Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

3 Tanda Keluarga Anda Terpengaruh Paham Radikal Destruktif, Ini Solusinya

Meski tak mudah untuk mengetahui apakah anggota keluarga kita terpengaruh paham-paham tersebut, setidaknya ada tanda-tanda yang bisa digunakan untuk mengidentifikasinya.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 14 November 2019  |  10:45 WIB
Petugas Kepolisian membawa empat orang usai melakukan penggeledahan di rumah terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan. - Antara
Petugas Kepolisian membawa empat orang usai melakukan penggeledahan di rumah terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Rabu (13/11/2019) pagi menunjukkan bahwa penyebaran paham-paham radikal yang negatif masih terjadi.

Meski tak mudah untuk mengetahui apakah anggota keluarga kita terpengaruh paham-paham tersebut, setidaknya ada tanda-tanda yang bisa digunakan untuk mengidentifikasinya.

Pengamat terorisme Al-Chaidar menyebutkan setidaknya ada tiga tanda yang menyiratkan pengaruh pemikiran radikal destruktif.

Pertama, Chaidar menyebut adanya perubahan sikap pada orang yang direkrut atau terpengaruh paham tersebut. Korban atau orang yang terpengaruh menjadi asosial.

 Kedua, korban atau orang yang terpengaruh mengalami perubahan pola pikir. “Menjadi radikal,” ujar Al-Chaidar kepada Bisnis.com, Rabu (13/11/2019) malam.

 “Ketiga, ada kebencian terhadap pemerintah,” ujarnya.

Siapa pun yang sedang dipengaruhi atau menjadi target perekrutan kelompok ini semestinya bisa melakukan upaya untuk tidak terus terjerumus. Salah satunya, menurut Al-Chaidar, dengan memperbanyak ilmu agama sebagai pembanding.

Di luar korban, keluarga juga memiliki peran penting tersendiri agar anak muda tidak terseret dalam paham ini. Keluarga bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegah anggota keluarga terperosok dalam paham radikal destruktif.

Al-Chaidar menyebut keluarga dapat memproteksi anggota keluarga dengan senantiasa memberi dukungan dan kasih sayang.

Halnya menjadi lain jika anggota keluarga sudah terpengaruh paham tersebut. Detoksifikasi racun-racun pemikiran harus dilakukan. “Detoksnya harus dengan ulama yang ahli,” ujar Al-Chaidar.

Sementara menurut Fahlesan Munabari dari Pusat Kajian Komunikasi dan Keindonesiaan, untuk menghindari terperosok ke dalam paham ini, anak muda dan masyarakat harus saling peduli, termasuk dengan sekitarnya.

Sementara untuk kasus anak atau anggota keluarga yang sudah terpengaruh, langkah yang bisa diambil keluarga akan sangat tergantung dari level terpengaruhnya korban paham radikal destruktif ini.

“Kalau sudah parah, ya mau gak mau segera laporkan ke yang berwajib,” ujar Fahlesa.

Meski begitu dia menekankan bahwa tindankan preventif jauh lebih penting, termasuk langkah preventif yang dijalankan pihak berwenang.

Fahlesa meyakini pihak berwenang sudah mampu mengidentifikasi dan memiliki data sel-sel para penyebar paham destruktif ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bom bunuh diri Polrestabes medan
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top