorne, tersebut sebelumnya memproduksi untuk pesawat punuk setelah Pan American World Airways melakukan pemesanan awal pada tahun 1966.

Kecuali tanpa adanya kejutan penjualan, keputusan Triumph berhenti memproduksi 747 setelah bertahun-tahun mengalami kerugian akan memaksa Boeing untuk mempertimbangkan untuk ‘menyuntik mati’ produksi pesawat yang paling dikenal tersebut.

Meskipun perusahaan masih memiliki cukup pesanan untuk terus memproduksi pesawat untuk saat ini, raksasa kedirgantaraan ini pada akhirnya akan menghadapi persoalan yang sulit: apakah akan berinvestasi dalam membuat badan pesawat, aluminium dan bagian lain sendiri atau akhirnya mengakhiri produksi 747 setelah setengah abad.

Seluruh peralatan di pabrik Triumph akan dilelang, mulai dari gergaji yang ditawarkan mulai dari US$5 hingga mesin cetak otomatis yang digunakan untuk memukulkan paku rivet ke bagian badan pesawat. Penawaran untuk alat tersebut dimulai dari US$100.000, menurut RAAR Group USA Inc yang proses lelang.

 

Keputusan Produksi

Sampai saat ini, Boeing tidak mengatakan bahwa penutupan pabrik ini menandai akhir dari pesawat yang dijuluki "Queen of the Skies” tersebut. Produsen pesawat yang berbasis di Chicago ini sebelumnya mengeksplorasi rencana untuk mengambil alih pabrik tersebut, namun membatalkan rencana pada tahun 2016 di tengah lesunya penjualan.

"Kami terus membangun 747-8 untuk memenuhi tumpukan pesanan dan akan terus membuat keputusan yang tepat untuk menjaga lini produksi tetap sehat," kata juru bicara Boeing Paul Bergman dalam e-mail.

"Dengan slot produksi terisi untuk beberapa tahun ke depan, kami bekerja sama dengan pemasok kami untuk memenuhi komitmen pelanggan kami," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Pesawat jumbo jet tersebut membuka perjalanan internasional ke pasar konsumen massal ketika diperkenalkan pada tahun 1970, tetapi jet bermesin empat tidak disukai karena maskapai beralih ke model mesin kembar yang lebih efisien seperti Boeing 777 dan Airbus SE A350.

Versi kapal barang dari 747 memiliki daya tarik yang lebih besar karena hidung berengsel memungkinkan pengangkut kargo untuk memuat beban besar di depan seperti peralatan pengeboran minyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top