Meski Dihalangi Sanksi Trump, Huawei Tetap Optimistis Penjualan Meningkat

Optimisme ini menunjukkan upaya administrasi Trump untuk menahan pertumbuhan Huawei mungkin tidak efektif.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 06 November 2019  |  12:00 WIB
Meski Dihalangi Sanksi Trump, Huawei Tetap Optimistis Penjualan Meningkat
Huawei 5T - repro

Bisnis.com, JAKARTA - Huawei Technologies Co. memperkirakan pengiriman smartphone akan tumbuh 20% tahun depan bahkan jika produknya dilarang menggunakan perangkat lunak Google terbaru.

Optimisme ini menunjukkan upaya administrasi Trump untuk menahan pertumbuhan Huawei mungkin tidak efektif.

Direktur Strategi Huawei, Will Zhang, mengungkapkan mereka akan mengandalkan pasar domestik berskala besar dan memanfaatkan perangkat lunak internal.

"Mendatangkan perangkat keras untuk memproduksi smartphone tidak akan menjadi masalah karena adanya ketersediaan pasokan global," ujar Zhang, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (6/11/2019).

Zhang mengatakan pada masa lalu Huawei menetapkan satu target untuk pengiriman smartphone, tetapi sekarang karena meningkatnya ketidakpastian di pasar, mereka mengembangkan tiga tujuan bisnis berbeda yang mencakup skenario kasus terbaik dan terburuk.

Dalam skenario moderat, pengiriman smartphone dapat naik sekitar 20% tahun depan. Proyeksi dengan skenario terbaik memperkirakan pertumbuhan pada kisaran 40%.

"Bahkan untuk skenario yang pesimistis, kami melihat pertumbuhan kecil," kata Zhang.

Huawei, yang mendapat sekitar setengah dari pendapatannya dari penjualan smartphone-nya, sejauh ini berhasil mempertahankan laju pertumbuhan yang patut ditiru meskipun dalam situasi yang sulit.

Perusahaan memperoleh pangsa pasar melawan Apple dan Samsung pada kuartal ketiga dengan memperluas pengiriman smartphone 29%.

Di pasar dalam negeri, pengiriman melonjak 66% pada kuartal ketiga tetapi hanya naik sekitar 18% di luar negeri, menurut Canalys.

Huawei membukukan lonjakan 24% dalam pendapatan dalam sembilan bulan pertama 2019, didorong oleh lonjakan 26% dalam pengiriman smartphone menjadi 185 juta unit.

Sepanjang tahun ini, produsen smartphone terbesar di dunia setelah Samsung Electronics Co. tersebut dihadapi dengan krisis untuk bertahan di industri, sejak Washington melarangnya membeli komponen dan perangkat lunak utama dari AS tanpa lisensi khusus.

Larangan tersebut berlaku untuk sistem operasi Android Google, alat desain semikonduktor dari Synopsys Inc. dan Cadence Design Systems Inc. dan chip frekuensi radio yang dibuat oleh Qorvo dan Skyworks.

Sanksi tersebut mengancam merusak bisnis smartphone Huawei, yang memiliki volume pengirimman dua kali lebih banyak daripada Apple Inc. dan menghambat kemampuannya untuk membuat perangkat jaringan generasi kelima.

"Ada banyak cara bagi mitra AS kami untuk menemukan solusi global, daripada mengirim dari satu sumber yang berbasis AS," kata Zhang di kantor pusat Huawei di Shenzhen.

Sebagai perushaan teknologi terbesar China, Huawei menjadi aspek sentral dari negosiasi sensitif yang diharapkan dapat meredakan ketegangan perdagangan dengan AS.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menyatakan optimisme bahwa AS akan mencapai kesepakatan perdagagan fase pertama dengan China bulan ini.

Dia juga menambahkan bahwa Washington akan menerbitkan lisesi untuk kebutuhan perusahaan AS menjualan komponen ke China, dalam waktu dekat.

Hingga saat itu, blacklist AS memberikan tekanan dan ketidakpastian pada raksasa jaringan China tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
huawei

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top