Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bom Bunuh Diri : Begini Cara Perekrut Menjerat Anak-Anak Muda Masuk Kelompok Radikal Destruktif

Selain menggunakan kata-kata kunci yang mempesona, kelompok radikal destruktif atau kelompok teror memiliki cara-cara khas dalam merekrut anggotanya.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 14 November 2019  |  11:35 WIB
Polisi menggeledah rumah terduga bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/2019). - Antara
Polisi menggeledah rumah terduga bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Selain menggunakan kata-kata kunci yang mempesona, kelompok radikal destruktif atau kelompok teror memiliki cara-cara khas dalam merekrut anggotanya.

Kata-kata itu di antaranya kata “thogut”, “jihad”, “menghapus dosa”, “menyelamatkan keluarga”, “bidadari” atau “surga”.

Selama ini beredar anggapan bahwa paham-paham jihad disebarkan melalui kegiatan-kegiatan pengajian.Namun, pengamat Al-Chaidar meluruskan anggapan tersebut.

Menurut Al-Chaidar, pengajian yang dilakukan kelompok ini bersikap tertutup, bukan pengajian yang terbuka seperti lazim dilihat masyarakat.

Dalam bahasa Fahlesa Munabari dari Pusat Kajian Komunikasi dan Keindonesiaan, pengajian dimaksud adalah taklim tertentu yang mengajarkan ideologi teror dengan memanipulasi logika anggota taklim.

“Ideologi itu disebarkan tidak dalam bentuk ancaman atau tekanan,” ujar Fahlesa.

Al-Chaidar menambahkan rekrutmen dalam pengajian tertutup itu bisa dilakukan melalui media sosial atau lewat perkenalan anggota.

“Anggota pengajian merekomendasikan anggota baru yang dikenalnya,” ujar Al-Chaidar.

Selanjutnya, ketika berada dalam kelompok tertutup itu, ideologisasi pun mulai dilakukan.

Hasilnya, seperti dikatakan Fahlesa, ketika pemahaman agama disampaikan secara salah kepada orang yang rentan maka mudah sekali terjadi aksi seperti aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan.

“Kategori rentan di sini termasuk orang-orang yang masih muda dan lemah iman atau lemah pemahaman yang benar soal agama,” ujar Fahlesa.

Seperti diketahui, Rabu (13/11/2019) pagi Polrestabes Medan diguncang aksi bom bunuh diri. RMN yang masih berusia 24 tahun ditengarai sebagai pelaku.

Pelaku yang termasuk dalam kelompok generasi Z atau Generasi Centennial ini diketahui memiliki saluran khusus di media berbagi video youtube. Salah satu unggahan video RMN memparodikan kondisi banjir di daerahnya dengan kehadiran dua pejabat.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bom bunuh diri Polrestabes medan
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top